Mitigasi Bencana di Merapi Harus Diduplikasi di Gunung Berapi lain di Indonesia

KBRN, Sleman : Konsep mitigasi dan adaptasi bencana masyarakat di lereng Merapi dinilai sudah bagus. Sehingga, dosen Geografi UGM, Danang Sri Hadmoko berharap hal ini bisa diadaptasi di berbagai gunung berapi lainnya, seperti Semeru.

Karena menurutnya berbeda dengan bencana lainnya seperti banjir dan longsor, gunung berapi tidak bisa dicegah. Sehingga untuk menghadapi erupsi gunung berapi masyarakat di sekitar harus melakukan mitigasi dan beradaptasi.

“Gunung Merapi itu datanya lengkap sekali, dari masyarakatnya, data penduduknya lengkap, dusunnya lengkap, itu gunung favorit para ahli. Ini adalah tugas kita bersama untuk menduplikasi data-data itu di seluruh gunung api di Indonesia,” ujarnya pada konferensi pers di auditorium MIPA UGM, Senin (6/12/2021).

Sementara saat ini menurutnya setidaknya ada 120 lebih gunung berapi aktif di Indonesia. Sehingga dibutuhkan SDM yang banyak dan mumpuni untuk bisa menduplikasi data-data gunung Merapi itu di gunung yang lain. Selain itu tidak semua masyarakat di lereng gunung tersebut memiliki kemampuan mitigasi seperti masyarakat Merapi, termasuk juga warga di lereng Semeru.

“Masalah kita SDM kita terbatas, kalau kita lihat Indonesia ini memiliki 127 gunung api aktif, itu yang sudah diketahui dan ada di daratan, yang di lautan? Negara kita ini luas sekali sehingga PR kita manajemen gunung api ini challenge pemerintah agar SDM kegunungapian ditambah,” lanjutnya.

Sementara terkait dengan kondisi gunung Semeru pasca erupsi akhir pekan kemarin, Danang meminta masyarakat untuk tetap waspada. Karena biasanya pasca erupsi akan diikuti dengan bencana sekunder berupa banjir lahar. Mengingat saat ini juga wilayah Indonesia masih masuk musim penghujan dengan curah hujan yang meningkat karena adanya la nina. (dev).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar