Los Bunder Lempuyangan yang Unik dan Bersejarah

Suasana di dalam Los Bunder Lempuyangan (dokumen pribadi Yoga Cokro Prawiro tahun 2018)
Turntable dan los yang saling terhubung dengan rel (dokumen pribadi Yoga Cokro Prawiro tahun 2018)
Turntable di los bunder dengan dua ukuran rel (dokumen pribadi Yoga Cokro Prawiro tahun 2018)
Foto lama Los Bunder Lempuyangan dengan lokomotif uap (arsip Yoga Cokro Prawiro sumber J.J.G Oegema. Stoom Tractie op Java en Sumatra)
Suasana Los Bunder tahun akhir 1980-an (arsip Yoga Cokro Prawiro, sumber foto Locomotiven von Borsig penulisnya Dietrich Kutschik)

KBRN, Yogyakarta : Berjalan-jalan di timur jembatan Lempuyangan, Yogyakarta kita akan menemukan sebuah bangunan unik berbentuk melingkar yang berukuran cukup besar. Itulah Los Bunder atau roundhouse dalam bahasa Inggris yang merupakan tempat untuk perawatan lokomotif uap. Sebagaimana namanya, bangunan los bunder ini berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, dengan ruang-ruang garasi atau los di dalamnya yang digunakan untuk parkir lokomotif.

Di Indonesia saat ini tersisa dua bangunan los bunder, salah satunya yang terletak di timur Stasiun Lempuyangan tersebut. Bangunan Los Bunder Lempuyangan ini menurut salah seorang railfans dari Yogyakarta, Yoga Cokro Prawiro, merupakan yang tertua di pulau Jawa.

“Sampai sekarang masalah los bunder itu belum terpecahkan 100 persen, sebenarnya di tahun pembangunannya. Di seluruh literasi belum dapat tahun pastinya, tapi tidak lebih dari lima tahun setelah jalur pertama sampai di Yogyakarta, jadi sekitar tahun 1870an perkiraannya,” kata Yoga.

Los Bunder Lempuyangan ini dibangun oleh perusahaan swasta kereta api Belanda, Nederland Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan masih digunakan hingga dekade 70an lalu sebagai depo lokomotif. Namun, sejak akhir 80an atau awal 90an, bangunan ini dialihfungsikan menjadi gudang persediaan PT KAI.

“Sempat ganti genteng dan ada penambahan kayak sekarang kan untuk kantor jadi ada musala, kolam ikan, pos satpam, kantor gudang, tapi secara struktur bangunan aslinya yang setengah lingkaran itu dari dulu ngga berubah,” ujar Yoga yang juga merupakan anggota Semboyan Satoe Community, komunitas yang mengaji sejarah kereta api di Yogyakarta.

Los Bunder Lempuyangan ini memiliki 23 garasi atau ruang perawatan yang masing-masing bisa menampung dua hingga tiga lokomotif uap. Luas keseluruhan Los Bunder Lempuyangan diperkirakan mencapai 10.000 meter persegi, dengan diameter bangunan sekira 110 meter dan panjang los 23 meter. Masing-masing los ini memiliki rel yang terhubung ke turntable atau rel pemutar di bagian tengah. Kemudian rel di turntable ini terhubung dengan rel dari stasiun Lempuyangan.

“Jadi kan kalau buka google map itu ada rel cabang dari Lempuyangan lewat samping BPTT Darman Prasetyo, mekanismenya loko masuk, berhenti di turntable itu, lalu dilihat mana los yang kosong, nanti turntablenya diarahkan sama orang ke los yang kosong, tinggal lokonya nanti maju atau mundur,” jelasnya.

Turntable di los bunder ini menurut Yoga juga sangat menarik. Karena satu-satunya yang memiliki dua ukuran lebar rel. “Satu seperti yang digunakan rel saat ini, ukuran rel 1067 mm, satu lagi rel 1435 mm yang seperti digunakan di kereta-kereta Eropa dan Amerika, lebih besar lebarnya, tapi rel 1435 mm ini sudah ngga difungsikan sudah dinonaktifkan zaman penjajahan Jepang, sekarang cuma tersisa sedikit rel dan bekas dudukannya saja,” lanjutnya.

Saat ini Los Bunder Lempuyangan telah menjadi bangunan cagar budaya setingkat kota Yogyakarta. Namun, untuk melindunginya, Yoga dan rekan-rekan dari Semboyan Satoe Community berusaha untuk menaikkan status cagar budaya bangunan ini ke tingkat provinsi atau nasional, agar keberadaanya akan terus terjaga.

“Ada empat bangunan serupa los bunder, di Tanah Abang itu sekarang sudah hilang, terus di Jawa Timur itu di Depo Kertosono itu juga sudah hilang dihancurkan di tahun 80-an akhir, di Sumatera Utara itu ada dua , di Tebingtinggi itu masih utuh, dan satu lagi di Tanjungbalai tapi sudah ngga utuh. Di Pulau Jawa tinggal Los Bunder itu dan di Sumatera Utara,” katanya.

Untuk itu, Yoga bersama rekan-rekannya tengah melacak tahun tepat berdirinya los bunder ini. Pelacakan mereka bahkan dilakukan hingga ke negeri Belanda, tempat berbagai arsip sejarah Indonesia tersimpan. Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan bangunan ini berdiri.

“Kita lagi usahakan ke kelas provinsi atau nasional, karena historisnya dari tiga tadi itu tinggal ini yang selamat di Jawa dengan struktur fisik yang jauh lebih besar, tapi butuh dukungan dari banyak pihak, jadi butuh diekspos biar orang banyak yang tahu,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00