FOKUS: #PON XX PAPUA

Noken, Warisan Budaya Tak Benda Unesco Suvenir PON Papua

KBRN, Jayapura : Unesco resmi menetapkan Noken Papua sebagai Warisan Budaya tak Benda pada 2012 lalu. Di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua ini, sebanyak 25 ribu noken dijadikan souvenir resmi bagi atlet dan ofisial di ajang tersebut.

Menurut salah seorang penjual noken di stand UMKM venue pencak silat, Carolin Waisimon, meski sama-sama berbahan kulit kayu, tetapi noken ini memiliki perbedaan satu sama lain. Tergantung dari suku yang membuatnya.

“Tergantung bahannya, karena kalau di Papua itu kan kita sukunya banyak. Ada lima suku besar, dari setiap suku besar ada suku-sukunya lagi di dalam itu dan itu rajutannya beda, bahannya beda, menyesuaikan dengan apa yang ada di sana. Rajutannya sendiri-sendiri, ciri khas nahan bakunya sendiri-sendiri, menyesuaikan dengan tempat mereka tinggal. Gunung, lembah, pesisir, punya bahan sendiri-sendiri,” urainya.

Di suku Namblong tempat asalnya di Genyem, Jayapura, noken ini juga mempunyai nama sendiri, yakni Kbo. Khusus dari sukunya, noken ini terbuat dari pohon yang tumbuh dari bekas perkebunan.

“Nanti ada ukuran batang dan umur pohon tertentu yang mama-maka Papua itu dia ambil, potong, terus dia robek kulitnya lalu dia garuk untuk ambil seratnya. Dicuci di air mengalir supaya getah-getahnya hilang, baru dijemur, habis itu sudah kering mereka pintal pakai paha satu per satu setiap benang itu,” lanjutnya.

Setelah jadi benang, kemudian mama-mama akan merajutnya menjadi tas noken, atau ada pula yang membuat menjadi pakaian dan dress. Untuk membuat satu tas noken berukuran kecil, Carolin menyebut dibutuhkan waktu hingga tiga hari sejak proses awal membersihkan kulit kayu hingga jadi.

“Kalau yang besar bisa 4-5 bulan, karena mereka harus sambil berkebun. Kalau yang besar bisa bawa anak, bisa bawa ternak, hasil kebun, bisa berkilo-kilo bebannya. Karena dia melar, jadi dibawanya mereka biasanya di kepala karena dia melar, noken itu mengikuti isinya. Jadi kalau besar dia akan melar begitu,” kata Caroline.

Untuk perawatan, menurut Caroline tidak sulit karena noken ini terbuat dari bahan alam yang tahan lama dan bisa digunakan bertahun-tahun. Bagi pemilik noken, mereka bisa mencucinya di air biasa jika kotor atau menggunakan sampo untuk membersihkannya. Satu tas noken dijual berbeda-beda tergantung ukuran dan bahannya. Berkisar antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.

Meski terlihat mahal, tetapi harga ini sepadan dengan daya tahannya yang lama serta proses pembuatannya yang masih manual menggunakan tangan. Salah seorang pembeli noken, Siti dari Purworejo, Jawa Tengah menyebut awalnya ia menilai harga noken cukup mahal. Namun, setelah mengetahui proses dan bahan pembuatannya, ia justru merasa harga tersebut sangat terjangkau.

“Harganya kalau yang tidak tahu mungkin anggapannya mahal, tapi dari segi kreatifitas sepadan. Apalagi bahannya juga dari kayu ya kalau dari keterangan ibu penjualnya,” kata Siti. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00