Mewarisi Tradisi Cincin Api

Friendly For Disaster

KBRN, Yogyakarta : Masyarakat Indonesia memiliki tradisi ketangguhan dan kearifan, dalam menghadapi berbagai macam bencana, seperti Gunung Meletus, Gempa Bumi dan Tsunami.

Hal ini disebabkan, mereka tinggal pada sebuah kawasan yang masuk dalam jalur cincin api pasifik, ditandai dengan banyaknya gunung berapi aktif di wilayah Nusantara.

Gambaran itu terekam, dalam sebuah ukiran kayu bertema ”Friendly For Disaster” karya Thoha Amri Abdillah.

Ia merupakan seniman kriya kelahiran Gunungkidul usia 29 tahun, yang berhasil meraih penghargaan di kategori lokal konten terbaik, dalam kompetisi Matra Kriya Festival (MKF) 2020, di Pendopo Art Space Yogyakarta Bulan November ini.

Melalui karyanya tersebut, Thoha ingin mengangkat kearifan lokal masyarakat, dalam menghadapi berbagai kejadian bencana alam.

Seperti dalam tradisi di Jawa, nenek moyang jaman dahulu mengajarkan sikap bijaksana dalam menyikapi sebuah peristiwa, bahkan hingga titik terpahit sekalipun.

Misalkan fenomena gunung meletus yang idealnya dikenal sebagai hal menakutkan bahkan mematikan, tetapi hal tersebut justru dijadikan simbol keagungan, sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Contohnya melalui tradisi nyadran, tradisi tumpeng, termasuk simbol-simbol kuno seperti bentuk gunungan wayang, keris, candi dan masih banyak lagi.

Hal inilah yang kemudian, membentuk karakter keseharian dalam masyarakatnya.

”Sehingga berprinsip untung hanya kehilangan harta bukan nyawa, meskipun keadaan sebenarnya memang sedang sial,” terangnya saat dihubungi, Minggu (29/11/2020).

Bahkan, tugas akhir kuliah S1-nya, pada Program Studi Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang mengantarkannya lulus pada 2017, mengangkat hasil riset tentang 20 gunung berapi melalui pendakian.

Kegiatan itu dilakukannya, agar bisa menggali sebuah cerita yang ada di lingkungan masyarakat sekitar.

Dan memang, dirinya sangat tertarik mengkaji tentang kebencanaan salah satunya letusan gunung api, untuk kemudian dituangkan dalam karya seni.

Karena baginya, fenomena tersebut sangat akrab, apalagi disaat aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah sedang meningkat menuju ke tahap erupsi.

Di sisi yang lain, masyarakat juga dihadapkan pada sebuah fakta, yaitu masifnya kejadian pandemi korona.

Dalam karyanya tersebut, Thoha memunculkan simbol-simbol yang lekat dalam budaya masyarakat Jawa, seperti Semar sebagai tokoh pewayangan dan tumpeng yang diberi goresan warna kuning, hingga gambar api, juga warna latar pada pahatan yang dominan coklat.

Pemakaian berbagai warna alami tersebut, menggunakan teknik scrath natural color sesuai hasil eksperimen, yaitu dipetik langsung dari tumbuh-tumbuhan yang langsung digoreskan pada media ukiran kayu. Ini merupakan pengembangan dari teknik bushcraft atau ilmu survival alam bebas. Sedangkan terkait berbagai simbol yang sengaja dimunculkan, memiliki makna khusus.

”Figur Semar ini representasi dari sikap bijaksana, tumpeng sebagai wujud rasa syukur atau segitiga ini menuju ke atas yang artinya satu tujuan kepada Tuhan,” lanjutnya.

Sedangkan gambar api merupakan simbolisasi dari keterpurukan manusia ketika bencana terjadi. Namun, kondisi itu harus dimaknai dalam kondisi terpuruk sekalipun, harus tetap selalu bersyukur.

”Sepertinya tidak perlu kita mengeluh, karena dari dulu bencana ini akrab, harusnya kita segera bangkit melanjutkan kehidupan lebih baik lagi,” ucap dia.

Butuh waktu tiga minggu bagi Thoha, untuk mengkonsep sekaligus mengukir pahatan di atas material kayu gamelina ukuran 110 x 125 centimeter. Dirinya sampai membuat sketsa hingga lima kali, sebelum mengeksekusi karyanya itu.

Dia pun menganggap, seni kriya merupakan akar dan dasar seni rupa di nusantara, sehingga merupakan seni yang paling dekat secara kultur. Terdapat banyak hal yang bisa divisualisasikan di dalamnya.

”Karena kebudayaan nusantara tidak pernah ada habisnya, terus berkembang dalam  berfikir, membuat karya yang lebih inovatif jadi tantangan bagi saya dan seniman lainnya,” ungkapnya.

Thoha Amri Abdillah berdiri paling kanan saat menerima penghargaan

Dari segi pemilihan materi juga wacana yang ditampilkan, karya ”Friendly For Disaster” di mata Musyafa sebagai kurator MKF, memiliki sesuatu yang sangat menarik. Ini terkait filosofi lokal yang direpresentasikan melalui visual tokoh wayang, termasuk gambar gunungan atau tumpeng dipadukan material yang sifatnya alam.

”Nilai lebihnya di wilayah materialnya, Thoha Amri dilihat tim juri berhasil mengaplikasikan pewarna alam di batik melalui kerja tangan, yang sebenarnya cukup susah untuk diterapkan pada material kayu,” katanya.

Ditambah lagi, munculnya wacana yang diangkat dalam karya tersebut, dikaitkan dengan persoalan kebencanaan terkini, yang sedang terjadi di Yogyakarta.

”Tetapi saya kira ini adalah wilayah sublim seniman, dimana hal itu bersangkutan dengan seni kontemporer khususnya kriya,” pungkasnya. (ws/yyw)      

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00