Daarul Furqon, Tegakkan Syiar Agama dari Bukit Sampah

KBRN, Yogyakarta: Sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) berdiri kokoh berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Dengan luasan yang tidak seberapa serta baru berusia lima tahun, pondok pesantren tahfidzul qur’an atau penghafal quran, Daarul Furqon, didirikan Kyai Ahmad Jauhari.

Putra dari Hadi Surahmat itu mendirikan ponpes setelah dirinya belasan tahun menimba ilmu di berbagai pesantren terkenal di Pulau Jawa. Berkat perintah atau dawuh ayahandanya, Ahmad Jauhari memberanikan diri mendirikan Daarul Furqon.

“Dulu saya awalnya mondok di Kanggotan dan Wonokromo. Tahun 1993 di Banyuwangi sampai 1999. Kemudian 1999 – 2000 di Kesugihan Cilacap. Selanjutnya, akhir 2000 – 2004 di Ponorogo, terus saya pulang. Diamanatkan Simbah untuk mulai (membangun) pondok,” tuturnya.

Dibantu dengan sang istri dan beberapa orang guru, Ahmad Jauhari berupaya menghidupkan cahaya Islam di Kampung Bendo, Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Banyak tantangan yang dia hadapi ketika mengurus pondok yang baru seumur jagung itu. Di antaranya lokasi yang dinilai kurang strategis dan berdekatan dengan tempat pembuangan sampah terbesar di Yogyakarta.

“Sementara murid hanya sekian. Tapi sebelumnya, banyak yang mau daftar di sini, tapi alasannya karena dekat sampah malah tidak jadi,” ujar ulama kelahiran Dusun Ngablak 26 Juli 1972 itu.

Aroma sampah memang sangat melekat di lingkungan pesantren. Tak hanya itu saja, jalan menuju pondok pun rusak berat akibat dilewati ratusan truk yang setiap hari bongkar muat sampah di Bukit Sampah Piyungan. Belum lagi, debu yang berterbangan tertiup angin ketika musim kemarau mampu membawa serta bau menyengat hingga ratusan meter dari TPST Piyungan.

“Tempat yang saya punya memang hanya ini, sedangkan jalan untuk hilir mudik truk sampah dan juga truk uruk, sehingga ruwet. Kami maklum, kalau ada santri yang memilih pondok pesantren yang lain,” papar Ahmad Jauhari, Minggu (9/5/2021) siang.

Ilmu dan bekerja

Slamet Arifin, salah satu santri Daarul Furqon asal Temanggung Jawa Tengah menuturkan, dirinya menikmati nyantri sembari menimba ilmu dan juga bekerja sebagai pengepul sampah di TPST Piyungan. Awalnya, Arifin mengetahui keberadaan pondok dari salah satu temannya yang sudah lebih dahulu menimba ilmu kepada Kyai Ahmad Jauhari.

Kan ada teman saya di sini. Saya dapat kabar kalau di sini bisa cari ilmu sambil bekerja, supaya uang tidak menggantungkan orang tua,” ucapnya.

Bau yang tidak biasa menjadi aroma yang lumrah karena lokasi pondok yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Bukit Sampah Piyungan. Namun bagi Arifin, dirinya tetap bertekad menjadi penghafal Quran di Daarul Furqon. Dia pun menikmati mencari nafkah sembari belajar menjadi penghafal kalam Illahi.

“Kendalanya banyak Mas, tapi kita harus bisa menyisihkan waktu,” tutur dia.

Sobirin, salah satu pengajar di Pondok Pesantren Daarul Furqon menuturkan, selain karena lokasi yang dinilai kurang strategis, pandemi yang berlangsung telah lebih dari setahun, juga berpengaruh dengan perkembangan pesantren. Pesantren yang berdiri bulai Mei 2016 itu sempat terhenti aktivitasnya karena pandemi.

“Kendalanya salah satunya, jalan tiga tahun kemudian ada pandemi, segala kegiatan semuanya nggak bisa gerak. Sampai pernah dua bulan putus semua kegiatan. Ya, kita semua memang harus bersabar,” ujarnya.

Butuh bantuan

Pandemi yang melanda dunia menyebabkan Daarul Furqon masih belum berhasil mencetak santri yang hafidz 30 juz. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Kyai Ahmad Jauhari dan beberapa pengajar untuk tetap mengajarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, khususnya untuk warga Piyungan.

“Kalau yang 30 juz memang belum ada, tapi yang juz 30 dan beberapa juz sudah ada. Kami juga ada santri tuna netra yang hafal juz 30,” terangnya.

Di tengah keterbatasan yang ada saat ini, diakui Sobirin, Daarul Furqon masih sangat membutuhkan bantuan, khususnya dari pemerintah, untuk pengembangan pesantren. Fasilitas sederhana yang dibangun saat ini, bahkan lebih banyak berasal dari masyarakat yang merasa terbantu dengan syiar agama dari pondok pesantren tersebut.

“Bantuan dari pemerintah sebenarnya sudah ada. Misalnya dari kelurahan, tapi memang belum seperti yang kita harapkan. Misalnya ada pembuatan kamar mandi dan tempat wudhu, itu dari anggota dewan, cuma nggak seberapa. Sebenarnya bantuan paling banyak dari masyarakat,” sebut Sobirin.

Walaupun di tengah kekurangan dan kesederhanaan, ghirah atau semangat Kyai Ahmad Jauhari untuk membesarkan Pondok Pesantren Daarul Furqon tak pernah padam. Lewat munajat kepada Yang Maha Kuasa, Ahmad Jauhari berharap, Daarul Furqon dapat menjadi cahaya pembeda yang menerangi  masyarakat untuk mendapat hidayah Ilahiyah. (ros)  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00