Memori Memilukan 14 Tahun Silam

Rumah warga yang hancur akibat Gempa Bantul 2006

KBRN, Yogyakarta : Danu Wresni memutar kembali memori 14 tahun silam, tepat pada tanggal 27 Mei 2006. Pagi itu, getaran gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter, mengguncang Kabupaten Bantul dan sekitarnya.

Lelaki usia 61 tahun, yang tinggal di Perumahan Trimulyo Blok III, Pedukuhan Blawong 2, Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul itu menyaksikan sendiri, betapa hebatnya daya rusak gempa.

”Begitu ada gempa saya sudah bangun tidur, melihat rumah bagian belakang ambruk, sumur sudah amblong, semua perkakas seperti meja, rak dan piring masuk ke dalamnya,” kata Danu saat dihubungi, Rabu (27/5/2020).

Ia sempat kaget, karena mengira putrinya saat itu masih berada di dapur, namun saat dicek ternyata sudah tidak ada. Danu langsung lari keluar rumah, dan mendapati dua orang anak beserta istrinya sudah berada di tempat terbuka.

”Saya melihat anak cewek saya memeluk anak saya yang lelaki, bersama ibunya sudah ada di Lapangan Voli, saya bersyukur semua diberikan selamat,” lanjutnya.

Sempat Khawatir Bertemu Sultan

Usai melihat kondisi rumahnya yang porak-poranda akibat guncangan gempa, Danu tak langsung menyelamatkan diri. Ia justru mengendarai sepeda motor lawas miliknya, keluaran tahun 1970.

Fikirannya hanya tertuju ke Kantor Gubernur di Kepatihan, tempatnya bertugas waktu itu sebagai staff Humas Pemda. Hanya butuh waktu setengah jam menempuh jarak 13 kilometer, dari rumahnya menuju ke kepatihan.

”Lemari baju saya ambruk semua, sehingga saya hanya pakai kaos jelek, celana pendek, dan sandal, lalu saya lari ke Kepatihan ambil kamera foto, untuk mendokumentasikan kejadian gempa,” terang PNS yang pensiun tahun 2017.

Selama di perjalanan, dirinya melihat banyak masyarakat yang berlarian karena panik, setelah mendengar isu akan terjadi tsunami, padahal itu tidak benar. Bahkan, Danu sempat dicegat lelaki berambut gondrong yang membawa handy talky (HT), mencegahnya agar tidak pergi, namun dirinya tidak peduli.

Sesampainya di Kepatihan, hal tak terduga justru ditemuinya, karena bisa bertatap muka langsung dengan Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton, sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sopir pribadi Ngarsa Dalem (Sri Sultan, red) sempat turun dari mobil, memintanya mendekat untuk menemui Gubernur yang berada di dalam mobil. Ia sempat khawatir Sultan marah, karena dirinya ke kantor hanya memakai kaos, celana pendek dan sandal.

”Ternyata Ngarsa Dalem malah bertanya, piye omahmu (bagaimana rumahmu, red), wah ingkang wingking ambruk (yang belakang ambruk, red) Ngasa Dalem,” kata dia.

Pemandangan Mengerikan

Saat pulang kembali ke Bantul dari Kepatihan, Danu justru menemui pemandangan mengerikan di sepanjang perjalanan. Ia melihat banyak mayat tergeletak di pinggir jalan, namun hanya ditutupi kain seadanya, seperti jarik dan selimut.

Kemudian, pemandangan itu sempat dipotretnya, menggunakan kamera milik kantor yang sudah dibawanya. Kemudian, Danu melanjutkan perjalanan ke wilayah Pundong, Imogiri dan kembali bertemu dengan Sultan di Bawuran Pleret.

”Pokoknya situasi se-Bantul itu saya foto semua, dokumentasinya komplit, dan foto-foto hasil jepretan itu dijadikan arsip daerah,” kenang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, yang kini bekerja di Jogja Istimewa Televisi (JITV) itu.

Kesiapsiagaan Warga

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bantul pada tahun ini, tidak menyelenggarakan acara Refleksi 14 Tahun Gempa 2006, mengingat Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Namun, warga diminta meningkatkan kewaspadaan.

”Apapun bencana yang terjadi di sekitar kita, menjadi bagian dari hal yang sudah digariskan Tuhan, kewajiban kita untuk waspada,” kata Sekda Bantul Helmi Jamharis.

Ia juga mengingatkan, jika Bumi Projotamansari merupakan kawasan rawan bencana alam, tidak hanya gempa bumi saja, namun juga tsunami, tanah longsor, banjir, kekeringan, hingga angin kencang.

Dan di tengah Pandemi Virus Corona yang belum berakhir, Helmi mengajak tidak hanya seluruh lapisan masyarakat, tetapi juga jajaran pemerintah daerah, agar tidak melupakan kejadian gempa bumi 2006.

”Kita harus sadar, kejadian luar bisa di luar perkiraan kita, harus diterima dan dihadapi dengan penuh kesabaran,” pungkasnya. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00