Perajin Tahu Kulon Progo Siasati Mahalnya Harga Kedelai

KBRN, Kulon Progo : Tingginya harga kedelai impor, menyebabkan perajin tempe dan tahu terpaksa harus 'mengencangkan ikat pinggangnya'. Salah satu cara yang terpaksa dipilih untuk menyiasati kenaikan harga kedelai adalah dengan mengecilkan ukuran.

Perajin tahu dari Pedukuhan Tigaron, Kalurahan Kulur, Kapanewon Temon, Mamik Sudiyatmo mengatakan, mengecilkan ukuran memang cara yang dipilih nya untuk menyiasati mahalnya harga kedelai yang berkepanjangan.

"Mengurangi (ukuran,-red) potongan. Jadi agak dimajukan,” ucap Mamik di rumah produksinya di Kalurahan Kulur, Selasa (5/1/2021).

Mamik menjelaskan, kenaikan harga kedelai sudah dirasakan sekitar tiga bulan terakhir. Jika biasanya harga kedelai Rp8 ribu 200 per kilogram, sekarang ini harga melonjak menjadi Rp9 ribu per kg untuk impor.

“Sekarang masih ada stok yang terakhir beli 1 ton,” kata Mamik.

Dia menambahkan, ketergantungan dengan kedelai impor memang menyulitkan. Produsen sering merasa kesulitan saat harga tidak stabil seperti sekarang ini. 

"Saya harap ada campur tangan pemerintah, seperti dengan subsidi harga kedelai," ungkap mamik.

Mamik menjelaskan, dirinya memproduksi tahu, tempe dan susu kedelai setiap hari. Di usaha turun temurun ini, ada dua anggota keluarganya yang ikut bekerja. Setiap hari, mereka memproduksi dengan sekitar 50 kilogram (kg) kedelai. 30 kg dipakai untuk membuat tempe dan tahu, dan 2 kg untuk menghasilkan susu. (hrn/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00