Warga Klaten Ramai-ramai Budidaya Lalat Maggot

KBRN, Klaten : Lalat, bagi sejumlah warga di Klaten kini tidak lagi dipandang sebagai hal yang menjijikkan. Akan tetapi justru dibudidayakan untuk dapat mendatangkan uang.

Kondisi seperti itulah yang kini digeluti sejumlah warga di beberapa desa di Klaten untuk dibudiyakan atau dikebangbiakkan, khususnya untuk lalat Maggot yang berjenis BSF.

Terkait hal ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DLHK Kabupaten Klaten mendukung warganya mengembangkan budidaya lalat Maggot jenis BSF.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DLHK Klaten, Srihadi mengatakan, warga Klaten yang sudah membubudidayakan lalat Maggot Jenis BSF tersebar di 50 desa di antaranya Desa Joho Kecamatan Prambanan, Desa Krajan Kecamatan Jatinom, Desa Kujon Kecamatan Ceper dan Kecamatan Pedan.

“Dengan adanya pengembangan budidaya lalat Maggot tersebut, Pemkab Klaten Sangat mendukung,” tandasnya kepada wartawan, Selasa (7/7/2020) sore. 

Dikatakannya, lalat Maggot dibudidayakan untuk mengurai sampah rumah tangga yang bisa menghasilkan Maggot. Maggot diolah kembali untuk makanan ternak, seperti lele dan lainnya.

“Kini pihak DLHK masih melakukan pendataan dan juga menganggarkan terkait budidaya lalat Maggot tersebut,” lanjutnya.

Ia berharap setiap desa bisa mengembangkan budidaya lalat Maggot tersebut untuk mengurangi dan mengatasi permasalahan sampah dari masyarakat karena sampah sering mencemari lingkungan.

Sementara itu Kepala Desa Joho Kecamatan Prambanan Klaten, Yulis Tanto mengaku, sudah sekitar 6 bulan ini warganya tidak kebingungan dalam membuang sampah.

“Dengan adanya budidaya lalat Maggot tersebut, saat ini para pemuda karang taruna mengumpulkan sampah organik di rumah yang diambil secara keliling di desa untuk mengambil sampah organik warga,” jelas Yulis.

Menurut Yulis Tanto, dalam pengembangan budidaya lalat maggot ini, setiap dibutuhkan 2 hingga 3 kwintal sampah organik sebagai makanannya.

“Budidaya lalat maggot ini memiliki berbagai macam keuntungan yakni  selain dapat mengurai sampah organik, sisa sampah makanan lalat maggot bisa menjadi pupuk tanaman dan pakan ternak,” terangnya.

Yulis juga menguraikan tentang proses kembangbiak lalat Maggot, yakni dari telur menjadi ke Maggot berlangsung selama 7 hari sampai 14 hari. Dari Maggot ke pre-pupa 20 sampai 28 hari, sedangkan dari pre-pupa ke lalat butuh waktu 28 hingga 45 hari.

“Jadi membutuhkan waktu selama 45 hari dalam perkembangbiakannya,” ujarnya

Ia menambahkan,  lalat Maggot jenis BSF juga memiliki nilai jual yakni per 1 gram laku dijual seharga 10 ribu rupiah. Dan selama budidaya ini bisa menjualnya sebanyak 20 gram sehari.

“Jadi sebulan bisa meraup keuntungan sebanyak 5 juta rupiah, sedangkan  hasil panen dari lalat maggot tersebut bisa disimpan untuk kas warga di masing-masing RT,” pungkasnya. (ril/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00