Personel SAR Pantai, Rela Bertaruh Nyawa Evakuasi Korban Tenggelam

KBRN, Yogyakarta : Debur ombak dan hembusan angin laut selatan, menjadi dua hal yang lekat di keseharian Dedi Purwanto usia 32 tahun. Bersama sejumlah rekannya, ia sering berkendara menaiki sepeda motor warna oranye ketika hari masih terang, menyusuri jarak sejauh lima kilometer, di sepanjang pesisir Pantai Parangtritis Kabupaten Bantul.

Kedua bola matanya selalu awas, ketika melihat orang sedang asyik berenang dan bermain air. Dedi pun tak segan mengingatkan mereka, agar berhati-hati terhadap ombak yang sering datang menyapu pasir pantai. Namun, kesabarannya betul-betul diuji, ketika nasehatnya tak digubris wisatawan.

”Namanya pengunjung kan macam-macam karakternya, kalau yang bandel sering, ya harus sabar menghadapi, satu dua kali dikasih himbauan masih ngeyel (keras kepala, red) ditungguin aja disitu, nanti kalau tenggelam terseret ombak kita kejar (diselamatkan, red),” katanya di kawasan Pantai Parangtritis, Senin (10/2/2020).

Bekerja sebagai petugas SAR pantai memang butuh nyali lebih, apalagi saat harus berenang, untuk menyelamatkan serta mengevakuasi wisatawan yang tenggelam akibat terseret arus menuju palung (jurang, red) laut. Sebagai manusia biasa, Dedi pun pernah merasa takut, saat hendak menolong korban kecelakaan air di sekitar pantai.

”Ya takut pasti ada, tapi kan sebelum melakukan penyelamatan kita savety dulu harus diutamakan, setiap anggota SAR wajib pakai pelampung sebelum masuk ke laut untuk mencari dan menolong korban,” imbuh lelaki, yang sudah tujuh tahun menjadi personel SAR pantai.

Tidak dapat dipungkiri, kondisi Pantai Parangtritis memang cukup berbahaya, karena pergerakan palung yang sulit diprediksi. Dedi pun sudah hafal, jika kondisi air tenang dan tidak ada ombak, disitulah palung dengan arus kencang berada dan sering menelan korban jiwa. Kemudian, ia pun memasang rambu-rambu berbentuk bendera, sebagai larangan berenang bagi pengunjung.

Namun takdir rupanya berkehendak lain, pada Sabtu (9/2/2020) lalu Jeven Samuel Rendawa dari Pekanbaru dan Eagan Chang Wen Tan dari Batam, yang sama-sama berusia 20 tahun, harus menjadi korban keganasan ombak besar, yang menyeret mereka ke dalam palung berarus kencang.

Petaka di Malam Hari

Sebelum kejadian, dua mahasiswa dari Jakarta itu bersama enam orang rekannya sesama mahasiswa yang semuanya laki-laki, berkunjung ke Pantai Parangtritis sekitar pukul sepuluh malam. Saat itulah Jeven dan Eagan bersama lima temannya bermain air, hingga berakhir menjadi kisah tragis.

Beruntung, petugas SAR gabungan bisa menyelamatkan lima orang mahasiswa yang ikut bermain air, antara lain Gabriel Zefanya Gerungan usia 18 tahun; Leonardo Manihuruk usia 20 tahun; Fazar Hosea Napitupulu usia 18 tahun; Dante Levi Benedict usia 19 tahun; dan Kevin Hasiholand usia 18 tahun.

Sedangkan seorang mahasiswa bernama Muhammadi Windi usia 20 tahun tetap selamat, karena ia berada di pinggir pantai menjaga barang-barang yang mereka bawa saat ke pantai.

”Korban yang tenggelam sudah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diotopsi,” kata Anggota SAR Parangtritis Ali Sutanto, saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan.

Jasad Jeven berhasil ditemukan pada Senin (10/2) berjarak 300 meter sebelah timur POS SAR Parangtritis. Saat dievakuasi empat petugas menggunakan perahu jukung, kondisi korban terapung di tengah laut berjarak satu kilometer dari bibir pantai. Proses evakuasi berlangsung satu jam mulai pukul enam pagi, sesuai informasi awal dari nelayan setempat. Kondisi ombak cukup besar, menjadi tantangan tersendiri bagi tim evakuasi.

Sehari sebelumnya pada Minggu (9/2), jasad Eagan berhasil ditemukan petugas gabungan dari SAR pantai, personel Dit Pol Air Polda DIY serta relawan setempat sekitar pukul tiga dini hari di sekitar Pantai Parangkusumo, berjarak satu kilometer arah barat Pos SAR Parangtritis.

Pantai Parangtritis Tidak Cocok untuk Mandi dan Berenang

Kasus korban meninggal akibat tenggelam saat berenang di obyek wisata Pantai Parangtritis, tidak hanya terjadi sekali ini saja. Data di POS SAR setempat mencatat, kejadian itu berlangsung sejak 10 tahun terakhir, meski jumlahnya naik turun.

Tahun 2010 jumlahnya mencapai 10 orang, kemudian di 2011 ada 4 orang, tahun 2012 dan 2013 masing-masing 1 orang, tahun 2014 ada 5 orang, lalu di tahun 2015 ada 2 orang, tahun 2016 ada 6 orang, tahun 2018 dan 2019 masing-masing ada 2 orang.

”Pantai parangtritis tidak cocok untuk mandi dan berenang, kalau ada wisatawan ke parangtritis atau pantai selatan untuk mandi ini sudah di luar konteks,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Kwintarto Heru Prabowo.

”Setelah kita monitor terkait dengan kelaziman masuk ke Parangtritis jam sepuluh malam lalu mandi dan sebagainya, kejadian itu agak aneh saja, kalau malam mau wisata pantai, wisata pantai apa, tapi kejadian ini akan kita evaluasi lagi,” tanya dia dengan heran.

Bagi sebagian wisatawan, berkunjung ke Pantai Parangtritis untuk bermain air hingga berenang menjadi sesuatu yang biasa dan sudah lazim dilakukan, meski ada rasa khawatir, pasca kejadian korban tenggelam akibat terseret ombak.

”Sudah biasa (berenang, red) juga sih, tapi juga harus hati-hati sih karena ombaknya sering berubah juga karena ada palung,” kata Megawati (21) tahun, wisatawan dari Kota Yogyakarta. (ws/yyw).                     

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00