Visi Sultan, Lanjutkan Ekonomi Berbasis Maritim

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan visi dan misi, Senin (8/8/2022) siang, dalam forum Rapat Paripurna DPRD DIY. (istimewa)

KBRN, Yogyakarta: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (8/8/2022) siang, menyatakan, tema besar yang menjadi spirit dari visi-misi pembangunan periode 2017-2022 masih akan diterapkan dalam lima tahun ke depan.

Adapun visi misi yang diangkat periode 2022-2027 adalah kelanjutan visi pembangunan DIY periode sebelumnya yakni “Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”. 

Hal itu dipertegas kembali oleh Sri Sultan ketika membacakan visi-misi Calon Gubernur DIY masa jabatan 2022-2027 dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD DIY.

Di hadapan Ketua DPRD DIY Nuryadi sebagai pimpinan Rapur beserta jajarannya, Sultan memaparkan, tema itu kembali diangkat adanya keterkaitan antara Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005-2025 dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2012-2017 dan 2017-2022.

RPJPD 2005-2025 yang mengangkat tema besar, "Membangun Masyarakat Yogyakarta yang Maju, Mandiri dan Sejahtera", selanjutnya diperkuat pada RPJMD 2012-2017 lewat tema "Menyongsong Peradaban Baru", dan kemudian disempurnakan lagi oada RPJMD 2017-2022 dengan tema "Menyongsong Abad Samudera Hindia". 

"Samudera Hindia dipahami sebagai wilayah hidup, kehidupan dan penghidupan baru, sehingga wilayah ini diletakkan sebagai sumber daya baru, sebagai daya hidup dan daya kembang baru bagi Yogyakarta, untuk bergerak maju, mandiri dan sejahtera di masa depan," jelasnya.

Isu masa depan

Gubernur pun menjabarkan, isu-isu tentang perairan Samudera Hindia akan menjadi isu besar di masa depan.

“Beberapa isu terkini yang menyangkut Samudera Hindia dan telah menjadi perbincangan aktual oleh negara-negara IORA (The Indian Ocean Rim Association) dan relevan dengan posisi Yogyakarta yang memangku Samudera Hindia adalah blue economy, collaboration and global governance, dan The Maritim Silk Road,” katanya.

Ngarsa Dalem atau Sri Sultan melanjutkan, blue economy dapat diartikan sebagai ruang pengembangan kehidupan bersama yang berkelanjutan. Termasuk di dalamnya adalah pengelolaan aset kelautan, mobilisasi intensif dan investasi, perluasan kawasan lindung laut, pengumpulan data, pengembangan pariwisata dan bangkit kembali dari pandemi. 

Beberapa sektor yang termasuk di dalamnya adalah penangkapan ikan, bioteknologi, mineral, pendidikan dan pelatihan, pariwisata bahari, perdagangan dan teknologi kelautan. 

“Dengan perkataan lain, Samudera Hindia, dapat kita letakkan sebagai ruang hidup-kehidupan-penghidupan baru bagi masyarakat Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya, baik pada masa kini maupun di masa depan,” terang Sri Sultan. 

Jalur Maritim 

Sedangkan, collaboration and global governance, kaitannya dalam bentuk kerja sama yang dilakukan untuk meningkatkan perlindungan sumber daya samudera. Hal yang dapat diatur seperti tata kelola penangkapan ikan, pencemaran samudera, mitigasi perubahan iklim dan problem isu sistemik. 

Di sisi lain, The Maritime Silk Road atau Jalur Sutera Maritim dianggap sebagai kekuatan penting kekuasaan politik dan ekonomi. Terdapat tiga arteri utama yang masuk di dalamnya.

“Pertama adalah arteri yang menghubungkan Cina dengan Eropa melalui Laut Cina Selatan, Sumatra Hindia, Laut Mediterania, dan menuju Atlantik. Arteri kedua menghubungkan Cina dengan Australia dan Selandia Baru melalui Laut China Selatan, dan melewati perairan sekitar Indonesia. Ketiga adalah arteri yang membentang melalui Samudra Arktik, melewati sepanjang pantai utara Rusia untuk terhubung dengan wilayah Nordik dan bagian lain Eropa melewati Kanada," papar Sri Sultan. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar