Harapan Surantinah peserta Rapid Tes RRI Yogyakarta: Semoga Sehat Semua

Rapid Tes di RRI Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta : Hawa sejuk dari hembusan udara penyejuk ruangan langsung terasa, saat satu-persatu karyawan LPP RRI Yogyakarta, Rabu (5/8/2020), melangkah ke dalam ruangan Studio 1 yang terlihat cukup luas.

Di dekat pintu masuk menuju ruangan studio, Surya Bachtera salah satu karyawan RRI yang duduk di belakang meja, memanggil nama-nama yang terdaftar sesuai antrian.

Begitu masuk ke dalam ruangan, sapaan ramah beberapa petugas laki-laki dan perempuan yang memakai rompi hitam, menyambut para peserta rapid tes, yang seketika itu langsung diminta menimbang berat badan.

Ambil sampel darah dari ujung jari

Agar antrian berlangsung cepat dan tidak sampai memicu kerumunan, telah disiapkan dua timbangan digital.

Tahap selanjutnya, peserta melakukan cek suhu tubuh menggunakan alat bernama thermo gun, sembari dicatat namanya oleh petugas dari Dompet Dhuafa.

Setelah itu, para peserta diarahkan menuju meja tiga orang petugas medis, yang seluruhnya menggunakan alat pelindung diri bernama cover all warna putih. Di tempat tersebut, salah satu petugas meminta formulir pendaftaran yang dibawa setiap peserta.

Ada dua meja, yang letaknya terpisah satu sama lain. Di atasnya, nampak berbagai peralatan medis, seperti lancet dengan jarum di bagian ujungnya untuk mengeluarkan darah dari jari, sarung tangan latex, alat rapid dan alkohol swab.

Tidak butuh waktu lama bagi karyawan LPP RRI Yogyakarta, untuk mengikuti rapid tes. Masing-masing orang, hanya butuh waktu 10 menit, saat diambil sampel darahnya.

”Terimakasih ya pak, semoga kita sehat semua,” ujar Surantinah.

Petugas medis dari Dompet Dhuafa memakai cover all

Karyawan bagian SDM LPP RRI Yogyakarta itu, nampak sumringah keluar dari Studio 1 usai mengikuti rapid tes.

”Ibuk sudah (rapid, red) buk,” tanya Sukijan, salah satu driver andalan yang dimiliki RRI.

”Sudah urutan satu tadi,” jawab Kepsta LPP RRI Anna Hafidz, sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah kepala. Saat itu, ia melangkah menuju ruang kerjanya, yang tidak jauh dari lokasi rapid tes.

Perempuan berjilbab usia 59 tahun asli Jember Jawa Timur itu berharap, 120 orang karyawan peserta rapid tes non reaktif, baik itu penyiar, reporter, teknik hingga bagian administrasi.

”Kalau memang ada yang reaktif, harus mengkarantina diri selama 14 hari,” ucapnya.

Hasil dari rapid tes ini lanjut Anna, akan segera diumumkan manajemen lembaga, jika rekap dari tim medis Dompet Dhuafa sudah diserahkan.

”Yang penting bisa disiplin menjaga protokol kesehatan,” imbuh dia.

Salah satu karyawati RRI Yogyakarta saat mengikuti rapid tes

Hasil rapid tes, kata Bambang Adi Prasetyo dari Dompet Dhuafa, tidak bisa dijadikan ukuran seseorang terinfeksi Virus Covid-19. Untuk hasil yang lebih pasti, harus melalui swab tes.

”Akurasi rapid hanya 40 sampai 50 persen, jika reaktif belum tentu juga positif,” terangnya. (ws/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00