Dari Ruang Makan Tercetus Ide Pergerakan

KBRN, Yogyakarta : Di dalam tempat pertemuan yang sepi seukuran ruang kelas, Ruswidaryanto menggoreskan tinta di ujung pena, pada selembar kertas putih bergaris di buku kerjanya.

Sesekali, jari telunjuknya bergerak lincah di atas layar smartphone, ketika berselancar di dunia maya. Ia duduk, diantara deretan meja dan kursi yang tertata rapi.

”Sebentar ya mas,” katanya, sebelum wawancara berlangsung sekitar awal Mei lalu.

Lelaki itu hanya butuh waktu tiga menit, merangkum artikel dari internet tentang kongres pertama Boedi Oetomo. Tulisan tangannya memenuhi satu halaman dalam, dari buku kerja yang ia bawa.

Waka Humas SMAN 11 Yogyakarta Ruswidaryanto

Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 11 Yogyakarta, pria berkacamata yang memakai kemeja batik merah bermotif jumputan ini mulai berkisah.

”Gedung SMAN 11 sebagai ikon sejarah,” ucapnya saat bercerita kepada seorang wartawan, seraya memutar waktu ke tahun 1894.

Saat itu, masa penjajahan Belanda sedang berlangsung. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, Pemerintah Kolonial membangun Kweekschool atau sekolah guru di Yogyakarta, yang baru terwujud di tahun 1897.

Nuansa kolonial bangunan itu masih bisa dilihat, karena berdiri megah di Jalan AM Sangaji sebagai gedung SMA Negeri 11.

Menempati ruang makan Kweekschool sekitar tahun 1908, berlangsung kongres pertama organisasi Boedi Oetomo. Tujuannya, untuk mengangkat derajat kaum pribumi, salah satunya lewat pendidikan.

Aula Boedi Oetomo (sumber : BPCB)

Tokoh-tokoh pencetusnya merupakan pelajar STOVIA atau sekolah kedokteran bagi pemuda pribumi. Beberapa diantaranya, seperti Dokter Wahidin Sudirohusodo dan Dokter Sutomo.

Sekarang, tempat bernilai historis karena menandai lahirnya pergerakan nasional itu, diberi nama Aula Boedi Oetomo. Puluhan pilar kayu berwarna abu-abu, menjadi tiang penopangnya.

Penampakan Aula Boedi Oetomo bagian dalam

Keaslian bangunannya masih terjaga dengan baik, sama persis dengan foto ruang makan saat kongres berlangsung, yang dipigura dan terpajang di dinding aula. Bagian atas foto dilengkapi penjelasan berupa tulisan.

Lewat gambar bisu yang tercetak, ruang aula nampak tertutup sekat dinding bambu di sekelilingnya. Namun kini, sekat sudah tidak dipasang karena mudah rusak jika terkena air hujan.

”Tidak bisa dirubah seenaknya, karena itu heritage (bangunan bersejarah, red) ya,” ucap Ruswidaryanto.

Gambar pendiri Boedi Oetomo, termasuk berbagai tulisan seputar organisasi dalam bingkai pigura, juga tergantung pada tembok aula sebelah kanan dan kiri.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, telah mencanangkan SMAN 11 Yogyakarta, sebagai sekolah berwawasan kebangsaan, dalam peringatan seabad Boedi Oetomo tahun 2008 silam.

Hanya saja, biaya perawatan bangunan cagar budaya ini masih disediakan mandiri oleh sekolah. Penyebabnya, tidak ada alokasi anggaran dari pemerintah, maupun dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Secara berkala, pihak sekolah mengeluarkan dana perbaikan hingga puluhan juta rupiah. Antara lain untuk pengecatan kayu aula, termasuk mengganti plafon dari anyaman bambu jika sudah mulai rusak.

”Andai ada subsidi dana yang mencukupi akan lebih bagus, seperti di Keraton Pakualaman ada danais untuk melakukan rehab,” harapnya.

Tak Ada Anggaran

Harapan Ruswidaryanto, rupanya hanya tinggal impian. Keinginannya agar Aula Boedi Oetomo mendapat subsidi dana perawatan tak bakal terwujud.

”Belum ada anggaran perawatan, memang kita tidak mengalokasikan,” ungkap Septi Indrawati Kusumaningsih, dari Unit Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta.

Untuk perbaikan ringan seperti pengecatan bangunan aula, termasuk perbaikan plafon atap dari anyaman bambu, sepenuhnya menjadi wewenang instansi pengelola.

Prasasti Sekolah Berwawasan Kebangsaan

Tetapi, berbagai nilai penting perlu diketahui masyarakat, terkait pelestarian bekas ruang makan Kweekschool Yogyakarta, yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 1998 silam.

Pertama, nilai sejarah tentang pelaksanaan kongres Boedi Oetomo. Kedua, terkait nilai pendidikan dan budaya. Ketiga, pengetahuan tentang model arsitekturnya.

Apalagi, bangunan ini menggunakan kerangka kayu yang disusun sedemikian rupa, menjadi bangunan terbuka yang terbentang lebar. Kalau perhitungannya tidak bagus, tidak akan bertahan hingga sekarang.

”Perencanaan di masa lalu sangat matang untuk membuat bangunan, saya kira masih akan kokoh hingga puluhan tahun ke depan,” ujar Septi. (ws/yyw). 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00