Ramadhan di Kampung Mlangi, Syiar Penjaga Pelita Dinasti Mataram Islam

KBRN, Yogyakarta : Bulan Ramadhan bukanlah bulan yang biasa bagi masyarakat Dusun Mlangi. Di bulan yang penuh berkah tersebut, masyarakat Dusun Mlangi lebih giat dan tekun dalam beribadah serta memperdalam ilmu agama.

Mendaras kitab-kitab klasik dalam pustaka keilmuan hadits, fiqh ataupun sirah menjadi hal yang lumrah ditemui. Hal itu berawal dari keberadaan Mlangi dan juga Masjid Jami’ Nur Iman yang merupakan Masjid Pathok Negara.

Secara harfiah, Masjid Pathok Negara merupakan masjid-masjid yang dibangun keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penanda batas wilayah Negaragung atau zona penyangga wilayah kesultanan Mataram Islam tersebut. Jumlahnya ada empat buah dan tersebar di empat penjuru mata angin.

KH Hasan Abdullah, salah satu ulama kharismatik di kampung tersebut menuturkan, Mlangi didirikan oleh adik pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hamengkubuwono I, yaitu Kiai Nur Iman. Bangsawan bernama asli RM Sandewo itu mengembangkan kampung yang terletak di Kalurahan Nogotirto Kapanewon Gamping Sleman itu sebagai pusat syiar agama Islam di Tanah Jawa sejak abad ke-18.

“Jadi Mlangi itu kan keturunan dari Mbah Kyai Nur Iman. Mbah Kyai Nur Iman itu keluarga kerajaan yang lebih cenderung menekuni agama daripada merembug kekuasaan. Dan tampaknya, sikap itu menurun ke anak cucu beliau,” ungkapnya.

Hasan Abdullah, tokoh masyarakat dan pengajar di Pondok Pesantren As-Salafiyyah itu menyebutkan pada era tahun 1970-an, masih banyak warga Mlangi yang tidak menempuh pendidikan formal. Namun, pendidikan agama di pesantren menjadi pelita kehidupan masyarakat Mlangi.

“Sekitar tahun 70-an, di Mlangi itu hampir tidak anak yang sekolah. Jarang sekali anak-anak muda yang lulus SMA. Tapi, semua laki-laki dan perempuan itu mondok di berbagai pesantren,” ungkap Hasan Abdullah.

Ragam keilmuan

Berkembang luasnya pesantren di Mlangi, Yogyakarta dan bahkan sejumlah daerah di Nusantara juga tak terlepas dari kiprah para santri jebolan Mlangi.  

“Karena mereka rata-rata belajar di pondok pesantren, termasuk di luar Mlangi seperti di Magelang, di Lasem, Bojonegoro, Termas dan sebagainya, mereka pulang akhirnya menjadi kader-kader ulama atau kyai,” terang dia.

Perkembangan Mlangi dalam kurun waktu lebih dari seratus tahun juga bermula dari alumni berbagai pondok pesantren di Nusantara yang kembali ke Mlangi. Dengan keragaman khazanah keilmuan Islam yang mereka miliki, maka perlahan-lahan mulai menjamur keberadaan pondok pesantren di dusun yang masuk Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman itu.

“Tentu ketika pulang mereka membawa ragam disiplin ilmu yang sesuai dengan pondok mereka masing-masing. Dan ini ketemu dengan kepentingan masyarakat yang sesuai dengan tantangan zaman membutuhkan keragaman ilmu. Semakin hari semakin membutuhkan keragaman, yang kemudian membuat masyarakat banyak belajar kepada Kyai A atau Kyai B sehingga akhirnya lahirlah pondok pesantren,” tuturnya.

Dengan beragamnya khazanah keilmuan yang ada, Hasan mengungkapkan, seorang santri dapat mempelajari banyak ilmu yang berbeda dan memperdalamnya hanya di Mlangi, tanpa perlu berkeliling di pondok pesantren-pondok pesantren terkemuka yang ada di Tanah Air.

