Gunungan Sampah Bikin Masalah

KBRN, Yogyakarta : Aroma tidak sedap dari timbunan sampah di depan pintu gerbang Depo Tridadi Sleman, merasuk ke dalam rongga hidung.

Setiap malam hari, bau sampah yang tidak terpilah akibat aktivitas pembuangan liar itu, tercium hingga jarak dua kilometer jika terbawa hembusan angin.

Mulai Jumat (18/12) lalu, aktivitas bongkar-muat sampah di tempat tersebut terhenti, sehingga gerbang depo digembok dari luar. 

Namun, kantong plastik aneka warna berisi sampah terus berdatangan saat malam hari dan makin menumpuk, tanpa diketahui siapa yang membuang.

Jelas saja, hal itu membuat lingkungan di sekitarnya nampak semakin kotor dan kumuh.

Tutupnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, sebagai tujuan akhir pengangkutan sampah menjadi pemicunya. Biang keladinya karena volume sampah yang melebihi daya tampung.

"Sampah di depo sudah penuh itu," kata Kepala UPTD Pelayanan Persampahan Sleman, Sri Restuti Nur Hidayah di kantornya, Senin (21/12/2020).

Timbunan sampah tidak hanya terlihat di Depo Tridadi, kondisi yang sama juga terjadi pada 12 depo lain yang dikelola Pemkab Sleman.

Puluhan sopir truk sampah yang tersebar di masing-masing depo, sudah diminta mengkondisikan jasa pengangkut sampah swasta, agar menunda pengambilan sampah di masyarakat.

"Moga-moga TPST Piyungan bisa segera beroperasi, sehingga pembuangan sampah bisa jalan," ucapnya.

Peran Tokoh Masyarakat

Per hari, volume sampah di wilayah Sleman mencapai 500 meter kubik, rata-rata berasal dari aktivitas rumah tangga, hotel, restoran dan rumah sakit.

Namun, yang terkelola dengan baik, baru sekitar 25 sampai 30 persen saja lewat 200 bank sampah, tersebar di setiap kapanewon (kecamatan).

Di luar itu, sampah hasil produksi rumah tangga juga yang berasal dari sumber lain langsung dibuang ke TPST Piyungan.

Ketua Jejaring Pengelolaan Sampah Kabupaten Sleman Haryadi mengakui, belum semua masyarakat mau mengelola sampah secara mandiri, dengan metode pemilahan. 

"Saya pengen sekali tutupnya TPST Piyungan yang sering terjadi ini menjadi pelajaran," katanya.

Maka, peran tokoh masyarakat mulai dari lurah, dukuh, hingga ketua rt dan rw, sangat penting untuk memberi penyadaran.

"Jujur saja, masyarakat itu kalau mau melakukan kegiatan sudah siap, tetapi butuh suport dari pemangku kepentingan," kata Haryadi. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00