Waspada, Ini Empat Prioritas e-Tilang di Jogja

KBRN, Yogyakarta : Terhitung mulai Kamis (13/08/2020), Ditlantas Polda DIY akan menerapkan Electronic Tilang Law Enforcement (ETLE). Ada setidaknya empat pelanggaran yang menjadi prioritas pada penegakan tilang elektronik atau e-tilang ini.

Dirlantas Polda DIY Kombes Polisi I Made Agus Prasatya kepawa awak media, Rabu (12/08/2020) pagi, menuturkan, ada empat priorita pelanggaran.

“Pelanggaran yang kita utamakan adalah marka. Kedua, menerobos lampu merah. Ketiga, (penggunaan) handphone saat berkendara. Terakhir, kecepatan, khususnya seperti di Kulon Progo, ketika keluar dari bandara,” katanya.

Usai berkampanye dan melakukan sosialisasi di Titik Nol Kilometer, I Made Agus Prasatya mengungkapkan, pihaknya menggunakan kamera pengawas yang dilengkapi kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang secara otomatis akan memotret dan mengindetifikasi pelanggar lalu lintas.

“Apa itu ETLE? ETLE ini sebuah sistem penegakan hukum yang dilengkapi dengan kamera yang canggih artificial intelligence yang secara otomatis bisa meng-capture seluruh pelanggaran secara otomatis,” ungkap pria asal Bali itu.

I Made Agus Prasatya menambahkan ada empat titik CCTV yang kini dipasang dan terkoneksi dengan basis data di Real Traffic Management Center (RTMC) Polda DIY. Setiap pelanggaran yang terdata akan diolah dan surat tilang nantinya dikirimkan ke alamat pelanggar sesuai dengan domisili yang tertera di STNK dalam kurun waktu tiga hari setelah pelanggaran terjadi.

“Di era pandemi Covid-19 ini, ETLE diterapkan mengedepankan tindakan represif non yustisial. Artinya adanya suatu pengawasan, teguran kepada pelanggar yang ter-capture kamera,” tandasnya.

Yuniarsih, warga Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta menyebutkan penggunaan tilang elektronik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas, baik ada maupun tidak adanya petugas yang berjaga.

“Ya baguslah, lebih tertib. Jadi, bisa lebih patuh terhadap situasi,” ungkapnya.

Pendapat berbeda dilontarkan Amania Ibtaqo, mahasiswi UGM Yogyakarta. Amania menilai efektivitas tilang elektronik perlu dilakukan kajian serius apakah dapat menumbuhkan kesadaran dan kepatuhan hukum di masyarakat.

“Ini bagus saja karena menyesuaikan dengan digitalisasi. Tapi apakah itu efektif di masyarakat, apakah masyarakat juga bisa tertib, karena menurut saya jika aturannya sudah dilakukan digitalisasi tapi masyarakatnya masih sulit untuk tertib ya percuma saja,” tutur mahasiswi asal Jawa Timur tersebut.

Penerapan tilang elektronik ini diujicobakan di empat kota di Indonesia mulai 13 Agustus. Jakarta menjadi pionir penerapan e-tilang dan kemudian diikuti Yogyakarta, Surabaya dan Bandung. (ros/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00