Marak Salinan Palsu Resep Obat-obatan, BNNK Bantul Edukasi Apoteker

Pemaparan terkait resep salinan palsu diberikan, Rabu (3/8/2022) pekan kemarin, kepada 30 apoteker agar mewaspadai modus penyalahgunaan obat-obatan. (istimewa)

KBRN, Yogyakarta: Guna mengatasi maraknya kasus penebusan obat yang menggunakan resep salinan palsu, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bantul menggelar workshop Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan danPeredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang diikuti oleh perwakilan dari 30 apoteker di Kabupaten Bantul.

Kepala BNNK Bantul, Arfin Munajat, menyebutkan, kegiatan diikuti oleh apoteker khususnya di 7 kawasan rawan yang dipilih sebagai pilot project Kalurahan atau Desa Bersinar (Bersih Narkoba).

Kalurahan Bersinar tesebut di antaranya Parangtritis, Mulyodadi, Panggungharjo, Bangunjiwo, Ngestiharjo, Baturetno dan Banguntapan. Kegiatan yang digelar, Rabu (3/8/2022) kemarin, di Hotel Ros In, Yogyakarta ini bertujuan untuk membekali calon penggiat anti narkoba di duniausaha atau swasta, khususnya yang bergerak di bidang distribusi farmasi dan apotek.

"Kami menggelar kegiatan ini supaya lebihwaspada terhadap berbagai indikasi penyalahgunaan dan peredaran gelap obat-obatan berbahaya," kata Arfin. 

Arfin Munajah selaku Kepala BNNK Bantul membawakan materi tentang kebijakan P4GN dan rehabilitasi saat memberikan paparan terhadap para apoteker.

Selain itu, ada Dra TriyantiSetyorini, MKes selaku Koordinator Kelompok Substansi Penindakan BBPOM yang menyampaikan materi aspek hukum dari P4GN, dan Antin Sawitri, SSi selaku Analis Obat dan Makanan Dinas Kesehatan dengan materi pencegahan penjualan obat secara ilegal.

Salinan palsu

Melalui workshop ini, Arfin menambahkan, banyak ditemukan informasi terkait permasalahan resep salinan palsu yang digunakan oleh pasien untuk kepentingan lain. 

“Para apoteker mulai curiga ketikaada yang membeli sejenis obat tertentu dalam jumlah yang tidak wajar. Sementara obat tersebut seharusnya dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Ada pula yang memaksa untuk membeli di luar jam operasional apotek,” tutur Arfin.

Sayangnya, tak semua apoteker mampu memastikan antara resep yang asli dan resep yang telah digandakan oleh pasien sendiri. Untuk memastikannya perlu pengawasan dan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter-dokter pemberi resep. 

"Dalam kesempatan ini, para apoteker yang diundang diarahkan untuk merencanakan aksi pencegahan peredaran gelap obat berbahaya, supaya oknum-oknum tersebut tidak mudah menebus obat dengan resep salinan palsu," lanjutnya. 

Beberapa langkah yang perlu diambil di antaranya yaitu pendataan pelanggan yang seringkali membeli obat tertentu dalam jumlah yang tidak wajar sehinggaapabila ada perilaku yang mencurigakan dapat segera dilaporkan.

"Kemudian sosialisasi bahaya obat-obatan tertentu melalui brosur, leaflet ataupun stiker di apotek, bahkan ada apoteker yangakan melaksanakan edukasi secara langsung kepada pembeli mengenai obat-obatan yang akan dibelinya," tandasnya. 

Pada akhir sesi, Kepala BNNK Bantul mengukuhkan 30 peserta yanbg hadirsebagai penggiat P4GN di lingkungan swasta, khususnya di apotek masing-masing. (ros) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar