Mendedah Ratu Pantai Selatan, Lewat Sandiwara Radio Sang Nyai

KBRN, Yogyakarta: Sosok Nyai atau Nyi Roro Kidul hingga kini menjadi mitos yang melegenda di Tanah Jawa. Eksistensi kerajaan-kerajaan di Tatar Jawa dan bahkan Bali, tak lepas dari sosok yang dianggap sebagai penguasa Laut Selatan itu.

Demi mendedah sosok Nyi Roro Kidul atau pun membedah sejarah maupun mitos yang berkembang tentang figur seorang ratu yang sangat cantik dan berkharisma Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Yogyakarta mencoba mengangkatnya dalam bentuk sandiwara radio berjudul Sang Nyai.

Boy Rifai, pemilik rumah sinema Watulumbung, yang menggagas drama radio Sang Nyai, menyebutkan selama ini, masyarakat Jawa banyak yang memahami sosok Nyai atau Nyi Roro Kidul baru sebatas mitos yang melegenda. Namun, tak banyak publik yang memahami siapakan wujud Sang Nyai dan apa makna filosofi yang terkandung di dalam mitos tersebut.

Sang Nyai menceritakan tentang keberadaan Nyi Roro Kidul yang sangat melegenda, tapi masih banyak orang yang belum paham, siapa sosok Nyi Roro Kidul,” ujar Boy yang menjadi produser sandiwara itu.

Boy menuturkan, budaya dan filosofi Jawa, yang sejatinya penuh makna dan simbol, tak sepenuhnya dipahami oleh masyarakat luas. Banyak salah persepsi yang beredar dan bahkan pertentangan pendapat di masyarakat Jawa, termasuk ketika agama Islam berkembang luas di seluruh Nusantara.

“Di sandiwara ini sangat jelas, di mana dia? Perannya apa? Tentunya sebuah kerajaan laut selatan itu ada dayang-dayangnya, ada menterinya. Perannya apa, silakan nanti dilihat dari penjelasan para ahlinya. Ada dari keraton, dari akademisi, dan dari masyarakat,” tutur dia.

Penayangan sandiwara radio Sang Nyai telah diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Rumah Sinema Watulumbung dan LPP RRI Yogyakarta.

Beri edukasi

Sementara itu, Kepala Stasiun LPP RRI Yogyakarta Danang Prabowo menyebutkan, sandiwara radio Sang Nyai merupakan kado dari LPP RRI Yogyakarta untuk peringatan dirgahayu RI ke-76. Rencananya, sandiwara ini akan mulai diputar pada 16 Agustus untuk kali pertama di Pro4 RRI Yogyakarta.

“Ini namanya sandiwara edukasi. Kenapa edukasi? Karena pada setiap episode itu, ada penjelasan secara analisis keakademisian, analisis secara filosofi dan juga analisis lainnya,” ungkap Danang Prabowo.

Lewat sandiwara radio yang bekerja sama dengan Rumah Sinema Watulumbung, RRI Yogyakarta, ujar Danang Prabowo, berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang mitos Sang Nyai tersebut.

“Ini berbeda dengan sandiwara-sandiwara radio lainnya, karena ada penjelasan dari ahlinya serta didasarkan riset yang baik. Kami menyambut baik kerja sama ini, jika ini berlanjut, bisa saja ada sandiwara-sandiwara edukasi lainnya,” sebutnya.

Kabid Siaran LPP RRI Yogyakarta, Atang Basuki, Jumat (13/8/2021) siang, menyebutkan, sandiwara Sang Nyai akan dikemas sebaik mungkin dengan melibatkan pakar atau artis sandiwara yang mumpuni, baik dari RRI maupun artis sandiwara Yogyakarta.

“Kami bekerja sebaik mungkin untuk mengimplementasikan buku novel Sang Nyai menjadi naskah sandiwara radio. Tentunya kami berharap, sandiwara ini selain sebagai hiburan, juga menjadi wahana edukasi bagai masyarakat,” katanya.

Atang menambahkan, sandiwara radio Sang Nyai juga akan tayang secara rutin  setiap Sabtu pukul 20:30 WIB di Pro1 RRI Yogyakarta pada frekuensi 91,1 MHz. Kemudian di Pro2 RRI Yogyakarta setiap Rabu pukul 20:00 WIB di frekuensi 102,5 MHz dan setiap hari Senin di Pro4 RRI Yogyakarta pada pukul 20:00 WIB di saluran 106,6 MHz atau 1.107 KHz.

“Kami melibatkan dua orang sutradara yaitu Titik Renggani dan Mataya Prabarini untuk mengawal sandiwara Sang Nyai ini. Kemudian ada Margono sebagai narator utama, didukung dengan Sugiman Dwi Nurseto, Jordan Taloksaru, Anggre dan Pascalia,” ungkapnya. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00