Kepala BMKG: Kearifan Lokal Perlu Dirawat untuk Mitigasi Bencana

Foto Ilustrasi : Bencana angin kencang di Sleman memicu pohon tumbang yang menimpa rumah warga (Dokumentasi Humas Sleman)

KBRN, Yogyakarta : Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengingatkan, pentingnya kearifan lokal dalam penanggulangan bencana.

Sebab kata dia, hal itu menjadi salah satu bagian penting dari sistem informasi peringatan dini bencana.

"Ini harus tetap dirawat dan ditingkatkan di masing-masing daerah," kata Dwikorita melalui siaran pers tertulis, Sabtu (6/3/2021).

Ia pun mencontohkan, masyarakat Simeulue di Aceh sudah memiliki kearifan lokal mengenai ‘smong’ atau tsunami dalam bahasa daerah setempat.

Cerita dan informasi yang disampaikan secara turun-temurun itu, menjadi sistem peringatan dini yang sangat baik.

"Sehingga banyak yang selamat dari peristiwa Tsunami Aceh 2004 silam," lanjutnya.

Yang pasti kata Dwikorita, upaya mitigasi bencana tidak bisa sepenuhnya mengandalkan infrastruktur dan sarana prasarana dengan sentuhan teknologi modern.

Selain lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat, sistem informasi peringatan dini menggunakan kearifan lokal dapat mendorong masyarakat menjadi mandiri.

Seperti masyarakat di Aceh dan beberapa wilayah di Indonesia, ketika merasakan goyangan gempabumi saat berada di pantai.

"Dalam 10 sampai 20 hitungan, terus saja lari ke tempat yang lebih tinggi. Tidak perlu lagi menunggu sirine dari BPBD,” terang Dwikorita. (ws/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00