UGM dan ASPAKI Kerjasama Produksi Alat Kesehatan Untuk Kurangi Impor

KBRN, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada dalam hal ini UGM Science Techno Park hari Rabu (25/9/2019) menandatangani nota kesepahaman dengan ASPAKI, Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia terkait pembuatan alat-alat kesehatan melalui hilirisasi riset yang dikembangkan UGM.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni DR Paripurna Sugarda mengatakan, kerjasama dengan ASPAKI dimaksudkan mendukung upaya UGM untuk memproduksi obat dan alat kesehatan sendiri agar bisa mewujudkan kemandirian bangsa dalam bidang kesehatan serta mengisi kesenjangan antara industri dan kampus.

Kerjasama mencakup bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terkait pembuatan alat-alat kesehatan. Sebab, hilirisasi riset di UGM difokuskan pada pembuatan alat kesehatan untuk substitusi impor.

“Ini sifatnya baru MOU (memorandum of Understanding atau nota kesepahaman) tetapi ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari kerjasama yang sudah dilakukan antara UGM dengan insustri. Misalnya produksi paracetamol. Paracetamol merupakan bahan obat dasar untuk memproduksi derivasi-derivasi dari obat yang asalnya dari paracetamol”, jelas Paripurna, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM.

“Yang sekarang ini kita masih impor dan itupun dikendalikan oleh negara penghasil paracetamol . Sehingga persaingan obat di negeri kita sendiri itu selalu dimenangkan oleh pihak asing”, tambah Paripurna.

Sementara itu Ade Tarya Hidayat, Ketua Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, ASPAKI menyatakan ia mengapresiasi kerjasama pembuatan alat kesehatan didalam negeri tersebut. Menurut Ade, Indonesia termasuk tertinggal dalam produksi alat kesehatan sendiri dibanding dengan negara-negara lain. Sehingga pengadaan alat kesehatan di rumah sakit masih bergantung pada produk impor.

Dikatakan, UGM Science Techno Park lebih maju jika dibandingkan dengan techno park yang ada di sejumlah perguruan tinggi lainnya di Indonesia.

“ Sejujurnya saya harus sampaikan bahwa UGM lebih maju. Meskipun tadi di slide saya lihat di UI juga ada Science Techno Park tetapi kelihatannya belum ada hasil nyata. Kalau UGM sudah ada hasil nyata. Semoga ini menjadi inspirasi untuk universitas-universitas yang lain”, kata Ade Tarya Hidayat, Ketua Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, ASPAKI.

Penandatanganan kerjasama UGM dengan ASPAKI tersebut dilakukan bersamaan dengan Industry Gathering yang diseenggarakan selama 2 hari dalam rangka pengembangan UGM Science Techno Park yang melibatkan industri alat kesehatan seperti PT Kimia Farma, Pemerintah Daerah, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemenristek Dikti. (mun/joel).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00