Bertaruh Nyawa di Sampah Warga

KBRN, Yogyakarta : Turudi salah satu petugas kebersihan di lingkungan Terban kota Yoyakarta mengatakan pekerjaan sebagai tukan sampah sudah diguluti selama 1 tahun terakhir ini, hanya bermodalkan motor tua dengan gerobak pengangkut sampah limbah rumah tangga.

Sambil duduk diatas motor tua, Turudi  mengungkapkan setiap hari dirinya lebih awal berangkat sekitar pukul 4 dini hari dari rumah dan bekerja hingga pukul 9 pagi untuk mengumpul sampah warga dan dibuang di tempat sampah pertama.

“Ini sampah dari Terban, buangnya sini kan, karena tempat pembuangan pertama, ya tugasnya hanya nyampai disini. Dari sini nanti dibersihkan tempat sampahnya, dan lanjut dibuang di TPA Bantul sana,” tandasnya, Jumat (9/4/2021).

Selama melaksanakan pekerjaan tukang sampah, Turudi  41 tahun ini menuturkan tetap mensyukuri pekerjaan yang dilakukan ini, untuk menafkahi istri dan kedua anaknya, yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan.

Menjadi tukan sampah, karena memang tidak ada pekerjaan lain apalagi hanya bermodalkan ijasah SMP.

“Ya mau cari pekerjaan ya ngga bisa e, lulusan SMP kan ngga bisa, bisa hanya nyopir ngga ada lowongan kerja, cuman SMP to SMA sekarang kan dicari minimal SMA ya udah apa adanya kerjanya” Ungkap Turudi, dengan sedikit nada sedih.

Rasa malu, bagi Turudi, sudah tidak menjadi alasan seperti awal awal melaksanakan pekerjaan itu, kini Turudi tetap menekuni pekerjaan yang ia lakukan meskipun hina bagi orang lain, namun mulia bagi dirinya.

“Ya sudah kodradnya, gimana ya tetap disyukuri aja pa, ya gimana, ya kadang cari cari yang bisa, kalau istirahat disuruin dibuatin apa, ya tambah  pendapan keluarga,” jelasnya.

Istri Turudi pun mendukung pekerjaan suaminya, meskipun resikonya taruhan nyawa karena selain bau busuk, juga virus dan bakteri yang rawan mengganggu kesehatannya.

“Istri mendukung, saya ngga malu apa adanya, sama istri anak juga ngga malu biasa aja,” tegas Turudi dengan kepolosannya.

Dari pekerjaan yang dilakukan setiap pagi itu, Turudi pernah ditegur masyarakat karena terlambat mengambil sampah yang seharusnya segera dibuang.

“Pernah terlambat ambil sampah dimarahin dan ditanyain kenapa sampahnya sampai begini, ya saya bilang dari TPA ditutup sementara baru diratain. Ada si yang bentak saya, ya saya jawab aja,” jelasnya.

Selama pandemi Turudi tetap melakukan pekerjaannya sebagai tukan sampah, tetap menjaga protokol kesehatan dengan menggunakan maskers, dan handsanitiser yang sudah disiapkan istrinya sebelum berangkat kerja.

Mengakhiri wawancara dengan kami, Turudi mengharapkan agar sekecil apapun pekerjaan, dan rejekinya, harus tetap disyukuri. (Tns)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00