Kenduri Warga Lereng Merapi

Ritual kenduri antar kepulangan warga Kalitengah Lor dari barak pengungsian Glagaharjo

KBRN, Yogyakarta : Lantunan doa  menggunakan bahasa Jawa, dipanjatkan Ngatinu. Sambil duduk bersila, lelaki usia 43 tahun yang terlihat memakai peci sebagai penutup kepala dan jas warna hitam itu, sedang memimpin ritual kenduri.

Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur juga memohon keselamatan kepada Sang Pencipta. Di sekitarnya, 187 warga lereng Merapi dari Pedukuhan Kalitengah Lor, Cangkringan Sleman, mengikuti acara tersebut dengan khidmat. 

Sebagian duduk bersila di dalam tenda besar warna biru, beralaskan karpet babut warna biru dan hijau. Beberapa relawan dari TNI, Polri, termasuk camat dan lurah, ikut duduk berbaur dengan para pengungsi.  Mereka mengelilingi nasi tumpeng, ayam ingkung, jenang hingga jajanan pasar. Sajian itu tertata rapi dalam sejumlah wadah, seperti tampah, piring dan baskom. 

Sebagian pengungsi juga terlihat duduk menyebar di luar tenda, meski terik mentari terasa agak menyengat. Namun, ada juga yang duduk sambil sambil berteduh, di bawah kanopi yang memayungi teras dua buah bangunan di komplek Kalurahan Glagaharjo, yang dijadikan barak pengungsian warga lereng Merapi.

Bagi Ngatinu, ritual kenduri yang dilakukan, untuk mengantarkan kepulangan warga setelah tiga bulan harus tinggal di barak pengungsi Glagaharjo.

”Biar ke depannya diberikan keselamatan, ketenangan, ketenteraman hidup,” kata Ngatinu, Selasa (26/1/2021) usai memimpin kenduri selama 25 menit, yang dilanjutkan acara makan bersama.

Ia memilih bahasa jawa saat memanjatkan doa dalam kenduri, karena menyesuaikan kemampuannya. Apapun bahasa yang digunakan, pada intinya untuk memohon keselamatan. Baginya, erupsi Gunung Merapi yang kini masih terus terjadi, perlu diwaspadai warga yang sudah kembali ke rumah masing-masing. Meski kini, arah ancamannya sudah bergeser, dari sebelumnya ke Tenggara berubah ke Selatan dan Barat Daya.

”Harapan saya status merapi bisa turun ke normal,” ucapnya.

Salah satu pengungsi bernama Ngatinem, merasa senang karena sudah boleh pulang ke rumah secara mandiri bersama pengungsi lainnya, menggunakan armada truk milik warga. Kondisi barak pengungsian yang panas, membuatnya tidak betah tinggal lebih lama lagi.

”Senang bisa pulang, semoga merapi aman,” harapnya.

Selama tinggal di pengungsian, Ngatinem tidak tenang, karena tidak bisa bekerja mencari rumput untuk pakan ternak sapi miliknya. Sehingga setiap jam tujuh pagi sampai empat sore, ia menyempatkan diri pulang ke Kaligengah Lor untuk mencari rumput. Melihat masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi, dirinya tidak terlalu khawatir.

”Yang penting waspada, saya tidak kapok,” kata dia.

Kepulangan Bersyarat

Setelah warga dipulangkan ke rumah mereka, kondisi barak pengungsian di kantor Kalurahan Glagaharjo tetap difungsikan, jika sewaktu-waktu warga harus kembali dievakuasi.

”Kita tidak ingin seperti saat erupsi tahun 2006,” kata Lurah Glagaharjo Suroto.

Saat itu, setelah dipulangkan selama dua hari, warga kembali dievakuasi ke pengungsian. Sehingga untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, tim kesehatan diminta tetap bersiaga di kantor kelurahan. Kepulangan warga ini ucap Suroto, merupakan kebijakan bersyarat selama status Gunung Merapi masih siaga.

”Pertama selalu meningkatkan kewaspadaan, kedua zona tiga kilo dari puncak tidak ada aktivitas,” terangnya.

Seluruh warga Kalitengah Lor wajib mematuhi kedua hal tersebut, sampai nanti hilang ketika status Merapi normal kembali. (ws/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00