Nikah Unik di Sleman, Ijab Qobul di Tengah Sungai

Prosesi Ijab Qobul di tengah sungai, dalam acara Nikah Bareng Merapi, di kawasan Pakem Sleman, Kamis (19/5/2022)

KBRN, Yogyakarta : Susi Fatia Anggraini usia 20 tahun dan Setyo Setiawan usia 22 tahun, terlihat bertelanjang kaki saat keduanya masuk ke dalam air setinggi mata kaki. Dua sejoli ini, mengikuti prosesi akad nikah, di tengah sungai kecil yang berdekatan dengan grojogan (air terjun, red) wilayah Pakem Sleman, Kamis (19/5/2022). 

Mereka memakai busana Paes Ageng Muslim, yang didominasi warna biru, dihiasi motif bordir meliuk, sekilas seperti gambar tumbuhan. Busana tersebut dipopulerkan Annisa Pohan, sewaktu menikah dengan Agus Harimurti Yudhoyono tahun 2005 silam.

Terlihat pula, riasan paes prada di bagian kening pengantin perempuan, sedangkan pengantin lelaki memakai blangkon hitam gaya Yogyakarta, karena ada mondolan di belakangnya. 

Tidak hanya mereka, petugas penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat juga ikut melepas sepatu dan kaos kaki, untuk memimpin prosesi sakral pengucapan janji sehidup semati. Pernikahan keduanya terasa spesial, karena dihadiri langsung Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa sebagai saksi.

Puluhan tamu undangan yang mengabadikan momen langka itu, terpaksa berebut posisi dengan juru gambar, termasuk para jurnalis yang ikut mengabadikan acara tersebut, menggunakan kamera handphone maupun kamera video. 

Ada yang jongkok diantara bebatuan besar, yang melintang di tengah sungai, tetapi ada juga yang berdiri di atas tanggul. Sedangkan Wakil Bupati terlihat duduk di tanggul sungai, beralaskan bantal kecil berlapis kain spanduk. Di sebelahnya, duduk salah satu tamu VIP yang juga didaulat sebagai saksi. 

Selama beberapa menit, prosesi Ijab Qobul berlangsung khidmat. Dari speaker suara Setyo terdengar, sembari tangan kanannya dalam posisi bersalaman dengan petugas penghulu. Kedua bola mata pengantin perempuan, fokus menatap meja, yang diatasnya terletak mahar berupa cincin kawin perak empat gram, beserta satu kilogram buah salak pondoh. 

Prosesi sakral itu hanya berlangsung beberapa menit saja, atmosfer bahagia pun tercipta, terlihat dari senyuman yang terpancar hingga muncul suara cukup keras dari mulut beberapa orang. "Sah..!!!, Alhamdulillah," kata mereka. 

Sejak pagi, panitia sudah menyiapkan satu buah meja di tengah sungai, yang nampak dikepung tiga buah kursi karena ditata saling berhadapan, untuk menyatukan dua hati dalam ikatan suci. Satu kursi diletakkan di sebelah barat meja untuk penghulu, dan dua kursi di sisi lainnya untuk sepasang pengantin. 

Susi dan Setyo merupakan peserta Nikah Bareng Merapi dengan kemasan unik, karena berada di sekitar Kebun Salak dan bendungan sungai, yang membentuk air terjun meski tidak terlalu tinggi. Susi sang pengantin perempuan bersama pasangannya memutuskan menikah setelah tiga tahun menjadi sepasang kekasih. 

"Senang banget, kan jarang ya, merasa unik saja gitu," kata Susi pengantin perempuan. 

Selain pasangan Susi dan Setyo, ada enam pasangan lain yang menikah di hari dan waktu bersamaan. Masing-masing menggunakan busana daerah, karena bersamaan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. 

Seperti pasangan Agus Suyanto dan Siti Aminah, keduanya berasal dari Sleman melakukan prosesi Ijab Qobul di atas Gejlik atau pintu air. Mereka memakai busana dari Sumatera Barat.

Ijab Qobul di atas Gejlik atau Pintu Air

Kemudian pasangan Krisna Adi Nugroho dari Bantul dan Anggita Zahra Aulia dari Sleman yang melaksanakan prosesi Ijab Qobul di bawah rimbunnya pohon Salak Pondoh, terlihat mengenakan busana dari daerah Palembang. 

Untuk empat pasangan lainnya, telah mengikuti prosesi Ijab Qobul di kantor KUA setempat. Antara lain Ngadiyono dan Sumiyem keduanya warga Sleman yang memakai busana daerah Lampung. 

Ada juga Dwi Kartika Sari dari Sleman dan Sumadi dari Bantul, yang memakai busana daerah Bugis. Sedangkan Giyanto warga Sleman dan Winarsih dari Batam memakai busana Batak Mandaleng, juga Supriyati dari Kota Yogyakarta dan Darmono dari Sleman yang memakai busana Sunda Siger. 

Kota Perjodohan Dunia

Forum Taaruf Indonesia (FORTAIS) yang berkantor di Sewon Bantul Yogyakarta, menjadi penggerak acara Nikah Bareng Merapi. Hingga kini, komunitas tersebut sudah menikahkan 15 ribu pasangan, dengan kemasan kreatif sebagai ciri khasnya.

Ijab Qobul di bawah Pohon Salak Pondoh

Bagi Ryan Budi Nuryanto selaku Ketua FORTAIS, Kabupaten Sleman dengan kekayaan alam dan ragam kulinernya, sangat potensial dijadikan Wedding Destination di DIY. Ini menjadi upaya membangkitkan perekonomian masyarakat setelah dua tahun didera pandemi. 

Dan juga merupakan saat yang tepat, karena bersamaan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Sehingga lewat acara ini, Ryan mengajak yang belum menikah, agar segera menikah di Yogyakarta secara gratis karena dukungan dari berbagai pihak. "Yogyakarta bukan hanya Kota Pelajar, tapi juga Kota Perjodohan," ucapnya. 

Sedangkan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa tampak antusias, menyaksikan prosesi Nikah Bareng Merapi yang dikemas secara unik dan berada di alam terbuka. Saat datang ke lokasi acara, perhatiannya sempat tertuju ke meja dan kursi yang ada di tengah sungai. 

"Saya tertarik sekali Ijab Qobul di atas air," kata Danang yang menurutnya, air menjadi sumber kehidupan manusia, sehingga diharapkan pasangan pengantin yang melakukan prosesi akad di atas air, bisa menjadi suami istri yang langgeng. 

Sebelum mengakhiri sambutannya, Danang sempat menyampaikan celetukan di hadapan para tamu undangan, serta ke tujuh pasang pengantin. "Tadi ada yang ngomong, ngertio aku mau melu nikah (tahu begitu aku tadi ikut nikah,red)," ucapnya yang langsung disambut tawa orang-orang disekitarnya. (ws)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar