Sanggar Lima Benua dan DLHK Klaten Ajak Masyarakat Peduli Sampah

KBRN, Klaten : Sanggar Lima Benua bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten mengajak generasi muda dan masyarakat untuk peduli terhadap persoalan sampah, dengan menggelar Festival Biennale Bank Sampah, pada 23 hingga 30 Juli 2020 di Ruang Terbuka Tanah Air Mongol Desa Paseban Bayat Klaten.

Inisiator Klaten Biennale, Lima Benua (Liben) kepada kepada wartawan mengatakan, Sanggar Lima Benua dan DLHK Klaten akan melakukan perubahan mendasar yakni menggelar Festival Biennale Bank Sampah yang mempunyai tujuan yaitu untuk perubahan mindset pola pikir anak-anak generasi Z yang lahir di atas tahun 2000 maupun masyarakat umum.

“Jadi ini adalah kerjasama antara goverment dan non goverment yaitu anak-anak generasi Z dan bank sampah dan para seniman untuk memotivasi supaya  mereka paham bahwa pengelolaan sampah itu bisa  menjadi sumber daya baru yang akan bisa diinspiratifkan,” jelasnya, Selasa (14/7/2020).

Dikatakannya, yang sudah dilakukan selama ini yaitu selalu belajar untuk mengkaji bagaimana sampah itu bisa menarik minat para generasi Z maupun anak-anak generasi muda. Para generasi Z dan anak-anak adalah penghasil sampah terbanyak, terbukti apabila jajan di sekolahan, memesan gofood, membeli jajan yang memakai plastik.

Selain itu, yang dihasilkan sudah ada karya dua dimensi yaitu lukisan dari cat, dan ada juga yang dari plastik,  patung-patung tiga dimensi seperti hewan unta, dari drum bekas, meja dan kursi semua dari bahan limbah sampah seperti logam,  plastik, kertas.

Lebih Lanjut Lima Benua (Liben) mengatakan, Festival Biennale Bank sampah juga akan menghadirkan 15 seniman dari berbagai daerah yakni seperti Jogja,  Klaten, Wonogiri, Boyolali dan lainya yang nantinya akan mengangkat tema mindset tentang pengelolaan sampah.

Pada acara festival akan ada 3 program yang ditampilkan yakni program pameran utama yaitu pameran  dua dimensi dan tiga dimensi, program pendukung ada performance art dari maistro tentang tarian memakai fashion  dari limbah, serta program publik yaitu workshop dan diskusi pembuatan rumah mikro yang terbuat dari 51 persen dari limbah sampah.

“Jadi karya-karya ini kebanyakan dari bank sampah yang di dampingi oleh seniman jadi tidak hanya menghasilkan dompet atau tas tetapi lebih ke level berikutnya jadi acara nanti  ditunjukkan utamanya untuk generasi z dan generasi alpha,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan(DLHK) Klaten, Srihadi didampingi Kepala Bidang Kabid Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan, Dwi Maryono menyambut baik adanya program Biennale Bank sampah.

Kegiatan ini lanjutnya, diharapkan bisa mengurangi persoalan sampah di Klaten karena sampah harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Sanggar Biennale Bank Sampah mengajak kepada seluruh masyarakat Klaten untuk peduli persoalan sampah.

“Menyangkut perilaku publik, mindset harus berubah. Konsep pengelolaan sampah yang hanya memindahkan sampah, kumpul, angkut buang harus kita ganti, sampah harus diselesaikan mulai dari sumbernya. Pemilahan sampah harus dilakukan untuk memastikan semua sampah dimanfaatkan kembali dan di Klaten setiap harinya menghasilkan sekitar 70 ton sampah,” ungkapnya. (ril/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00