FOKUS: #KASUS DANA BANSOS

Omnibus Law Berpotensi Munculkan Titik Kemacetan Lalu Lintas

KBRN, Sleman : Undang-undang Cipta Kerja atau yang dikenal dengan Omnibus Law berpotensi membuat titik kemacetan lalu lintas.

Hal ini, Menurut Besar Transportasi Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM, Prof. Ahmad Munawar, lantaran dihilangkannya Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALALIN) dalam UU tersebut. Amdal Lalin, kata dia, kemudian hanya dimasukkan dalam pembahasan AMDAL yang lebih sederhana untuk mempercepat proses perizinan.

Namun, ia menilai hal ini akan membuat investor mengabaikan analisis dampak lalu lintas dan menimbulkan kemacetan di titik-titik investasi mereka.

Seperti di area mall, hotel, maupun fasilitas publik lainnya, yang bahkan selama ini dengan aturan yang ada sudah sering diabaikan.

“Penghitungan fasilitas parkir, pintu masuk dan keluar bangunan, serta pengaturan arus lalu lintas di sekitarnya sangat diperlukan untuk mencegah kemacetan,” jelasnya kepada RRI, Sabtu (10/10/2020).

Sementara itu, Dosen Lingkungan Hidup UGM, Wahyu Yun Santoso mengatakan, penyederhanaan perizinan yang diangkat dalam UU Cipta Kerja justru akan menimbulkan penyalahgunaan kepentingan atau hukum.

Hal ini disampaikannya dalam webinar Urun Rembug PSLH UGM, UU Cipta Kerja dan Masa Depan Lingkungan Indonesia yang digelar pada Sabtu (10/10/2020).

Menurutnya, ada inkonsistensi karena analisis dampak lingkungan dan resiko memiliki pendekatan yang berbeda. Namun, UU ini mau tidak mau sudah disahkan oleh DPR dan tinggal menanti saja. Untuk kemudian nantinya bisa diajukan judicial review di MK karena UU ini dinilai menyalahi konstitusi.

Sementara bagi para pegiat lingkungan di daerah menurutnya harus meningkatkan kapasitas dan kompetensi penguatan di aspek hilir. Terutama dalam pengawasan dan menyampaikan laporan pemantauan dengan mempublikasi di media.

“Penyederhanaan berbasis resiko itu tdk sama dengan simplifikasi dari akibat dampak lingkungan yg bisa terjadi,” pungkasnya. (par/ryt/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00