Mahalnya Program Bayi Tabung Setara Mobil LCGC

KBRN, Yogyakarta: Memiliki keturunan merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri (pasutri). Namun, realitas terkadang berkata lain. Banyak pasutri yang tak kunjung dikaruniai anak. 

Salah satu metode modern yang kerap digunakan untuk memperoleh keturunan adalah dengan program bayi tabung. Tapi tak banyak yang tahu, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program tersebut. 

Fitri Damayanti SKM, MPH, seorang mahasiswa program doktoral bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan pada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) melakukan penelitian soal biaya yang harus dikeluarkan oleh pasangan infertilitas (tak subur) dalam program bayi tabung di berbagai klinik dan rumah sakit di Indonesia. 

Penelitian yang dijadikan bahan disertasinya itu menyebutkan angka yang cukup mencengangkan. Program bayi tabung termurah di Tanah Air sama dengan harga satu unit mobil Low Cost Green Car (LCGC) yang kini marak memenuhi jalanan perkotaan. 

Termurah 100 juta

Menurut Fitri, dari hasil penelitian, diketahui besaran biaya yang dikeluarkan untuk satu siklus program bayi tabung berdasarkan kelompok umur kurang dari 35 tahun dengan rata-rata biaya total mencapai Rp 99 juta. 

“Untuk kelompok usia 35-39 tahun sebesar Rp 112 juta, dan  usia di atas 40 tahun sebesar Rp 109 juta,” ujarnya. 

Ketika memaparkan disertasinya pada ujian terbuka promosi doktor, Jumat (30/7/2021) siang, Fitri menyebutkan, ia melakukan survei pada 17 orang wanita yang menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) di klinik infertilitas di Indonesia. Tak hanya itu saja, ada  214 partisipan infertilitas yang mengisi kuesioner lewat FertiQoL online

"Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang alokasi anggaran atau biaya yang dibutuhkan untuk terhindar dari satu kasus infertilitas dari perspektif sosial dengan mengestimasi biaya langsung medis, biaya langsung non medis, biaya tidak langsung dan biaya nirwujud," paparnya. 

Fitri lantas membagi kelompok infertilitas dalam beberapa kelompok. Kelompok gangguan kesuburan wanita yang rata-rata harus mengeluarkan sebesar Rp 94 juta dan gangguan kesuburan pria sebesar Rp 110 juta. Sedangkan gangguan kesuburan pada kedua pasangan, baik pria dan wanita, mengeluarkan biaya sebesar Rp 114 juta. 

“Sedangkan berdasarkan jenis metode yang digunakan, ada dua yaitu siklus semi natural sebesar Rp 53 juta, injeksi hormon mengeluarkan biaya rata-rata lebih banyak, yaitu Rp 110 juta,” ungkap Fitri di hadapan para penguji. 

Sementata apabila didasarkan pada pemilihan fasilitas kesehatan oleh pasangan infertilitas terbagi menjadi dua yakni rumah sakit negeri dengan biaya rata-rata yang yang dikeluarkan sebesar Rp 102 juta dan RS swasta sebesar Rp 143 juta. 

Timbulkan depresi 

Jika ditotal berdasarkan biaya yang diestimasi berdasarkan hasil skor FertiQoL pada kelompok wanita IVF menggunakan regresi linier mengeluarkan biaya sebesar Rp 123 juta. Namun Fitri mengungkapkan ada hal menarik dari penelitian tersebut. 

"Dari penelitian ini diketahui sebanyak 32,2 % orang dengan infertilitas mengalami gangguan kejiwaan, yaitu depresi 16,36 % dan ansietas 16,36 %," tambahnya. 

Gangguan kesehatan reproduksi berupa infertilitas, menurut penelitian WHO, dialami pada 22,3 % pasutri di dunia. Dari penelitian yang dilakukan, Fitri Damayanti menuturkan, infertilitas merupakan masalah kesehatan reproduksi yang membawa implikasi psikososial yang negatif. 

"Infertilitas ini menyebabkan double burden of disease karena pembiayaan yang tinggi dan menyebabkan pengeluaran katastropik dan beban psikologis bagi pasangan yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi," tandasnya. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00