Penyiar Pertandingan Sepakbola di Radio yang Tak Tergantikan

KBRN, Yogyakarta : Radio is a theater of mind. Hal ini salah satunya dirasakan ketika kita mendengar langsung laporan pandangan mata pertandingan sepakbola di radio. Dimana penyiar akan menggambarkan secara langsung jalannya pertandingan melalui kalimat mereka dan membawa pendengar mengimajinasikan bagaimana si kulit bundar diperebutkan.

Adalah seorang pensiunan RRI Yogyakarta, Widayanto, yang dahulu juga rutin bertugas menjadi penyiar pertandingan ini. Sejak 2006, ia didapuk untuk menjadi reporter laporan pandangan mata pertandingan olahraga, baik itu sepakbola, bola voli, maupun badminton. Berawal dari kebiasaannya memandu jalannya pertandingan di kantor setiap perayaan hari Radio, Pak Wid begitu ia biasa disapa, kemudian diminta terjun menjadi reporter olahraga.

“Tapi Pak Wid suka ini ya bantu-bantu kalau pas hari radio di RRI itu suka reportase itu. Untuk masalah teori ya nol, hanya asal saja, tapi lama kelamaan itu kok ya seneng juga ngomong di siaran radio itu, awalnya sebetulnya itu lama kelamaan kok jadi kebiasaan, awalnya juga seneng, senengnya itu meskipun bukan bidang saya tapi modal utamanya seneg dulu,” katanya.

Berbekal pengalaman itu, Pak Wid bahkan sempat diminta memandu jalannya pertandingan antara tim nasional Indonesia melawan Makau ketika bertanding di Riau pada 2012 lalu. Pada saat itu, Pak Wid tengah mengikuti pelatihan untuk reporter PON, ia dan rekan-rekan dari RRI yang berkumpul di Riau kemudian diminta untuk memandu jalannya pertandingan itu.

“Pak Wid paling tua sendiri, yang lainnya muda-muda, mereka semangat sekali sebelum pertandingan itu, tapi begitu pertandingan ngga ada yang bisa, malah Pak Wid yang mandu akhirnya,” ceritanya.

Meskipun sudah terbiasa, Pak Wid mengaku tetap melakukan persiapan sebelum siaran pertandingan. Biasanya ia akan menghapal nama-nama pemain dan menyusun skema atau formasi masing-masing tim yang akan bertanding. Hal ini digunakannya sebagai panduan ketika menyampaikan laporan pandangan mata. Agar tak membosankan, Pak Wid juga menyebut reporter harus berbekal dengan berbagai istilah yang menarik.

“Paling susah itu kalau pemainnya dari luar negeri, nyebutnya suka salah, susah soalnya,” katanya.

Jejak Pak Wid ini kini diikuti oleh beberapa anak muda. Adalah Rizal, warga Banjarnegara yang kini tinggal di Yogyakarta. Ia mengaku pernah diminta membantu bidang siaran PT LIB untuk memandu jalannya pertandingan sepakbola di Yogyakarta.

“Awalnya itu kan kalau ngga salah itu penyiar RRI Surabaya (yang diminta) tapi karena ngga datang itu panpelnya itu minta siapa yang bisa komentator, yawis akhirnya aku yang diminta,” katanya.

Sebagaimana Pak Wid, Rizal juga mengaku mempersiapkan skema atau gambaran formasi dari masing-masing tim untuk bekal memandu jalannya pertandingan. Namun, ia mengaku tidak mudah dalam memandu ini karena harus berpikir dengan cepat dan menyesuaikan apa yang dilihat dengan apa yang disampaikannya kepada pendengar.

“Nyari kosakata yang kira-kira nyaman aja sih tapi juga ngga monoton. Harus ganti kosakata ketika jalannya pertandingan bola di siapa gitu sama mungkin ngelihat nama pemain hapal nama pemain kesulitannya,” ujarnya.

Rizal juga mengaku memiliki sejumlah komentator yang diidolakanya, seperti Tris Irawan, Hardimen Koto, dan Ricky Johanes.

“Penyiar-penyiar jaman dulu itu masih enak suaranya, terutama Tris Irawan ya aku seneng sama Tris Irawan. Sama Hardimen Koto, kosakatanya itu ngga lebay tapi unik gitu dan apa ya kalaupun ngga nonton pertandingan, Cuma denger itu kita bisa mengira-ngira oh jalannya bola kayak gini, jadi ngga Cuma hebohnya aja. Tris Irawan itu penyiar radio ya jadi bisa membayangkan dia itu ketika memandu itu visinya biar orang yang dengar juga paham,” katanya.

RRI Yogyakarta sendiri dalam rangka hari Radio pernah menggelar lomba komentator sepakbola. Juara pertama di ajang tersebut, Farizal Ahmad bercerita berkat lomba itu ia sempat diminta memandu beberapa kali jalannya pertandingan di Yogyakarta.

“Dari sekian peserta Alhamdulillah jaura satu dan setelah itu setiap ada RRI mengadakan live seperti PSS Sleman, Timnas Indonesia yang ke Yogyakarta saya diajak dari RRI untuk memandu acara juga, dari situ keterlibatan saya jadi komentator sepakbola,” jelasnya.

Kini, seiring tidak adanya kompetisi sepakbola, Fahrizal mengaku sudah tak pernah lagi memandu jalannya pertandingan. Ia pun berharap kompetisi sepakbola bisa bergulir lagi dan ikut kembali menyemarakkan jalannya pertandingan dengan menjadi komentator sepakbola.

“Pertandingan kan belum mulai ada di kota Yogyakarta, ya harapan saya bisa mulai lagi, RRI bisa ngundang saya lagi, itu saja,” pungkasnya. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00