FOKUS: #PON XX PAPUA

Menikmati Keindahan Stadion Terbaik di Asia Pasifik di Tanah Papua

Stadion Lukas Enembe

KBRN, Jayapura : Pembukaan Pekan Olahraga Nasional berlangsung dengan meriah pada akhir pekan lalu di Stadion Lukas Enembe. Presiden Joko Widodo kala itu sempat memuji Stadion ini sebagai yang terbaik di Asia Pasifik.

“Perasaan saya dan perasaan saudara-saudara pasti sama, kita bangga ada di tanah Papua dan kita bangga berada di stadion terbaik di Asia Pasifik ini,” kata Presiden pada saat membuka PON, Sabtu (2/10).

Klaim Presiden ini tidaklah berlebihan. Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Papua, Alex Kapisa mengatakan, dari hasil kontestasi stadion-stadion terbaik di dunia pada 2020 lalu, venue ini masuk dalam urutan ke enam stadion terbaik di dunia.

“Sebagai warga negara Indonesia, secara khusus warga Papua, kita patut berbangga. Karena, stadion Lukas Enembe pada 2020 lalu ketika mengikuti kontestasi stadion-stadiont terbaik di dunia itu stadion Lukas Enembe masuk dalam urutan ke enam stadion terbaik di dunia,” ujarnya.

Stadion ini berkapasitas 42 ribu orang dan diresmikan pada 23 Oktober 2020 lalu oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe. Proses pembangunannya berjalan selama dua tahun sejak 2017 hingga 2019 akhir. Dengan total anggaran dari APBD Papua mencapai Rp 1,3 trilyun. Dengan sejumlah fasilitas terbaik yang diberikan untuk pengunjung. Mulai dari penerangan, soundsystem, parkir yang luas dan toilet yang tersebar di setiap tribun.

“Luasan 28 ribu meter persegi. Fasilitas kita menggunakan lighting kita yang terbaik dari Korea itu bisa mengikuti suara soundsystem, jadi seperti menari-nari lightingnya dan ini baru pertama kali digunakan di Indonesia,” lanjutnya.

Selain itu juga terdapat sejumlah fasilitas lain seperti lapangan untuk pemanasan dan venue atletik serta aquatic. Khusus lapangan bola di dalam stadion, Alex menyebut pihaknya juga menggunakan rumput terbaik, Zoysia Matrella, seperti yang digunakan di Stadion Gelora Bung Karno.

“Matrella ini sangat sensitive sekali sehingga berpengaruh juga dalam perawatan dan memakan pembiayaan cukup besar, sekali kita merawat dua lapanga, satu lapangan utama dan lapangan pemanasan yang ada di kawasan Kampung Harapan ini kurang lebih sebulan sampai Rp 190 juta,” jelasnya.

Selain itu dari sisi arsitekturnya, stadion ini juga menggunakan berbagai hiasan yang menggambarkan cirri khas Papua.

“Faktor desain arsitekturnya, dimana terdapat ukiran-ukiran dari suku Tabi, khususnya di wilayah Sentani. Mungkin kalau dapat dilihat itu kurang lebih segitiga-segitiga yang menjadi cover di luar stadion yang jadi daya tarik dari segi arsitekturnya. Kemudian lokasinya yang di bawah kaki gunung dengan kondisi alam yang sangat baik,” kata Alex.

Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda ini juga meyakinkan Stadion Lukas Enembe dan berbagai venue yang dibangun dan dimanfaatkan untuk PON ini ke depan tidak akan terbengkali.

“Kami jamin tidak akan mangkrak, kami belajar dari penyelenggaraan PON di daerah lain mungkin mereka tidak punya desain di dalam mengelola itu. Kita akan manfaatkan untuk cabor pilihan yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Papua untuk menjadikan stadion utama di kawasan Kampung Harapan ini kita akan manfaatkan dengan mendirikan akademi sepakbola Papua dan atletik Papua,” urainya.

Presiden pun telah menyetujui agar Papua ini menjadi Propinsi Olahraga. Sebuah payung regulasi yang tentunya bisa diterjemahkan oleh Pemerintah Daerah setempat untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga setelah PON. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00