FOKUS: #PON XX PAPUA

Irene Kunci Emas Catur Klasik PON Papua

KBRN, Merauke: Master Internasional, Irene Kharisma Sukandar, akhirnya berhasil meraih sekeping emas dari perhelatan PON XX Papua kali ini. 

Setelah sebelumnya nyaris meraih emas di nomor catur kilat dan cepat, Irene tak ingin mengulang kesalahan di kategori terakhir, nomor catur standar atau klasik. 

Hingga babak ke delapan, Irene menaklukkan Linarti Paputungan asal Sulawesi Utara. Pecatur yang meraih gelar Woman Grand Master di tahun 2009 silam itu mematikan permainan Linarti di langkah 33 kala memegang bidak putih. 

"Saya bermain lebih tenang jika dibandingkan dengan di catur cepat dan kilat," kata Irene. 

Dominasi Irene di nomor catur standar atau klasik, yang merupakan spesialisasinya, diakui sejumlah pecatur yang turun di nomor perseorangan putri. 

Yeyen Rara Bafah pecatur putri Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakui sulit membendung permainan Irene ketika sang pemain tengah on fire atau berada di puncak performa. 

"Emas sudah pasti Kak Irene. Dia menang terus. Hanya peringkat kedua yang masih ketat antara Chelsie, Regita sama Theodora," tuturnya. 

Yeyen sendiri bertengger di peringkat 7 dengan 3 MP. Ia sendiri mengakui persaingan di cabang catur pada PON XX sangat berat. 

"Kalau ditanya persaingan ini memang berat. Karena sebenarnya yang ada di sini adalah 10 besar terbaik," ungkap dia. 

Hal senada juga diutarakan oleh Chelsie Monica Ignesias Sihite. Pecatur nasional yang membela panji Kalimantan Timur (Kaltim) pada PON XX kali ini mengakui lawan terberat adalah Irene Kharisma Sukandar.  

Dua emas yang diraih Chelsie juga sedikit berbau keberuntungan karena, Irene di luar dugaan, takluk dari Theodora Walukow asal DKI Jakarta,  dan beberapa kali bermain remis. Chelsie sendiri telah mengoleksi emas di nomor catur perorangan kilat dan cepat putri. 

"Tetap kalau lawan terberat memang Kak Irene. Saya sendiri bersyukur sudah bisa meraih dua emas," sebutnya. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00