Abdul Muhaimin : Jejak Kyai Pengawal Perdamaian dan Toleransi

KBRN, Yogyakarta: Nama Abdul Muhaimin akan selalu lekat dengan kata toleransi dan pluralisme. Hal itu tak keliru karena sosok ulama dan juga pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat Kotagede Yogyakarta ini merupakan tokoh terdepan dalam menjalin semangat persatuan atau ukhuwah.

Tak hanya dengan sesama umat Islam, tetapi juga dengan komunitas atau masyarakat lintas agama. Rekam jejak ulama yang lahir 13 Maret 1953 tersebut telah banyak diakui oleh pemuka agama lintas iman.

Ulama kelahiran Kampung Prenggan, Kotagede memang, telah terbiasa sejak kecil hidup dengan semangat toleransi yang tinggi. Hidup di kampung yang mayoritas merupakan pengikuti ormas Islam, Muhammadiyah, sementara Abdul Muhaimin dibesarkan dengan kultur Nahdatul Ulama, tak membuatnya menjadi eksklusif.

Menyikapi masalah bangsa dan negara saat ini, Abdul Muhaimin, menuturkan, persoalan  atau tantangan terberat bangsa Indonesia ke depan adalah mempertahankan agama sebagai wahana terciptanya perdamaian di tengah keberagaman, dan bukan malah sebaliknya.

“Persoalannya itu bagaimana kita meng-create agama ini 20 tahun ke depan. apakah itu masih dijadikan alat untuk gelut (berkelahi, red) seperti ini. Bukan menjadi kontribusi moral, kontribusi kemanusiaan, kontribusi nasionalisme,” ujarnya, Rabu (1/12/2021) siang.

Lingkungan Abdul Muhaimin kecil justru semakin membesarkan bibit toleransi serta keberagaman yang dimilikinya. Bahkan, Ketua Yayasan Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Jakarta ini pernah mengenyam bangku pendidikan di sekolah Muhammadiyah dan kemudian melanjutkan ilmu ke-Islam-an di pondok pesantren Krapyak.

Cari ruas sambung

Upaya progresif untuk membangun komunikasi antar umat beragama banyak dilakukan Abdul Muhaimin. Pada perayaan Natal 2014 silam misalnya, Kyai Abdul Muhaimin memberikan khotbah di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Samirono Baru. Ketua Konsorsium Palem itu mengajak agar seluruh elemen bangsa Indonesia, siapa pun dia, dan apapun keyakinannya, untuk menjaga kedamaian di Tanah Air.

Dengan gayanya yang khas dan humoris, Abdul Muhaimin berhasil membuat jemaat gereja yang tengah merayakan Natal tak beranjak dari kursi mereka untuk mendengar apa  yang disampaikan sang kyai.

Ia pun juga yakin jika budaya Indonesia yang adiluhung dan beragam seharusnya mampu menjadi ikon Indonesia, termasuk dalam upaya menjalin perdamaian dan bukan malah membebek budaya asing.

“Apakah kita hanya menjadi epigon, begitu tertariknya kita dengan Drakor (Drama Korea), dengan budaya-budaya luar. Kita itu lebih kaya kok. Contohnya, arsitektur kita lebih kaya jika dibandingkan luar, kalau di luar arsitektur hanya sebatas fungsional semata,” terangnya.

Di tahun 1997, Kyai Muhaimin menggagas berdirinya Forum Persaudaraan Umat Beriman atau FPUB. Lembaga yang hingga kini sangat lekat dengan nama sang kyai itu, dibentuk sebagai forum dialog demi menjaga kerukunan antar umat beragama.

Melalui kerja sama erat dengan pemuka agama lintas iman, FPUB berdiri untuk merekatkan persatuan dan kesatuan masyarakat dengan keberagaman yang ada.

“Memang perbedaan itu seperti dua mata pisau. Ketika kita tidak pandai-pandai dan bijak menemukan ruas sambung, maka yang terjadi persoalan-persoalan kecil yang menimbulkan friksi. Dan kalau itu dibiarkan tidak ada upaya yang lebih intensif lagi, mungkin itu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan,” paparnya.

Perekat kebhinekaan

Pendirian FPUB yang digagas bersama 70 orang pemuka agama, juga dilatarbelakangi adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sejak aktif di FPUB, Kiai Muhaimin kerap diundang untuk berceramah di gereja, tak terkecuali saat perayaan Natal.

Hingga kini, sosok kyai berusia 68 tahun itu tetap konsisten menjadi perekat kebhinekaan dan sekaligus memperjuangkan aspirasi kaum marjinal. Forum Persaudaraan antar Umat Beriman atau FPUB yang didirikan pada 24 Maret 1997 silam, terus menjadi wahana perjuangan sang kyai terus mengawal perbedaan sebagai sebuah rahmat Allah SWT.

Demi menjaga harmonisnya kerukunan antar umat beragama, Abdul Muhaimin pernah terjun langsung mengunjungi warga pengungsi korban erupsi Merapi 2010. Kala itu, banyak warga yang ditampung di sejumlah gereja.

Apa yang dilakukan Muhaimin itu untuk menangkal aksi intoleran yang dilakukan sekelompok oknum yang kala itu memprovokasi dengan isu adanya upaya kristenisasi bagi para pengungsi. Insiden tersebut sempat menyebabkan 200 pengungsi yang menginap di Kompleks Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus diusir paksa. Namun berkat pencerahan yang dilakukan sang kyai, masyarakat dapat menghapus fitnah yang sempat beredar.

Meski kerap dianggap sebagai sosok kyai kontroversial, Abdul Muhaimin tetap mengisi jalan hidupnya untuk terciptanya Yogyakarta yang damai dan juga Indonesia yang damai. Contohnya, ia juga menjadikan pondok pesantrennya di Kotagede sebagai melting pot atau tempat pertemuan bagi tokoh bermacam agama dengan berbagai sektenya, kelompok kepentingan, banyak peneliti serta pengamat dari dalam dan luar negeri.

Terbaru, KH Abdul Muhaimin, dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pesantren Indonesia (DPP IPI) untuk masa bakti 2021 – 2026. Keberadaan Ikatan Pesantren Indonesia yang dideklarasikan di Surabaya pada 1 Juli 2021 lalu, kini menjadi wahana baru gerakan perjuangan sang kyai untuk meneguhkan semangat kebangsaan, dengan nilai-nilai pluralisme, toleransi dan humanisme. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar