Merinding, Kantor Polisi Ini Dihuni Noni-Noni Belanda

KBRN, Sleman : Segudang cerita misteri tampaknya tidak pernah habis untuk digali. Mulai dari mitos, tempat-tempat angker sampai dengan sosok lelembut. 

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) punya banyak kisah horor yang bikin bulu kuduk merinding.

Siapa yang pernah datang ke kantor kepolisian Sektor Berbah, yang ada di Desa Teguhan, Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bangunan tua yang menghadap ke arah selatan ini, percaya atau tidak ternyata dihuni oleh Noni-Noni Belanda.

“Tempat ini cukup mistis. Ada pocong dan Genderuwo. Tapi penguasanya adalah Noni-Noni Belanda,” kata Panit Reskrim Polsek Berbah Iptu Amiruddin ditemui, Minggu (4/4/2021). 

Berdasarkan pengalaman Amiruddin, para lelembut memang belum pernah menampakan wujud mereka. Namun ia kerap mendengar suara kursi yang terseret-seret tanpa orang atau petugas yang sedang melakukan kegiatan tersebut. Kejadian itu ia temukan di waktu malam hari.

Tidak hanya itu, jendela yang berada di ruangan petugas penyidik reskrim sering terbuka dan tertutup sendiri. Mereka juga mengganggu Amiruddin ketika sedang tidur, saat piket malam. 

“Saya sering ditarik-tarik kakinya hampir mau jatuh.” ucapnya.

Pria berkulit putih ini mengaku, di bangunan yang telah dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, terdapat ruangan yang jadi markas atau rumah perkumpulan para mahluk gaib. Lokasinya di samping ruangan penyidik. 

Yaitu terdapat sebuah sumur tua masih terpakai sampai sekarang. Airnya digunakan untuk kebutuhan orang-orang yang tinggal di sana.

Area sumur tua tersebut, tampak gelap, kotor sehingga terlihat menyeramkan. Ruangan tanpa pintu ini konon tidak boleh ada penerangan atau lampu.

“Katanya kalau dipasang lampu banyak orang yang kesurupan,” ungkapnya. 

Tak hanya itu, salah satu titik horor lainnya berada di ruangan sebelah sumur. Sebuah kamar mandi kosong terbengkalai dengan pintu berwarna pink. Kamar mandi tersebut dalam keadaan terkunci, tak seorang pun boleh masuk.

Pernah suatu ketika, kamar mandi yang sudah ada sejak lama itu dibersihkan agar bisa kembali digunakan. Sayangnya para lelembut marah dan melakukan aksi balas dendam. 

“jangan dipakai dan enggak boleh dibuka nantinya banyak orang kesurupan,” ungkapnya.

Bukan hanya petugas, menurut ceritanya, para mahluk halus kerap mengganggu narapidana yang tinggal di sana. 

Takut tidak takut, suka tidak suka, Iptu Amiruddin menikmati tempat kerjanya di mana ia berdinas. Bertetangga dengan mereka (mahluk halus) bukan suatu hal yang tidak mungkin. Kini yang harus dilakukan para penghuni yaitu tidak saling mengganggu satu sama lain. 

Kantor Polsek Berbah,  pada awalnya merupakan salah satu rumah dinas ziender atau Pengawas Pabrik Gula Tanjung Tirto (Suikerfabriek Tandjong Tirto) yang didirikan tahun 1924. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini merupakan tangsi atau asrama tentara Belanda dengan Pabrik Gula Tanjung Tirto sebagai markasnya.   

Seiring dengan adanya Serangan Umum 1 Maret 1949, bangunan ini kosong dan tidak ada yang menempati sampai tahun 1957. Sehubungan dengan keluarnya Undang-Undang Pokok Pemerintah Daerah No: I / 1957 tentang pembentukan Daerah Swatantra, maka susunan Kepolisian berubah menjadi Distrik Kepolisian Yogyakarta , sedangkan Kepolisian Kecamatan diubah menjadi Sektor Kepolisian. 

Sejak tahun 1957 sampai sekarang bangunan ini digunakan untuk kantor Polisi Sektor Berbah. (evi/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00