Erupsi Merapi Dominan Efusif, Pengungsi Boleh Pulang

Gunung Merapi

KBRN, Yogyakarta : Erupsi Gunung Merapi dipastikan dominan ke arah efusif, dengan ciri-ciri keluarnya lelehan magma dari dalam.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso memaparkan, dari hasil pantauan terlihat sangat kecil peluang terjadinya erupsi eksplosif, yang ditandai adanya ledakan keras, dengan semburan material vulkanik ke udara.

Menguatnya kegempaan, menjadi salah satu pemicunya. Tetapi, data-data aktivitas vulkanik justru menunjukkan berbagai penurunan. Seperti kegempaan internal, dari sebelumnya ratusan kali per hari, kini menjadi hanya 27 kali per hari. Kemudian, deformasi atau penggembungan tubuh gunung, yang sebelumnya 21 centimeter per hari, kini di bawah satu centimeter per hari.

Gas vulkanik juga turun, yang tadinya 740 ppm saat ini menjadi 600 ppm. Sedangkan volume kubah lava mencapai 47 ribu meter kubik, dengan laju pertumbuhan 8 ribu meter kubik per hari.

Namun, volume itu tergolong masih kecil, sehingga jarak jangkauan awan panas jika kubah runtuh secara keseluruhan, masih di bawah radius bahaya lima kilometer.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso

”Probabilitas erupsi dominan ke efusif yaitu 40 persen, dan ini melampaui probabilitas yang lain yaitu eksplosif dan kubah dalam,” kata Agus dalam zoom meeting aktivitas merapi terkini, Sabtu (16/1/2021).

Sehingga, perlu dilakukan penyesuaian rekomendasi potensi bahaya erupsi, karena terjadi perubahan kondisi. Warga yang masih tinggal di pengungsian diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah daerah, baik di Sleman, Klaten, Magelang dan Boyolali. Karena mereka lebih berwenang dalam hal penanggulangan bencana, sedangkan BPPTKG lebih ke rekomendasi bahaya. Jika nanti warga boleh pulang, maka tetap harus bisa beradaptasi dan hidup harmoni dengan merapi.

”Kita sudah diberi manfaat banyak oleh merapi, ketika kita harus menyesuaikan saat merapi butuh ekspresi, itu fair untuk dilakukan,” imbuh dia.

Tunggu Perintah

Dihubungi terpisah, Camat Cangkringan Suparmono, sudah melakukan koordinasi dengan BPBD Sleman, terkait perkembangan baru erupsi Gunung Merapi. Untuk masalah pengungsi, rencananya akan dibicarakan hari Selasa (19/1) mendatang.

"Jadi untuk nanti pengungsi kembali atau tidak, kami menunggu perintah dari Bupati Sleman melalui Kepala Pelaksana BPBD," terangnya.

Apalagi, status Gunung Merapi masih ditetapkan siaga oleh BPPTKG, dengan jarak aman di luar radius lima kilometer dari kawasan Puncak Merapi.

Sebanyak 200 lebih pengungsi kelompok rentan dari Pedukuhan Kalitengah Lor, terdiri dari lansia, ibu hamil, ibu menyusui hingga anak-anak masih menempati Barak Glagaharjo. Mereka terpaksa diungsikan ke tempat aman, karena tinggal pada wilayah yang masuk radius bahaya erupsi.

Proses evakuasi dimulai, pasca BPPTKG menaikkan status Merapi dari waspada ke siaga pada tanggal 5 November 2020 silam.

Awan Panas Ketujuh

Sementara itu, pada Sabtu (16/1) pukul 04.00 WIB, Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas, sejauh 1,5 kilometer ke arah beberapa hulu sungai, seperti Boyong, Krasak, Kuning, Bebeng dan Putih.

Dari catatan BPPTKG, ketinggian kolom awan panas mencapai 500 meter, dan sudah terjadi yang ke tujuh kalinya, sejak keluar pada tanggal 7, 9 dan 13 Januari lalu.

Semua kegiatan penambangan dan pariwisata di wilayah Kawasan Rawan Bahaya (KRB) III, direkomendasikan untuk dihentikan. (ws/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00