Pilihan Lurah Dengan E-Voting, Bikin Lansia Bingung

Pembekalan Calon Lurah Desa peserta Pilurdes Kabuaten Sleman

KBRN, Yogyakarta : Untuk pertama kalinya, Kabupaten Sleman melaksanakan e-voting dalam pemilihan lurah desa, yang dijadwalkan tanggal 20 Desember mendatang.

Lewat sistem ini, masyarakat tidak lagi mencoblos surat suara dari kertas, tetapi menyentuh gambar calon yang dipilih menggunakan ujung jari, ketika ditampilkan pada layar monitor di bilik suara.

Sebelum menuju ke bilik suara, petugas KPPS memberikan kartu pintar kepada pemilih. Kartu tersebut akan memunculkan gambar calon pada layar monitor.

Tetapi, metode baru ini memunculkan persoalan bagi para lansia, salah satunya Mbah Hardi usia 70 tahun, warga Desa Sumberadi Kapanewon (Kecamatan) Mlati.

”Ya kalau untuk saya agak bingung, kalau ada pemandunya ya tidak apa-apa, sebenarnya enak yang dulu (mencoblos surat suara, red), tetapi mau bagaimana lagi karena keadaan,” katanya saat ditemui Rabu (16/12/2020).

Meski dirinya sudah mengikuti simulasi pemungutan suara di kantor kelurahan setempat, namun hal itu tidak banyak membantu.

Apalagi, saat ujicoba sebelum terjadi pandemi korona, tidak menggunakan alat peraga berupa layar monitor, hanya pemberitahuan lisan dari perangkat kelurahan.

Di desanya, ada dua calon yang harus dipilih untuk posisi lurah desa, yaitu pejabat lama dan penantang baru. Hardi berharap, siapapun calon yang terpilih nanti, bisa melanjutkan program pembangunan yang sudah berjalan selama ini.

Menyikapi persoalan ini, pemerintah desa sebagai penyelenggara Pilurdes, menyiapkan petugas pendamping untuk pemilih lansia, saat berada di bilik suara. Pendamping juga bisa dari pihak keluarga.

”Mekanismenya sama seperti pelaksanaan pemilu,” kata Jagabaya Kelurahan Sumberadi, Hadi Sunyoto.

Pihaknya sudah berkali-kali melakukan sosialisasi dan bimtek di setiap pedukuhan, masing-masing diikuti 10 orang perwakilan petugas, dan masyarakat termasuk lansia.

Proses tersebut dimulai sejak sebelum terjadi pandemi korona. Hingga hampir setahun Pilurdes ditunda, sosialisasi kembali dilakukan bahkan setiap kali berlangsung pertemuan warga.

Karena penggunaan teknologi rawan terjadi gangguan, maka tanggungjawab ada di tangan petugas Tenaga Teknik Utama (TTU). Total ada 22 TPS di desanya, dengan jumlah alat yang sama ditambah satu cadangan.

”Oleh dukuh, KPPS-nya disiapkan yang muda-muda, ada tujuh di setiap TPS,” lanjutnya.

Calon Lurah Khawatir

Tidak hanya lansia yang dibuat bingung dengan e-voting, sebagai cara baru memilih calon pemimpin di desa. Muncul kekhawatiran juga di benak para calon lurah.

”Chip pada kartu pintar kan bisa digunakan sampai 20 orang, saya harap KPPS-nya menjunjung tinggi kejujuran, jangan sampai orang yang tidak datang ke TPS suarannya dimasukkan,” kata Subandi Kusuma, calon Lurah Desa Sinduadi.

Sebagai antisipasi potensi kecurangan, dirinya melakukan pembekalan intensif kepada seluruh kader dan saksi agar bisa mengamati kinerja petugas KPPS.

Ia berencana menempatkan dua saksi di setiap TPS dengan tugas masing-masing, satu orang yang paham IT dan satu orang yang paham mekanisme pemilihan.

Target mantan kader Partai Keadilan dan Persatuan Pembangunan (PKPP) dan Gerindra ini, bisa meraih 18 ribu suara saat bersaing dengan dua kontestan lain, satu diantaranya incumbent.

”Itu cukup realistis, yang penting Pilurdes bisa berjalan sehat tanpa diwarnai kampanye hitam,” tutur mantan Anggota DPRD Sleman, yang menduduki kursi legislatif sejak tahun 2009 sampai 2019.

90 Persen Siap

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Budiharjo memastikan, proses persiapan Pilurdes sudah mencapai 90 persen dengan alokasi anggaran mencapai Rp 14 Milyar.

Baik itu sertifikasi tim teknis lapangan, sertifikasi alat, rapid tes bagi KPPS, hingga distribusi 1103 alat di 49 kalurahan. Pembekalan terhadap 157 calon lurah juga sudah dilakukan.

Sehari sebelum pemilihan pada 20 Desember, akan dilakukan simulasi e-voting. Hasil pemungutan suara dijamin kerahasiaannya, karena sistemnya offline sehingga tidak tertera nama, jam dan kehadiran pemilih, namun hanya waktu pelaksanaan.

”Meski akan keluar barcode dari mesin printer usai pemilih memberikan hak suara, tetapi sistem sudah diatur sedemikian rupa, sehingga identitas pemilih tidak terdeteksi, ucap Budiharjo.

Disamping itu, ada petugas verifikator di TPS sebelum pemilih diberi kartu pintar, yang memastikan identitas pemilih sesuai undangan. Upaya ini sebagai antisipasi, kartu digunakan pemilih di luar DPT.

Pada masa pandemi ini, pihaknya menargetkan 75 persen partisipasi pemilih dalam Pilurdes di 49 kelurahan dengan total 444.841 pemilih tetap, Penggunaan e-voting ungkap Budiharjo, untuk mewujudkan Sleman sebagai kabupaten pintar sesuai misi bupati.

Sistem ini kata dia, juga lebih cepat diketahui hasilnya. Saat penghitungan suara dimulai jam 13.00 WIB, pemenang bisa diketahui lima menit kemudian.

Demokrasi 4.0

Sistem e-voting yang digunakan dalam Pilurdes di Sleman, menjadi sebuah inovasi yang cukup bagus dan sedang menjadi perbincangan luas. Bahkan bisa jadi, sistem ini menjadi prototype pemilu ke depan pasca pandemi, karena sudah dijadikan perbincangan luas.

Ketua Sekolah Politisi Muda Yayasan Satu Nama, Muhammad Zuhdan menilai, jika dalam pelaksanaannya nanti terdapat berbagai kelemahan maupun celah yang rentan disalahgunakan, masih bisa diperbaiki agar tidak menjadi hambatan.

”Perlu penguatan sistem keamanan, sehingga butuh badan independen di desa yang punya kapasitas mengamankan data pemilih,” terangnya.

Tetapi yang lebih penting, harus diketahui kapasitas penyelenggara pemilu di level desa, sejauh mana literasi digital mereka pada era demokrasi 4.0, mulai pengenalan alat, hingga memahami sistem bekerja.

”Juga harus menjamin asas jurdil, demokrasi partisipatif dan berintegritas,” ungkapnya.

Terkait penggunaan dana Rp 14 Milyar dalam Pilurdes, jika unsur transparansi juga efektivitas dan efisiensinya pengadaan alat e-voting terukur dengan baik, maka hal tersebut tidak menjadi masalah.

Zuhdan juga mengapresiasi langkah Pemkab Sleman menerjunkan ratusan relawan digital dari kalangan mahasiswa, untuk mengantisipasi potensi gangguan penggunaan alat tersebut. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00