Pojok Beteng Timur, Saksi Sejarah Geger Spehi

KBRN, Yogyakarta : Bangunan kokoh di sebelah timur Kraton Yogyakarta yang biasa disebut Jok Teng Timur, konon per hancur dan menjadi saksi sejarah perang antara Kraton Yogyakarta dengan Inggris.

Mengenai hal itu, seorang Dalang Ki Catur Nugroho berhasil menggambarkan adegan peperangan Geger Spehi karya cipta GBPH Yudhaningrat, pada bulan Maret lalu di Ndalem Yudhanegaran.

Cerita ini masuk dalam Wayang Diponegoro yang bercerita tentang kepahlawanan Sri Sultan Hamengkubuwono II dalam melawan Inggris.

Salah satu bukti nyata perang ini adalah bangunan benteng yang baru dibangun di kota Yogyakarta yang terletak di sisi timur laut Kraton. Benteng tersebut runtuh pada saat Geger Spehi karena serbuan tentara Inggris yang dibantu pasukan Sepoy yang berasal dari India. Menurut Gusti Yudha, perang ini juga menjadi latar belakang dari peran Diponegoro.

“Tokohnya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II almarhum yang dengan gigihnya berani meladeni para penjajah dengan perang  Sepehi, sebelum perang Diponegoro,” kata GBPH Yudhaningrat.

Dikisahkan, pada bulan Juni 1812, Raffles meminta Sultan untuk menyerahkan kedudukannya kepada putra mahkota yang kemudian ditolak. Pasukan Inggris kemudian memborbardir Kraton Yogyakarta sebagai peringatan, tetapi diabaikan oleh Sultan. Pasukan Inggris kemudian terus menggempur dengan menggunakan meriam dan juga menggunakan tangga untuk memanjat ke dalam Kraton. Benteng di sisi timur laut Kraton pun hancur dan membuat pasukan Inggris berhasil masuk ke dalamnya.

Sejumlah barang berharga milik Kraton seperti perhiasan, keris, naskah-naskah yang tersimpan dibawa oleh pasukan Inggris. Selain itu, Senopati Agung Kraton Ngayogyakarta, KRT Sumadiningrat juga tewas di tangan Inggris. Sementara, Sri Sultan Hamengkubuwono II dan kedua putranya diasingkan ke Pulau Pinang.

Pentas wayang Kraton itu diakhiri dengan pernyataan Pangeran Diponegoro untuk melawan penjajahan di Yogyakarta.

 “Dan semoga ini sangat berguna bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam hal rasa kepahlawanan, jiwa kepahlawanan yang kita pegang. Sehingga perlu kiranya untuk diresapi, bisa menjadi ilham atau pemikiran di masa yang akan datang. Semoga negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia betul-betul merdeka lahir dan batin bagi bangsanya,” pungkas Gusti Yudha. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00