Suryadi, Mantan Perokok Berat yang Jadi Dukuh di Kawasan Bebas Asap Rokok

Salah satu kegiatan warga di Pedukuhan Wonosari (ist/RRI).

KBRN, Kulon Progo : Sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia merupakan salah satu negara dengan konsumsi rokok tertinggi di dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) 2018, prevalensi perokok dengan usia di atas 15 tahun mencapai angka 33,8 %.

Sementara untuk penduduk usia antara 10-18 tahun meningkat, dari angka 7,2 % di Riskesdas tahun 2013 menjadi 9,1 % di Riskesdas tahun 2018.

Merokok merupakan kebiasaan buruk dan bisa merusak tubuh, baik si perokok tersebut maupun orang di sekitarnya. Sayangnya, tidak semua orang menyadari akan bahaya dari merokok tersebut.

Namun demikian, ada saja kisah menarik yang terselip dari peningkatan perokok. Tidak sedikit yang mampu berhenti merokok, meski butuh waktu yang cukup lama. Salah satunya, yang dilakukan oleh Suryadi (43), warga Pedukuhan Wonosari, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. 

Kepada RRI, Suryadi mengaku jika dulu merupakan perokok berat. Dalam sehari, rata-rata 1,5 bungkus rokok batangan mampu dihisapnya. Belum lagi rokok tembakau 'lintingan' yang juga hampir sama jumlah konsumsinya dengan rokok batangan.

"Dulu saya mengkonsumsi rokok itu usia 18 tahunan. Sekitar tahun 1996an," ucap Suryadi, Rabu (30/6/2021).

Suryadi menuturkan, awal mula ia merokok saat berkumpul dengan teman-temannya. Dari niat mencoba-coba dan kemudian berujung pada kecanduan. Setelahnya, Suryadi membeli rokok batangan, dan juga mengkonsumsi tembakau yang berwarna hitam pekat.

"Saya dulu pilih-pilih. Kalau tembakau kuning tidak mau, harus yang warnanya hitam pekat," jelasnya. 

Merokok, menurut Suryadi, memiliki kenikmatan tersendiri. Kondisi tubuh seperti lebih segar dan lebih nyaman khususnya saat beraktivitas. Selain itu, pekerjaan juga terasa lebih mudah jika sudah merokok. 

Pada tahun 2005, Suryadi kemudian ingin membuat perubahan dengan memutuskan untuk mencoba berhenti merokok. Kegiatan berbahaya tersebut, dirasakannya membuat badan tidak enak. Proses berhenti merokok, juga harus dilalui dalam waktu yang tidak sebentar.

"Saya mulai berhenti merokok sejak pertengahan 2004. Sedikit sedikit dikurangi, sebungkus rokok bisa untuk beberapa hari. Sampai akhirnya berhenti merokok sama sekali. Keinginan tersebut juga karena dukungan dari istri saya," ujar Suryadi. 

Banyak perubahan yang dirasakan Suryadi pasca berhenti merokok. Ia merasa badan lebih segar dan pernafasan lebih lancar. Hal inilah yang kemudian mendukung ketugasan Suryadi sebagai Kepala Dukuh di Pedukuhan Wonosari yang dijabatnya sejak tahun 2013.

"Ketugasan dukuh menjadi lebih lancar dan juga bisa lebih bermasyarakat. Berat badan juga naik namun dalam kondisi wajar," tutur Suryadi.

Beberapa tahun menjabat Dukuh, Pedukuhan Wonosari yang dipimpin Suryadi tersebut dideklarasikan sebagai Dusun Kawasan Bebas Asap Rokok (Kabar).

Suryadi menjelaskan, banyak yang sadar untuk tidak merokok di sembarang tempat. Warga yang memiliki anak kecil, memilih merokok di luar rumah yang jauh dari jangkauan anaknya. Selain itu saat pertemuan di tingkat pedukuhan, warga perokok berinisiatif untuk merokok di luar ruangan.

"Dengan tidak merokok di sembarang tempat, warga kami bisa bertoleransi pada orang lain khususnya yang tidak merokok. Yang tidak merokok jadi merasa nyaman dan tidak terganggu dengan polusi asap rokok," ungkap Suryadi.

Menurut Suryadi, Mayoritas warga Pedukuhan Wonosari memang tidak merokok sejak kecil atau sudah berhenti merokok. Hanya sekitar 20 % saja yang merokok. 

Dia menambahkan, di Pedukuhan Wonosari, ada beberapa lokasi yang memang tidak dipakai warga untuk merokok. Lokasi itu seperti di tempat pertemuan warga, rumah yang memiliki anak kecil (khususnya yang stunting), acara kemasyarakatan, masjid, dan beberapa lainnya.

"Kami selalu mewanti-wanti agar warga tidak merokok di lokasi-lokasi itu. Alhamdulillah, warga menaati hingga kini. Jika ingin merokok ya beralih ke tempat lain," ujar Suryadi.

Suryadi mengaku, dalam masa Pandemi Covid-19, dilakukan pembatasan dan juga pengurangan berbagai kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti Arisan RT. Tujuannya agar tidak menjadi lokasi penyebaran virus Covid-19.

Sementara itu, Salah seorang warga Pedukuhan Wonosari, Giyana mengaku, banyak merasakan manfaat dari berhenti merokok. Badan terasa lebih segar dan kesehatan bisa lebih terjaga.

"Untuk beraktivitas bisa lebih enak," ungkap Giyana.

Di Kabupaten Kulon Progo, saat ini sudah dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda) KTR No.5 tahun 2014. Anggota satgas KTR Kulon Progo, Baning Rahayujati, mengatakan, berdasarkan Perda tersebut, telah ditetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sejumlah lokasi seperti fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, tempat ibadah, fasilitas umum, tempat kerja dan tempat umum atau tempat lain yang ditetapkan bukan tanpa alasan.

"Penetapan kawasan tanpa rokok bertujuan untuk menciptakan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat, serta melindungi kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan dari bahaya rokok," ujar Baning. (hrn/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00