FOKUS: #PON XX PAPUA

Berkunjung ke Pos Lintas Batas Negara di Ujung Timur Indonesia

KBRN, Jayapura : Berkunjung ke Jayapura, tentu tidak boleh melewatkan Pos Lintas Batas Negara yang merupakan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.

Hal ini lah yang dilakukan oleh sejumlah kontingen Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua. Salah satunya Eka, ofisial KONI Aceh yang menyempatkan berkunjung di sela-sela jadwal pertandingan. Namun, Eka dan rombongannya tak bisa menyeberang ke Papua Nugini karena gerbang perbatasan ditutup.

“Lumayan takjub juga bisa sedekat ini, kirain agak jauh. Dari Sabang bisa sampai ke sini, tapi saya awalnya ke Merauke juga jadi dari Sabang ke Merauke sudah. Di nol kilometer dan ada perbatasan begini juga, bisa langsung masuk kalau di sana ke Papua Nugini, kebetulan dibuka dan dikawal,” urainya.

Hal yang sama disampaikan salah satu atlet panahan DIY, Titik Kusumawardani. Bersama dengan rekan-rekan sesama atlet dan pelatih, usai jadwal pertandingannya berakhir, Titik langsung bertolak ke perbatasan yang membutuhkan waktu sekira dua jam perjalanan darat dari Kabupaten Jayapura tempat mereka menginap.

“Senang aja, soalnya kan mengunjungi perbatasan. Baru pertama ke Papua dan ke perbatasan, tapi ngga sempat menginjakkan kaki tadi ke seberang hanya foto-foto,” ujarnya.

Petugas jaga tapal batas, Haidar mengaku kunjungan selama PON ini memang meningkat. Banyak kontingen baik atlet, pelatih, maupun ofisial yang berkunjung ke perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini ini.

“Sejak PON ini ramai, karena salah satu kita dari PLBN menyukseskan PON. Kunjungan per hari lebih dari 500-700 sejak PON ini. Akhir pekan lebih banyak sudah dua pekan ini dari berbagai daerah. Dari cabor-cabor yang sudah selesai atau yang wasit-wasit itu semua,” kata Haidar.

Sejak pandemic kurang lebih dua tahun belakangan menurut Haidar, sebetulnya pemerintah menutup pintu perbatasan. Pengunjung hanya diizinkan sampai pintu gerbang bagian depan. Namun, khusus untuk PON ini pihak PLBN mengizinkan pengunjung untuk masuk hingga ke gerbang perbatasan yang tampak baru dan belum lama dibangun itu.

“Untuk sekarang perlintasan tidak ada sama sekali, sejak pandemic itu selama dua tahun itu tidak ada. Dulu aktif dari PNG datang ke sini untuk kegiatan ekonomi jual beli ka nada pasar di bawah itu, pasar sekarang kan tutup,” lanjutnya.

Kawasan perbatasan ini menurut Haidar biasa dibuka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIT. Untuk bisa masuk sampai batas perlintasan wisatawan terlebih dahulu harus meninggalkan kartu tanda penduduk di pintu gerbang depan yang dijaga oleh aparat.

Di pintu gerbang pertama ini juga terdapat kantor Stasiun Produksi RRI Perbatasan Skouw (RI-PNG) di sisi kanannya. Namun, bangunan tersebut saat ini tidak lagi difungsikan dan digunakan oleh aparat penjaga perbatasan.

Setelah memasuki gerbang pertama, pengujung kmudian berjalan kaki menuju ke gerbang perbatasan, sekira 500 meter. Dengan melintasi bangunan check point, kantor karantina, dan pemeriksaan imigrasi bagi yang akan melintas batas. Haidar menambahkan sejak pandemi pengunjung juga wajib menerapkan seluruh protokol kesehatan.

“Di sini ada banyak instansi, ada imigrasi untuk perlintasan, karantina, bea cukai,” jelasnya.

Selain di Skouw, Jayapura, pintu perbatasan ini juga ada di Merauke yang juga titik nol kilometer. Sementara panjang perbatasan Indonesia dan Papua Nugini tercatat mencapai 770 km. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00