Nasi Kebuli, Menu Kuliner Khas Arab dari Indonesia

Nasi Kebuli

KBRN, Yogyakarta : Tahukah Anda bahwa nasi kebuli bukanlah makanan dari Arab. Nasi kebuli ini merupakan makanan Indonesia dan tidak ditemukan di Arab. Meski memang dalam proses masaknya menggunakan beras basmati dan sedikit rempah dari Arab. Namun, menurut salah seorang pengusaha kuliner dari Yogyakarta, Kurnia Mardianasari, mayoritas bumbu yang digunakan di menu tersebut berasal dari Indonesia.

“Bumbunya Indonesia, kalau kebuli itu sebenarnya aslinya di Arab ngga ada. Kalau kaya Briyani, Mandi Kebalik ada di Arab, kalau Kebuli produk Indonesia. Cuma dengan rempah Arab jadi rempah Indonesia tapi ada rempah Arab gitu,” urainya ketika dikonfirmasi RRI, Senin (03/05).

Wanita yang akrab disapa Nia ini telah mengembangkan menu nasi kebuli di usaha kulinernya sejak awal tahun kemarin. Awalnya, Nia ingin membuat menu yang special di usaha kulinernya. Lalu, ia mengikuti kelas memasak nasi kebuli ini. Setelah dicoba, menu ini ternyata laris manis di pasaran.

“Puasa ini banyak yang minta, paket buka kadang pake yang porsi per orang buat buka bersama itu ada. Saya jualnya paket keluarga 3-4 orang gitu per boks tapi yang Ramadhan gini banyak yang minta per porsi karena dibawa pulang kan ngga makan bersama karena pandemi jadi ya udah ngikut rikues pemesan buat per porsi,” lanjutnya.

Nia mematok harga untuk menu spesialnya ini mulai dari Rp 20.000 rupiah untuk menu kebuli ayam, dan Rp 25.000 untuk menu kebuli kambing. Sementara untuk menu paket, ia menjual mulai dari Rp 60.000 untuk ayam dan 75-80 ribu rupiah untuk menu kambing. Harga ini memang realtif lebih mahal dari menu masakan biasa. Karena menurutnya bahan baku nasi kebuli ini lebih mahal dari biasanya.

Nia, memang menggunakan beras basmati yang khusus untuk masakan Arab. Ia mendapatkan beras ini dari supplier di Yogyakarta. Harganya menurut Nia 3-4 kali lipat lebih mahal dari beras biasa.

“Ada supplier di Jogja, dulu ada di Bulog tapi ngga ada lagi. Ada beberapa toko yang jual. Kemasan kiloan, ada yang lima kiloan,” terangnya.

Lebih lanjut Nia mengatakan ia tidak merasa khawatir dengan harga yang relative lebih mahal daripada menu biasa ini. Meski di pasaran banyak penjual nasi kebuli yang menggunakan beras biasa dan harganya lebih murah. Namun, ia tidak masalah dengan hal itu karena segmen pasar mereka berbeda.

Kedepan, Nia berencana untuk mengembangkan menu Arab di usaha kulinernya. Dimana ia akan menjajal untuk membuat menu nasi Briyani, Mandi, dan Kebalik. Meski untuk itu menurutnya tidak mudah, karena ia sendiri harus menjajal sebanyak 3-4 kali hingga menemukan rasa yang pas. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00