Klub Taekwondo FST Mendasarkan Kurikulum Berbasis Sekolah

KBRN, Yogyakarta: Setelah hampir tiga tahun berdiri Fighting Soul Taekwondo (FST) Indonesia yang memiliki basecamp di Sleman City Hall (SCH) Yogyakarta terus berbenah.

Khususnya terkait kurikulum proses berlatih dan pembelajaran. Bukan hanya prestasi semata yang menjadi tujuan utama klub, namun nilai-nilai pendidikan yang diadopsi dari sekolah diterapkan dan diperkuat di dojang FST.

Anditya Rangga Yudhanta sebagai pendiri menjelaskan ada tiga komponen dasar yang diterapkan di FST sebagai klub yang berbasis sekolah yaitu komponen psikomotor, afektif dan kognitif.

"Jadi dari tiga komponen itu di mana di dalamnya ada implementasi kinerja yaitu kerja anatomis atau raga, kerja otak atau pikiran dan kerja batin atau psikologis yang mempengaruhi sikap, yang mana setiap tiga bulan sekali akan dievaluasi melalui ujian kenaikkan tingkat," ujarnya.

Pria yang karib disapa Rangga kepada RRI, Minggu (22/5/2022) siang, menuturkan, demi meningkatkan kompetensi taekwondoin, mereka digembleng melalui kejuaran dan juga aja latih tanding serta evaluasi.

"Setiap sepekan sekali di dojang kami lakukan evaluasi yang tercatat dalam buku penilaian siswa atau atlet. Ada juga diterapkan sistem degradasi dan promosi seperti di sekolah dengan sebutan kelas akselerasi," ungkapnya.

Tingkatan usia

Devi Allicia selaku pelatih FST mengatakan untuk proses pembinaan prestasi, FST juga membagi tingkatan usia para atlet.

"Di lapangan kami kelompokkan lagi sesuai usia mengingat daya tangkap kognitif berbeda dan kurikulum pembelajarannya pun berbeda. Seperti jika kelas TK sampai SD kelas 2 masih dominan di bermain sehingga faktor psikomotor yag diselipi unsur kognitif kita selipkan," tuturnya.

Saat ini FST menaungi sebanyak kurang lebih 35 Siswa untuk tingkatan usia TK, SD dan SMP yang hampir sebagian besar pernah meraih prestasi di kejuaraan internasional maupun nasional.

Sedangkan untuk tenaga pengajar sendiri FST digawangi oleh Anditya Rangga Yudhanta selaku founder sekaligus pelatih utama yang merupakan alumni FIK UNY jurusan kepelatihan taekwondo, dan dibantu oleh Devi Allicia yang juga mahasiswa psikologi sekaligus pelatih taekwondo, Randi Widiyanto, dan Atrida Hadianti yang juga merupakan tenaga pengajar di salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta.

Dengan konsep klub atau dojang berbasis sekolah ini Rangga berharap kontribusi positif dapat diwujudkan bagi pengembangan serta proses pendidikan dan olahraga di Yogyakarta.

"Khususnya.yang juga bisa memagari kader penerus bangasa dari hal-hal negatif seperti salah satunya aksi klitih," tandasnya. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar