Oksigen & Regulator, Harga Selangit Didapat Sulit

KBRN, Yogyakarta :  “Aku lagi kesulitan nyari regulator oksigen. Tabungnya udah dapat. Aku dah dapat regulator harga 2 juta (harga darurat 2 – 3 juta). Jahat banget orang yang memanfaatkan kesempatan kayak gini,”  begitulah keluh-kesah Lukmanawati Rahayu, mengawali perbincangan WhatsApp-nya  dengan redaksi rri.co.id, Minggu (18/7/2021) malam.

Luluk (panggilan akrabnya), adalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan warga Jogja yang akhir-akhir ini ingin berteriak sekeras-kerasnya, menghadapi kelangkaan tabung oksigen yang sangat dibutuhkan bagi pasien terkonfirmasi positif covid-19 seperti saat ini.

Ibu rumah tangga yang tinggal di Perum Villa Pondok Gemilang No C2 Jongke Mlati Sleman ini, sangat membutuhkan oksigen dan regulator bukan untuk dirinya. Tetapi untuk Sang Ibu tercinta yang terbaring kritis di rumah dalam perawatan mandiri, akibat paparan corona.

Luluk sudah ‘melanglang buana’ ke se-antero jagad Jogja hingga dunia maya, dalam memburu tabung oksigen bagi ibunda tersayang yang mengalami kesulitan pernafasan.

“Ibuku tgl 1 Juli lalu pulang ke rumahnya di Dongkelan Bantul.  Sebelumnya udh aku ingatkan ga usah pulang ke Bantul dulu krn di lingkungan RT lg banyk yang kena. Mulai bergejala serumah kan sama adekku dan iparku pada sabtu malam minggu kmrn. Pada demam sampe hari Kamis terus batuk2,” tuturnya.

“Ibuku udah vaksin Astra tahap 1. Semakin hari batuknya semakin parah dicek saturasi terus menurun sampe 87.  Satgas covid yang datang suruh nyari tabung oksigen. Aku mulai cari itu hari Jumat,” lanjutnya.

Lukmanawati Rahayu pun memulai pencarian, baik secara langsung mendatangi ke toko-toko maupun penelusuran lewat internet. Ibarat mulai dari ‘kolong jembatan’ hingga ke ‘sundul langit’ ia rambah.

“Saya dikasih info beberapa kontak no telpon yang bisa dihubungi untuk sewa tabung oksigen, tp ternyata setelah aku kontak, semua zonk, habis. Jumat malam aku masih cari info sampe gabung di grup telegram info oksigen Jogja. Di sana bisa saling share info antri isi oksigen jam brp di mana dan tata cara,” tulis Luluk yang sekaligus berprofesi sebagai Penyiar di RRI Yogyakarta itu.

“Sementara sampai nunggu dapat tabung oksigen aku juga cari oxycan (oksigen portable) yang kalau normal harga 40rb, kmrn ada yang baik hati ngasih suka rela, tp 1 botol hanya bisa digunakan Utk satu malam. Sabtu pagi aku cari oxycan dpt lagi di harga 1 nya 250rb (ini sudah 5 kali lipat Dr harga normal),” urainya.

“Sabtu malam aku sebar aku butuh tabung oksigen ke saudra-saudaraku, akhirnya dimudahkan dpt bantuan dr saudaraku yang penyintas, tp cuma tabung oksigen aja tanpa regulator. Agak panik saya krn ibu terus turun saturasinya sampe di angka 87. Sabtu malam masih bisa bertahan dengan melakukan proning dan botol oxycan yang tersisa (ada 2),” kisahnya.

Perjuangan Luluk untuk bisa membawa pulang regulator bagi ibunda Sriyati (66 tahun), belum berakhir. Ia pun melakukan pencarian di dunia maya. Apakah berhasil mendapatkan yang diinginkannya? .

“Itu info2 zonk, pasti klau ditelpon zonk. Yg apotik k24 jg harus dr subuh. Belum ni kalau oksigen habis harus antri dari pagi aja blm tentu diisi penuh. Di grup telegram itu isinya hampir 2000 orang di Jogja yg berjuang dptin oksigen. Kemarin hampir kena tipu. Ada akun instagram yang jual tabung oksigen fullset cuma 1 jtaan, stlh tak cek tak liat2 sblm aku transfer ternyata akun penipuan. Sampe kenceng2 pundakku. Saking kebanyakan marah. Kurangajar bener orang yang memanfaatkan situasi kayak gini,” tugasnya geram.

Tak cukup sampai di situ, pada Minggu pagi Luluk mencari info lagi ke saudara dan diberitahu ada alat yang ia butuhkan di sebuah toko.

“Ga tau itu rekanan atau gimana ya, dpt di toko alat kesehatan tp kayak semacam yang bisa beli cuma org org tertentu. Misal orang biasa kyknya blm tentu dijawab ada barangnya. Saudaraku itu kerja di BPBD Bantul. Dpt harga 2 juta untuk regulator oksigen yang normalnya di harga sekitar 500rban, tp di nota ditulis 3 juta,” cerita Lukmanawati.

“Aku bayangin kalau ga puny duit gimana mau beli atau sewa tabung oksigen. Di K24 Gondomanan aja sewa tabung mesti kasih uang jaminan 3,5juta  dan itu blm tentu dapet. Antri harus dari subuh. Rumah sakit penuh, aa mungkin dong ke RS, satu-satunya bertahan ya isoman di rumah. Jadi skrg saya paham kenapa banyak meninggal saat isoman. Krn kekurangan oksigen,” ucapnya.

Menurut Lukmanawati Rahayu, tingkat saturasi oksigen harus selalu dipantau. Covid itu membuat sesak nafas karena batuknya itu.

“Di dongkelan RT 1 itu hampir semua pada kena, makanya yg lansia bener-bener harus dijaga. Aku wis lega wis dapat regulator oksigen walaupun dgn harga yg edan, sik penting ibuku entuk  (dapat,-red) oksigen,” lanjut Luluk.

“Katanya apotik swasta dibatasi stock tabung oksigen nya, tp pemerintah blm bisa mencukupi  yg isoman di rumah gitu skrg banyak bgt. Pemerintah kalau nyetok oksigen cuma di RS nanti yg isoman gimana. Yg isoman banyk,” pungkas Lukmanawati Rahayu mengakhiri kisah perjuangannya. (*).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00