Pembangunan Jangan Abaikan Isu Lingkungan

KBRN, Yogyakarta: Selama 1,5 tahun terakhir, dunia dihajar bertubi-tubi oleh serangan pandemi Covid-19. Namun, ada yang lebih berbahaya dari pandemi itu sendiri yaitu dampak perubahan iklim (climate change). 

Perubahan iklim akan memiliki dampak jangka menengah dan panjang yang signifikan untuk kehidupan manusia dan bumi. Sayangnya, tak ada vaksin untuk perubahan iklim. 

"Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung karena Indonesia memiliki wilayah hutan tropis yang sangat luas. Akan tetapi, sangat disayangkan, hutan di Indonesia terdegradasi akibat pembalakan liar, perambahan hutan, pengurangan kawasan hutan (deforestasi) untuk kepentingan pembangunan dan penggunaan lahan yang dilakukan dengan masif," ujar Ketua Aliansi Mahasiswa Nusantara, Altingia Arie. 

Ketika melakukan aksi unjuk rasa damai, Minggu (28/11/2021) siang, di Kawasan Tugu Yogyakarta, Aliansi Mahasiswa Nusantara menyuarakan agar pembangunan didasarkan pada prinsip keberlanjutan dan bukan sebaliknya. 

Hutan menjadi rusak dan tidak dapat lagi menyerap karbon dengan baik. Jumlah hutan yang semakin menyusut ditambah dengan produksi emisi yang banyak terus membuat atmosfer bumi panas dan mempercepat terjadinya perubahan iklim. 

"Pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan untuk menanggulangi kerusakan hutan ini dengan mengajak masyarakat Indonesia menanam pohon. Masa depan hutan tropis dan iklim global saling terkait erat," kata Arie dalam aksi yang dikaitkan dengan Hari Menanam Pohon Indonesia. 

Arie menandaskan, mengatasi penggundulan hutan merupakan bagian penting dari solusi perubahan iklim. Hutan merupakan gudang penyimpan karbon alam, meskipun beberapa analis menganjurkan penangkapan dan penyimpanan karbon menggunakan teknologi, namun teknologi tersebut mahal dan belum terbukti. 

"Sesungguhnya, hutan merupakan satu-satunya sistem yang aman, alami, dan tersedia saat ini untuk menangkap dan menyimpan karbon dalam skala besar. Sebaliknya, ketika hutan dibakar, ditebang atau dirusak, karbon yang disimpan oleh hutan tersebut terlepas kembali ke atmosfer, yang berakibat pada perubahan iklim," ujarnya ketika berorasi. 

Akibat hutan hilang 

Selama satu dekade terakhir, 83 persen dari semua bencana yang dipicu bahaya alam disebabkan cuaca ekstrem dan peristiwa terkait iklim, seperti badai, banjir dan gelombang panas. Aliansi Mahasiswa Nusantara menegaskan, pohon memiliki fungsi yang sangat penting dalam upaya meredam kenaikan gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim. 

Seperti spons/busa, pohon yang menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Fungsi pohon ini dijalankan dengan sangat masif oleh hutan. Keberadaan pohon penting bagi kesehatan, sumber-sumber penghidupan, dan masa depan kita. Pepohonan menyerap karbon dioksida dari udara. Semakin banyak pepohonan, maka semakin banyak karbon dioksida yang diserap dari atmosfer dan disimpan untuk proses rantai oksigen yang diperlukan manusia. 

Terkait hal tersebut, Aliansi Mahasiswa Nusantara ingin menjadi bagian dari aksi penyelamatan bumi dengan kampanye gerakan menanam bersama dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia tanggal 28 November di Tugu Yogyakarta, dengan menggelar teatrikal, body painting terkait climate change dan pembagian bibit pohon ke pengendara atau pejalan kaki yang melintas di area kampanye. 

Aliansi Mahasiswa Nusantara tak hanya mengajak kegiatan penanaman, namun juga membagikan bibit. Bibit yang dibagikan sejumlah 300 bibit, terdiri dari 200 bibit Rambutan (Nephelium lappaceum) dan 100 bibit Kaliandra (Calliandra calothyrsus). (ros) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar