FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Dedikasi Rani, Bekerja Sepenuh Hati

Relawan PMI berada di area dekontaminasi usai menangani pasien Covid-19

KBRN, Yogyakarta : Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun Miladhiena Rani tidak bisa memejamkan kedua bola matanya.

Mahasiswi usia 20 tahun, yang menuntut ilmu pada sebuah perguruan tinggi informatika swasta di Yogyakarta itu, tidak sedang lembur mengerjakan tugas kuliah dari dosen.

Kedua tangannya nampak memakai sarung tangan medis, begitu juga mulut dan sebagian batang hidungnya tertutup masker.

Rani, sapaan akrabnya, pada Selasa (21/4/2020) dini hari, mengarahkan rekan-rekannya untuk melepas baju selubung pelindung tubuh, usai mereka memakamkan jenazah suspect Covid-19.

Sebagai relawan Korps Suka Rela (KSR) PMI Kabupaten Bantul, ia ditugaskan koordinator lapangan (korlap) membantu Tim Dekontaminasi.

Pekerjaannya, melakukan sterilisasi Alat Pelindung Diri (APD), setelah digunakan oleh petugas penyemprot disinfektan, maupun petugas yang melakukan perawatan jenazah.

”APD kan ada yang sekali pakai langsung buang, ada yang bisa di reuse (digunakan kembali, red), yang bisa di reuse disendirikan lalu dicuci pake air sabun dan cairan disinfeksi yaitu klorin, setelah kering dipake lagi,” imbuh dia.

Rasa khawatir tertular virus corona sempat terbesit di benaknya, setelah mengetahui banyak masyarakat terinfeksi.

Tetapi, demi munculnya rasa aman di masyarakat saat menghadapi teror virus, Rani pun menepis berbagai pikiran buruk di kepalanya.

”Sebenarnya sih (khawatir, red) ada, kita memaksimalkan yang penting membantu, walau tetap mengutamakan keselamatan diri dulu, tetapi saya tidak langsung menangani (dekontaminasi, red) hanya mengarahkan saja,” kata Rani.

Sering Nginap di Kantor

Aktivitasnya sebagai relawan PMI, mengharuskan Rani tetap berada di kantor 24 jam, selama beberapa hari dalam seminggu.

Meski rutinitasnya berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang, hal itu bukan sebuah halangan untuk menjalin komunikasi. Ia pun merasa bersyukur, kemajuan teknologi mempermudah dirinya untuk memberi kabar.

”Komunikasi dengan keluarga Alhamdulillah lancar, biasanya pake WhattsApp grup, kadang telepon, kadang video call, karena tiap beberapa hari sekali pulang, jadi tidak sering komunikasi lewat telepon,” kata dia.

Kuliahnya yang menginjak semester enam ini, juga tidak terganggu padatnya aktivitas di PMI selama berlangsung Pandemi Corona.

Di sela kesibukannya, ia masih bisa mengikuti perkuliahan online menggunakan aplikasi khusus, yang disediakan oleh kampus.

”Biasanya kantor ramai kalau siang hari, kalau terlalu ramai saya keluar dulu agar bisa mengikuti kelas online menggunakan laptop atau via WhattsApp grup,” imbuhnya.

Terinspirasi Sosok Kartini

Rani mulai bergabung dengan PMI setahun lalu, ketika sudah lulus dari SMK 1 Bantul untuk mengisi waktu luangnya. Meski tidak memahami pekerjaan sebagai relawan, tetapi banyak hal dipelajarinya.

Gadis yang tinggal di wilayah Pajangan Bantul itu, awalnya bekerja sebagai petugas administrasi. Ia rutin merekap data harian, data pemeriksaan kesehatan, hingga memperbarui data sebaran pasien Covid.

Sebagai perempuan, Rani meneladani sosok Kartini karena semangat belajarnya tinggi untuk mencapai kemajuan diri, meski dia mengaku, belum sempat membaca goresan pena tokoh pejuang emansipasi wanita itu.

”Tetapi kalau Novel Kartini karya penulis Abidah El Khalieqy pernah baca, bahkan novel itu pernah difilmkan dan saya juga nonton,” pungkasnya. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00