“Bahkan peluang santri bisa belajar secara lengkap di Mlangi ini untuk menjadi ulama yang paripurna sangat besar. Asalkan santri itu sabar dan kyai-nya mau telaten membina santri tersebut. Kemungkinan untuk menjadi ulama yang paripurna sangat besar karena beragamnya ilmu-ilmu yang dimiliki pondok-pondok pesantren di sini,” sebutnya.

Cahaya Islam semakin hidup

Ulama kelahiran Jawa Timur yang telah 40 tahun menetap di Mlangi itu menyebutkan, nilai dan ajaran agama semakin dihidupkan di bulan Ramadhan. Hasan Abdullah menyebutkan aktivitas keagamaan diibaratkan berlangsung sehari semalam.

“Ramadhan itu di Mlangi sangat khas, meskipun Mlangi itu dusun yang hidup 24 jam, tapi di bulan Ramadhan nuansanya lebih semarak. Orang i’tikaf misalnya di masjid itu biasa, tapi di bulan Ramadhan banyak orang-orang dalam kelompok kecil yang melakukan i’tikaf di masjid. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang dikoordinasi oleh masjid itu sendiri seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, pengajian orang tua, anak-anak, itu dipenuhi oleh kegiatan ibadah yang didirikan masyarakat,” paparnya.

Hajjah Lina Marchumah, istri dari KH Nur Hamid, selaku pengasuh Pondok Pesantren As-Salafiyyah 1 Mlangi menyebutkan, tradisi Mlangi saat ini banyak dihidupkan oleh ribuan santri yang menimba ilmu di berbagai pondok pesantren yang ada di situ. Aktivitas santri pun beragam, dari yang sepenuhnya menuntut ilmu agama, atau sembari bekerja dan belajar ilmu agama, maupun hanya memperdalam kajian tertentu saja dari ilmu agama.

“Yang menarik  di bulan Ramadhan itu, ngaji kitab kuning. Kalau di madrosi ini mulai ngaji habis tarawih sampai pukul 22:00. Nanti dilanjutkan salat sunnah dan kemudian Subuh, setelah itu dilanjutkan mengaji kitab lagi,” sebutnya ketika diwawancarai pada akhir bulan April.

Perjuangan Kyai Nur Iman

Lina Marchumah menuturkan, banyaknya santri dari berbagai daerah di Nusantara yang mondok di Mlangi bahkan berbanding jauh dengan jumlah warga asli kampung Mlangi yang menimba ilmu agama.

“Kalau penduduk sini malah cuma sedikit, kebanyakan malah dari luar daerah. Dari luar Jawa itu banyak sekali,” kata dia.

Aprian Nur Hafidz, pengajar di Pondok Pesantren As-Salafiyyah 2 menuturkan, kajian di bulan Ramadhan juga diperkaya jika dibandingkan di bulan-bulan biasa. Santri pun diwajibkan untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan puasa.

“Dari segi jam ngajinya itu ditambah juga. Pagi mengaji, sore pun juga mengaji, malam juga. Kalau yang dikaji itu juga berbeda dari kitab-kita yang biasanya. Dari tadarus Al-Qur’an juga berbeda. Sehabis salat tarawih itu dibagi dalam berkelompok-kelompok sehingga satu malam bisa khatam Al-Qur’an,” terang Aprian.

Antusiasme tinggi untuk terus meningkatkan syiar Islam yang tampak di Mlangi saat ini tak lain adalah buah perjuangan Kiai Nur Iman sendiri yang mendirikan kampung tersebut. Setidaknya hingga saat ini ada 15 pondok pesantren pada wilayah yang hanya terdiri dari tiga RW dan 13 RT tersebut. Meski terbilang kecil, cahaya Islam tak pernah sedetik pun redup di kampung tersebut. (ros)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00