Rektor UIN Sunan Kalijaga Ingin Publik Maafkan Hadfana Firdaus

KBRN, Yogyakarta: Prof Al-Makin selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta meminta agar viralnya kasus mantan mahasiswa Hadfana Firdaus tak sampai merembet ke ranah hukum. Masyarakat diminta berbesar hati dan mau untuk memaafkan kekhilafan sosok Hadfana Firdaus.

“Kepada seluruh warga Indonesia, pemerintah, terutama Pemerintah Kabupaten Lumajang, tolong semuanya memaafkan Hadfana Firdaus,” ujarnya.

Sosok Hadfana Firdaus (HF) sendiri saat ini telah dimintai keterangan oleh Polda Jawa Timur terkait perbuatannya yang menendang sesaji di lereng Gunung Semeru. Aksi HF sempat viral kala diunggah di media sosial.

“Jika bangsa Indonesia memegang teguh Bhineka Tunggal Ika, dan bangsa Indonesia terdapat bermacam-macam agama, ada enam agama yang ada di Indonesia, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan berbagai macam aliran kepercayaan kuranng lebih 1.300 yang ada di Indonesia, maka kita harus hidup selaras dan harmonis,” ungkapnya, Jumat (14/1/2022) sore.

Kepada awak media Jumat sore ketika jumpa pers di Gedung Prof Saifudin Zuhri Kompleks Kampus UIN Sunan Kalijaga, Al-Makin menuturkan dengan memaafkan perbuatan HF yang viral karena menendang sesaji di lereng Gunung Semeru, juga merupakan cerminan sikap bangsa yang memegang teguh prinsip kebhinekaan.

“Jika kita ingin memberi yang baik, ya kita harus memberi contoh. Yang pertama, kita harus melapangkan dada kita. Jika memang ingin memberitahu, beritahu dengan cara yang baik. Maka saya menyerukan kepada pihak yang berwajib, baik pemerintah maupun kepolisian, tolong dimaafkan pelaku. Karena ini sangat penting, dan bangsa Indonesia ini bangsa yang sangat pemaaf,” terangnya.

Prof Al-Makin juga tak setuju, jika mantan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang drop out sejak Mei 2014 itu harus diproses hukum karena perbuatannya.

“Menurut saya, itu jika diproses secara hukum, itu tidak memberi contoh yang baik,” kata Al-Makin.

Menurut Rektor, upaya pemaafan dan restorative justice lebih mencerminkan sikap toleransi dan keteladanan yang baik. Al-Makin pun mengenang kala dirinya menjadi peneliti yang mengkaji keberagaman di Tanah Air. Menurutnya, banyak kasus diskriminasi yang lebih berat dan abai di mata hukum.

“Kebetulan saya sebelum jadi rektor, merupakan peneliti tentang keragaman. Hampir di seluruh Indonesia, saya meneliti tentang keragaman. Saya bersama kelompok Lia Eden sudah lima tahun, dengan kelompok Gafatar saya meneliti hampir tujuh tahun, belum Ahmadiyah dan lainnya. Dan banyak, dari kelompok minoritas itu yang menderita karena kita juga, tetapi banyak juga yang tak sampai ke pengadilan,” paparnya.

HF yang viral akibat menendang sesaji ketika berada di Gunung Semeru, tercatat pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pada jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah. Namun yang bersangkutan tak menyelesaikan perkuliahannya. Hadfana sempat melanjutkan perkuliahan di kampus lain, dan kemudian mendaftar program magister Pendidikan Agama Islam di UIN Sunan Kalijaga. Meski sempat mendaftar, pria kelahiran Wonosobo Jawa Tengah itu tak menyelesaikan proses administrasi pendaftarannya.

“Nah, maka tidak adil jika kekhilafan yang ini hanya satu orang, harus dihukum,” tandasnya. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar