Keimanan yang Tak Tergadai Pencari Rezeki di Bukit Sampah Piyungan

KBRN, Yogyakarta : Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau biasa disingkat TPST Piyungan, telah memberi berkah sejak beroperasi di tahun 1996 silam. Sebagai tempat pembuangan akhir sampah terbesar di Yogyakarta, ratusan pemulung dan pengepul, bekerja mengais rejeki dari Bukit Sampah Piyungan yang berdiri di Dusun Ngablak dan Watugender.

Mayoritas dari mereka bahkan tetap menjalankan ibadah puasa, meski sengatan panas matahari begitu terik plus aroma khas sampah yang langsung menusuk hidung siapa pun yang berada di sana. Nuri Hidayah, merupakan salah seorang pemulung yang mengais sampah di Piyungan.

“Saya cari plastik, kardus, botol, apa pun yang bisa dijual,” tuturnya ketika ditemui RRI.

Kakek berusia 65 tahun itu tetap menjalankan ibadah puasa meski di tengah teriknya matahari. Baginya, panggilan hati untuk menjalankan ibadah di bulan yang penuh keberkahan tak bisa ditanggalkan hanya demi mencari keduniawian.

“Tapi kalau bulan puasa nggak bisa full, sekuatnya saja. Jadi, kerja lebih santai,” ungkap bapak tiga orang anak ini.

Setelah memulung sampah, Nuri dengan telaten memilah sampah di gubuk seluas 2x2 meter. Dalam gubuk yang penuh sampah dan dikerubungi lalat, lelaki kelahiran Gunungkidul tersebut tak merasa terkungkung ketika bekerja.

“Biasanya setiap hari berangkat pukul 06:00 sampai puku 16:00. Kalau capek ya istirahat, sekarang saya tinggal di bawah (dekat TPST). Nggak perlu terlalu ngoyo,” ujar dia.

Awalnya, Nuri berprofesi sebagai tukang kayu dan batu. Dirinya sering mengikuti proyek-proyek pembangunan di Ibu kota Jakarta. Namun seiring usia, Nuri memilih memulung sampah dengan TPST Piyungan.

“Sudah tua, Mas. Dulu masih kuat, sekarang saya kerja santai saja. Seperti ini tidak capek, tapi memang kendalanya panas,” ungkapnya tanpa mengeluh.

Siasati waktu

Hal yang sama juga dilakukan Sukardi warga Sitimulyo Piyungan. Selama 24 tahun memulung sampah, dirinya tak pernah mengabaikan kewajiban berpuasa meski ibadah itu tidaklah mudah. Demi menyiasatinya, Sukardi pun memperpendek waktu pekerjaannya ketika bulan Ramadhan tiba.

“Kalau sekarang ya berangkat pukul 07:00 sampai pukul 11:00. Nanti saya pulang, dan kemudian jemput istri saya yang memulung di sini juga sekitar pukul 14:00,” paparnya.

Dengan pekerjaan yang lebih ringan, waktu luang ia manfaatkan untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

“Sekuatnya saja, Mas, yang terpenting puasanya tidak batal,” kata Sukardi.

Tak hanya kaum pria, banyak juga wanita yang memulung sampah di TPST Piyungan tetap menjalankan ibadah puasa. Mayoritas mereka juga masih harus menjalankan kewajiban domestik sebagai ibu rumah tangga. Ibu Bagus merupakan salah satu di antaranya. Dirinya tetap menjalankan puasa, di tengah kesibukannya mencari dan memilah sampah di Bukit Sampah Piyungan.

Ya sehari paling tidak dapat Rp 50.000, terkadang lebih. Saya tetap puasa biasanya, tapi karena semalam tidak sahur, dan hari ini panas banget, saya tidak puasa. Tapi biasanya puasa, Mas,” katanya.

Walaupun di tengah kondisi yang tetap mengharuskan mereka mencari sesuap nasi, para pemulung dan pengepul sampah tetap menginginkan cahaya keimanan di bulan yang penuh ampunan, dapat merasuk ke dalam sanubari mereka. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00