Semangat Belajar Saat Lansia, Berhasil Kembangkan Gerai Batik Jumputan

KBRN, Yogyakarta : Usia tidak menghalangi seseorang untuk bergerak aktif berkarya, bahkan memulai suatu usaha baru dari nol. Sri Rumayati Gardjito, salahsatunya. 

Ia menginisiasi Roemah Djoempetan Srihadi Jogja saat usianya sudah tidak muda lagi, yakni sudah 60 tahun. 

Sri Rumayati Gardjito memproduksi kain jumputan klasik Yogyakarta yang dipadu dengan batik cap maupun tulis. 

Usaha itu ia mulai dari nol, setelah ia pensiun dari salah satu Bank BUMN.Menurutnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar meskipun sudah tua. Yang terpenting ialah kemauan dan kerja keras.

"Saya mulai itu dari nol, dari belum tau jumputan sama sekali. Saat itu usia 60 tahun baru memulai. Tapi saya optimis. Saya niat belajar," jelas Sri Rumayati Gardjito, Founder & Owner Roemah Djoempetan Srihadi, di kediamannya, Minggu, (4/10/2020).

Kewajiban terlibat menjadi panitia pelatihan batik dan jumputan di Kelurahan tempat ia tinggal, menjadi awal bagi Sri Rumiyati untuk kemudian mengenal, mencintai, dan berkarya memproduksi batik dan jumputan.

"Gara-gara harus jadi panitia, waktu itu aktif di kelurahan ada pelatihan membatik dan membuat jumputan. Saya jadi panitia pelaksana dan ikut belajar. Setelah itu saya praktekkan. Saya juga pingin tahu, selama ini banyak pelatihan dari pemerintah, tapi tidak berhasil itu masalahnya dimana? Jadi saya coba praktekkan sendiri," tuturnya.

Setelah usaha berjalan, banyak hal baru ia temukan dan menuntut dirinya untuk terus belajar. 

"Saya itu, pernah ikut kurasi di BI. Bawa dua produk. Yang lain bawanya dua koper. Ternyata dua itu dua kategori. Itu pelajaran berharga untuk saya. Kemudian berikutnya lagi saya ikut kurasi lagi, saya bawa dua koper, dan akhirnya lolos," kisahnya.

Tak berhenti di jumputan,Sri Rumayati juga belajar desainer. Ia tertantang belajar desainer karena sindiran sesama peserta pameran batik.

"Waktu acara batik itu, saya lolos ikut. Tapi ternyata harus diperagakan. Ha saya cuma kain saja. Terus akhirnya ada kolaborasi dengan penjahit kebaya. Saya bawahannya, dia atasan kebaya. Karena saya belum punya pengalaman jahit dan desain, kain itu cuma dililit saja. Nah sewaktu menunggu fashion show di belakang panggung itu, ada yang bilang bagus sih kainnya, tapi cuma dililit nilainya kurang. Nah itu akhirnya saya terpancing. Besok lagi saya harus buat desain. Tidak dililit saja. Akhirnya saya kursus desainer. Dari nol gak bisa apa-apa saya sudah bisa gambar orang, gambar baju, make up wajah dll," lanjutnya.

Dari usaha dan berbagai kegiatan yang diikutinya, Sri Rumayati Gardjito menemukan banyak fakta yang membutuhkan pembaruan, jika UKM ingin maju dan bersaing di kancah global.

"Kalau ada yang bilang UKM itu tidak butuh modal, itu bohong. Kalau mau maju ya modalnya harus besar. Modal itu utama. Mau pameran ini itu , buka showroom, tenant dimana-mana ya jelas modalnya semakin banyak tempat , modal semakin besar. Gampangannya saja, berapa produk yang harus disiapkan dan tertahan untuk berbagai kegiatan itu. Kalau tidak punya modal, bagaimana bisa?," katanya.

Menurutnya, UKM bisa maju jika bersatu, saling kolaborasi, mendukung satu sama lain.

"Kelompok itu akan menguatkan. Jadi kalau mau buka showroom yang ngisi bareng-bareng. Terus juga bisa mengatur harga jual. Selama ini, ada juga yang saling menjatuhkan harga, bersaing tidak sehat, ini PR besar kalau UKM mau maju," lanjutnya. (wur/ian)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00