Polisi Bubarkan Kerumunan Pendukung Paslon

Polisi bubarkan kerumunan massa saat pengundian nomor urut kontestan Pilkada Sleman

KBRN, Yogyakarta : Kerumunan massa pendukung salah satu paslon Bupati dan Wakil Bupati Sleman, dibubarkan paksa oleh polisi.

Kejadian ini berlangsung hari Kamis (24/9/2020) di sekitar Gedung Serbaguna, saat berlangsung rapat pleno pengundian nomor urut kontestan Pilkada Sleman.

Saat itu, massa yang berkerumun meluapkan kegembiraan dengan meneriakkan yel-yel, ketika paslon yang mereka dukung mendapat nomor urut, sesuai gambar angka pada poster dan bendera kertas yang mereka bawa.

Gustan Ganda anggota tim sukses salah satu paslon, justru mengapresiasi tindakan polisi, yang konsisten menegakkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

”Saya sangat setuju bahwa aparat bertindak tegas, memang harus disiplin menghadapi covid ini sampai tanggal 9 Desember nanti,” katanya.

Anggota DPRD Sleman ini juga beralasan sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat, seperti menggunakan masker, termasuk membatasi hingga 50 persen dari total jumlah massa yang ingin menghadiri rapat pleno terbuka KPU.

”Sebenarnya yang mau datang 200 orang, tapi kita batasi hanya 100 orang bersama partai koalisi,” lanjutnya.

Protokol Kesehatan Dilanggar

Sebagai lembaga pengawas, Bawaslu Sleman segera melakukan evaluasi, terkait temuan pelanggaran protokol kesehatan saat pengundian nomor urut paslon.

Harapannya bisa diambil sikap resmi, sesuai perubahan ketiga PKPU Nomor 13 Tahun 2020, tentang Pelaksanaan Kampanye di Masa Pandemi Covid.

Anggota Bawaslu Sleman Arjuna Al Ichsan Siregar berpendapat, dalam salah satu pasal PKPU menyebut, ketika pengundian nomor urut pasangan calon dilarang membawa massa pendukung.

Bahkan, pihaknya sudah meminta KPU untuk membubarkan kerumunan massa di luar gedung, hanya saja, permintaan tersebut tidak digubris.

”Yang diatur di PKPU tidak hanya kondisi di dalam gedung tapi di luar gedung, tadi kami minta untuk bubar tetapi rapat pleno tetap berlanjut bahkan massa tidak bubar,” kata dia.

Sudah Sosialisasi

Ketua KPU Sleman Trapsi Haryadi mempersilakan Bawaslu, untuk mengambil tindakan tegas, jika menemukan pelanggaran protokol kesehatan.

Namun pihaknya memastikan, sudah melakukan sosialisasi kepada setiap paslon, agar tidak membawa pendukung saat pengundian nomor urut, sesuai Surat dari KPU RI Nomor 759.

”Terkait dengan itu, teman-teman Bawaslu yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi dan menindaklanjuti temuan dari Bawaslu,” ungkap Trapsi.

Sesuai hasil pengundian nomor urut kontestan Pilkada Sleman, pasangan Danang Wicaksana-Agus Kholik mendapat nomor urut satu, pasangan Sri Muslimatun-Amin Purnama nomor urut dua, dan pasangan Kustini-Danang Maharsa nomor urut tiga. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00