Polusi Gas Buang Kendaraan Jadi Ancaman Serius di Indonesia

Mobil berbahan bakar fosil rentan memicu polusi udara dari emisi gas buangnya

KBRN, Yogyakarta : Pemerintah diminta menyikapi dampak polusi udara, yang menjadi ancaman serius di Indonesia pada tahun 2045.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Profesor Agus Taufik Mulyono melihat tren urbanisasi di perkotaan yang cenderung meningkat, memicu tingginya penggunaan kendaraan bermotor penyebab polusi udara, akibat keluarnya emisi gas buang.

Ketua Umum MTI Profesor Agus Taufik Mulyono

Jika pemerintah tidak mengambil tindakan dan memilih untuk membiarkan hal ini, maka efek buruknya akan sangat terasa di tahun 2045 mendatang.

”Saat itu, penduduk kita sudah mencapai 318,7 juta orang, dimana 70 persen senang hidup di kota, nah ini pekerjaan rumah kita,” kata Profesor Agus, dalam Webinar Permasalahan Polusi Udara di Perkotaan, yang diselenggarakan Pustral UGM, Selasa (29/9/2020).

Tentang dampak buruk polusi udara di perkotaan, bagi kesehatan masyarakatnya, dijelaskan Yanri Wijayanti Subronto, Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (F-KKMK) UGM.

Infeksi pernafasan menurutnya, menjadi gangguan kesehatan yang pasti terjadi, terutama jika paparan polusi berlangsung cukup masif dan tinggi.

”Ditambah lagi jika punya gangguan bronkhitis, asma, juga penyakit paru kronis bahkan kena covid, kayaknya hanya tinggal berharap tidak makin parah,” terangnya di acara webinar yang sama.

Jalur Pedestrian Harus Nyaman

Untuk itu, perlu kiranya pemerintah daerah membuat jalur pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki, agar bisa mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Lewat upaya ini diharapkan, kadar emisi gas buang kendaraan penyebab polusi udara, otomatis juga berkurang.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dasrul Chaniago meminta, agar hal tersebut betul-betul direalisasikan, demi kualitas udara yang lebih baik.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dasrul Chaniago

”Jadi kalau pedestriannya rusak karena digali, sudah kecil ada pot bunga dan tiang-tiang di atasnya, jelas bikin orang nggak nyaman, sehingga jarak dekat pun masih naik kendaraan,” ucap dia.

Di wilayah Kota Yogyakarta, upaya penataan pedestrian yang nyaman sudah dilakukan pemerintah setempat, baik yang ada di kawasan Malioboro, hingga di wilayah Kelurahan Kota Baru.

Namun, sebagai kota tujuan wisata, konsekuensi logis polusi udara tidak bisa dihindari, ketika banyak wisatawan luar daerah yang datang berkunjung.

”Ada teman dari Dinas Perhubungan menyatakan bahwa, hampir seratus unit kendaran bus mengangkut rombongan pengunjung dari luar daerah setiap akhir pekan masuk ke Kota Yogyakarta, ini penyumbang terbesar polusi udara,” kata Very Tri Jatmiko selaku Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta.

Selain dari wisatawan, tingkat polusi udara juga berasal dari gas buang sepeda motor dan mobil, milik pekerja luar wilayah seperti dari Kabupaten Sleman, yang bekerja di Kota Yogyakarta.

Tidak hanya itu, Very juga menyebut, polusi juga berasal dari mesin pendingin ruangan milik hotel, rumah dan perkantoran yang mengeluarkan suhu panas, saat mesin penyedot udara di luar ruangan bekerja.

Foto Ilustrasi : Ruas jalan yang ramai lalu-lalang kendaraan

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Joewono Soemardjito melihat, polusi udara memang bagian dari aktivitas manusia, seperti halnya motorisasi yang tidak bisa dicegah.

Sehingga, dampaknya pada tingkat konsumsi energi fosil untuk bahan bakar kendaraan. Yang terjadi kemudian, munculnya polusi udara.

”Di dalam energi fosil yang memicu emisi gas buang, mengandung zat pencemar itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,” terang Joewono.

Butuh Pendekatan Budaya

Sedangkan Susilo Nugroho pemerhati lingkungan hidup, sekaligus pemeran tokoh Den Baguse Ngarso dalam acara televisi Mbangun Desa, menekankan aspek sosialisasi dengan pendekatan budaya, agar masyarakat Yogyakarta ikut tergerak mengurangi polusi udara.

Karena baginya, polusi udara sebagai bagian dari problem lingkungan hidup, bukan termasuk hal pokok yang dipikirkan masyarakat, selama mereka masih berkutat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

”Contoh kecil misalkan, polusi udara karena terlalu banyak kendaraan bermotor, apa siap untuk mengurangi jumlah sepeda motor, pasti problemnya akan sangat besar sekali,” kata dia.

Susilo "Den Baguse Ngarso" Nugroho

Dirinya juga mempertanyakan para pegiat lingkungan hidup di Kota Gudeg, yang tidak mengambil pendekatan budaya, dalam mengatasi pencemaran lingkungan akibat dampak polusi. Jika ada pernyataan akibat kurangnya lahan untuk menanam pohon, hal itu bukan sebuah alasan.

Pada jaman dahulu, lingkungan hidup di Yogyakarta pusatnya berada di tepi jalan. Ini bisa dilihat dari kawasan Tugu sampai lingkungan Keraton, semuanya ditanami Pohon Asam Jawa dan Gayam karena ada maknanya.

”Sehingga orang mau menanam, tidak sekedar untuk mengurangi polusi, makanya gayam itu orang harus berbuat baik sehingga bisa ayom ayem, kalau asem itu dari kata sengsem, orang akan tertarik, maka orang datang ke Jogja,” imbuhnya. (ws/yyw)       

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00