FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Kabar Buruk di Sore Hari

Foto ilustrasi pohon tumbang

KBRN, Yogyakarta : Ponsel milik Ahmad Fauzi membunyikan nada dering sore itu. Dari ujung speaker, terdengar suara yang mengharuskannya segera beranjak pulang dari tempat kerjanya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Hujan deras disertai angin kencang, membuat raut wajah lelaki warga Dusun Durenan Tejo, Padukuhan Ngangkrik, Triharjo Sleman itu tampak makin kusut.

Kondisi itu menahannya agar tidak segera keluar ruangan, hatinya bergidik melihat tumpahan air dari langit yang tak terkira jumlahnya. Ditambah lagi, ulah liar angin yang membuat ujung batang pohon meliuk bagai tubuh penari yang sedang pentas.

Setelah kondisi hujan deras dan angin kencang agak mereda, Ahmad langsung keluar ruangan menuju ke tempat parkir. Tidak butuh waktu lama, ia langsung memacu kendaraannya menuju rumah, karena memang sudah waktunya pulang. Saat itu, jalan raya licin karena basah, dan nampak genangan pada jalur aspal yang bergelombang.

Ketika sampai di kediamannya, terlihat pemandangan yang tidak biasa. Istana tempatnya setiap hari berteduh dengan keluarga telah porak poranda, dihantam batang pohon randu setinggi 1,5 meter dengan ukuran lingkar batang sekitar tiga meter.  

Ia coba mendekat, dan menyaksikan sendiri kerusakan parah pada sejumlah bagian bangunan, terutama atap, sanitasi air, saluran listrik, tembok hingga seisi rumahnya. ”Kalau ditotal kerugian saya Rp 350 Juta,” ucapnya, Kamis (23/6/2022), saat mengenang insiden pohon tumbang tanggal 21 Maret silam.

Proses evakuasi barang-barang berharga dari rumahnya termasuk menyingkirkan batang pohon, butuh waktu hingga pukul sebelas malam. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, karena rumah dalam keadaan kosong. Istri dan anaknya sedang berada di Magelang untuk menikmati masa liburan sekolah.

Tiga bulan pasca kejadian tepatnya tanggal 20 Juni kemarin, Ahmad memperoleh bantuan dana stimulan dari BPBD sebesar Rp 12 Juta. Meski jumlahnya tidak seberapa, tetapi uang itu sedikit meringankan bebannya.

Untuk menutupi kekurangan biaya rehab rumahnya, ia terpaksa meminjam uang di bank sebesar Rp 100 Juta. Meski dirasa berat, namun tidak ada pilihan lain baginya. Selama menunggu proses perbaikan rumah selesai, istri dan anaknya masih mengungsi ke tempat saudara di Magelang Jawa Tengah.

Selama periode Maret hingga April, 138 kepala keluarga di wilayah Sleman, terdampak bencana hidrometeorologi, seperti angin kencang dan tanah longsor. Namun, ada juga rumah warga yang dilalap api.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung menghitung estimasi kerugian akibat insiden bencana tersebut, meski anggaran daerah hanya mampu menanggung kerugian sekitar Rp 148 Juta.

”Bantuan yang diberikan beda-beda, sesuai kondisi kerusakannya,” kata Makwan, Kepala Pelaksana BPBD Sleman.

Sesuai hasil verifikasi lapangan ia pun merinci, untuk kerusakan ringan seperti genting rontok, bantuan yang diterima Rp 200 ribu, sedangkan bangunan rumah yang rusak berat, pemiliknya menerima Rp 12 Juta. (ws)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar