Pasca Vonis Kasus Bank Jogja, Kejati Siap Buru Aset Klau Viktor

KBRN, Yogyakarta: Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Yogyakarta yang dipimpin Muhammad Jauhar Setyadi menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada terdakwa kasus pengajuan kredit fiktif BPR Bank Jogja, Klau Victor Apriyanto.

Terdakawa yang merupakan mantan Direktur Transvision Cabang Yogyakarta itu dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Menyatakan terdakwa Klau Victor Apryanto, ST telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut, serta  melanggar pasal 2 ayat (1) juncto pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto UU No. 20 Tahun 2021 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” ujar Jauhar pada persidangan yang berakhir, Rabu (19/1/2022) sore.

Tak hanya itu saja, majelis hakim juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 500 juta, plus uang pengganti sebesar Rp 1,53 miliar.

“Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 10 tahun dikurangi selama terdakwa ditahan dan pidana denda sebesar Rp 500 juta subsider 6 tahun kurungan penjara. Menghukum terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 1,53 miliar,” tambah ketua majelis hakim.

Selain itu, terdakwa juga masih terancam hukuman 5 tahun penjara apabila tak bisa membayar uang pengganti.

“Dengan ketentuan apabila terdakwa tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut, dan dalam hal terdakwa tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana dengan pidana penjara selama 5 tahun,” tandasnya.

Klau Victor Apriyanto yang kini resmi berstatus terpidana mengajukan kredit fiktif sebanyak 126 kali dengan mengatasnamakan karyawan PT Transvision Yogyakarta dengan besaran pinjaman antara Rp 20-28 juta pada medio 2019 hingga 2020. Kasus ini meledak di tahun 2021 setelah Kejati melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap pembobolan dana nasabah di sejumlah bank di Yogyakarta.

Siap lakukan penyitaan

Kasi Penkum Kejati DIY Sarwo Edi kepada awak media usai sidang pembacaan putusan yang berakhir Rabu sore menyatakan, pihaknya sesuai dengan amar putusan hakim, akan memburu harta terdakwa Klau Victor Apriyanto demi mengganti kerugian yang telah ditimbulkan dari kasus kredit fiktif tersebut.

“Nanti selain pidana penjara, ada pidana denda dan pidana uang pengganti yang semuanya sama harus dipenuhi oleh terdakwa,” kata dia.

Sarwo Edi menyatakan, penyitaan dapat dilakukan apabila terdakwa tak mengajukan upaya banding atau kasasi. Selama belum ada keputusan final yang mengikat alias inkraacht, Kejati DIY masih akan menunggu sebelum dilakukan eksekusi.

“Sesuai pasal 18 UU Tipikor, terdakwa dibebankan membayar uang pengganti, kalau dalam waktu sebulan uang pengganti itu tak dibayarkan, maka harta bendanya akan disita untuk menutupi biaya uang pengganti. Namun, kalau tidak ada harta benda lagi, maka akan dikenakan pidana penjara subsider untuk mengganti uang pengganti itu,” paparnya, Rabu sore.

Sementara itu, aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, mengharapkan, aparat penegak hukum tak hanya menjerat sosok Klau Victor Apriyanto saja untuk mempertanggungjawabkan kredit fiktif senilai Rp 27,4 miliar lebih tersebut.

“Sekarang kan ada lima terdakwa yang disidang secara terpisah. Nah, ini juga harus dipantau,” ujar dia.

Kamba menyebutkan, tersangka lainnya harus turut diseret ke meja hijau, termasuk kemungkinan keterlibatan oknum di pemerintahan maupun legislatif dalam pusaran kasus Bank Jogja.

Terlebih lagi, majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut.

“Kenapa tidak ada misalnya, digali keterlibatan pihak lain, karena kasus seperti ini biasanya tidak berdiri sendiri. Sudah ada misalnya, kasus serupa, di Kabupaten Magelang yang akhirnya menyeret anggota legislatif dari kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Klau Victor Apriyanto yang kini resmi berstatus terpidana mengajukan kredit fiktif bersama Farrel Everald Fernanda, eks sales agent PT Indonesia Telemedia atau Transvision Yogyakarta pada bulan Agustus 2019 – Juli 2020. Keduanya dengan tiga tersangka lainnya, berkomplot mengajukan kredit Proguna di BPR Bank Jogja dengan mengatasnamakan 162 orang pegawai Transvision Yogyakarta. (ros/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar