Jalan Tol di Yogyakarta Diyakini Pacu Pertumbuhan, Pengamat Masih Ragu

Aktivitas pembangunan Jalan Tol

KBRN, Yogyakarta : Rencana pembangunan Jalan Tol yang melintasi wilayah Yogyakarta, diyakini sebagian pihak akan membawa pertumbuhan ekonomi daerah.

Tetapi, kalangan pengamat tidak yakin bisa terwujud sepenuhnya, berpijak dari pengalaman pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo.

Saat itu, pemerintah tidak ada insiatif mengkondisikan tanah-tanah di sekitarnya, terkait rencana pembangunan aerotropolis atau kota bandara.

”Tapi kan lambat kita, malah Purworejo dan BUMN sudah membebaskan tanah tertentu untuk kawasan industri,” kata Pengamat Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Sri Susilo Wirodiharjo, saat dihubungi Rabu (21/10/2020).

Ia pun berharap, nantinya tanah-tanah di sekitar Exit Tol dibeli oleh pemerintah, untuk dijadikan semacam bank tanah. Karena ia yakin, sudah ada peta titik lokasinya.

Harapannya, tidak ada lagi investor lokal yang sulit berinvestasi, akibat terbentur tingginya harga tanah disebabkan permainan spekulan. Jika pemerintah tidak mampu membeli, bisa bekerjasama dengan pihak swasta, atau BUMN dan BUMD.

”Pemerintah harus intervensi sejak awal, di sekitar pintu keluar tol pasti akan muncul pusat pertumbuhan baru,” kata anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu.

Tetapi, dirinya mengapresiasi langkah Sultan, karena sudah bernegosiasi dengan pusat untuk menambah Exit Tol di ruas Jogja-Solo. Karena, trasenya yang melintasi Yogyakarta tidak panjang, seperti juga Tol Jogja-Bawen.

Sedangkan Pengamat Transportasi, Dharmaningtyas dalam diskusi virtual Telaah Kepentingan Pembangunan Tol di Indonesia, meragukan efektivitas infrastruktur itu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

”Kalau di Yogyakarta dibangun Jalan Tol, ya orang terus saja lewat tol dari Cilacap sampai Solo, pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta pasti lambat,” ungkap dia.

Jika kebutuhan utamanya sekedar memperlancar pergerakan orang maupun barang, sebetulnya bisa dioptimalkan jaringan rel kereta api lintas selatan yang cukup bagus, baik menuju ke Jakarta maupun ke Banyuwangi.

Bahkan saat ini, elektrifikasi KRL dari Kutoarjo sampai Solo sedang dikerjakan, termasuk manajemennya diserahkan kepada anak perusahaan PT KAI, yang dipastikan tingkat okupansinya tinggi.

Di sisi lain, jika melihat Tol Trans Jawa yang sudah terbangun, tingkat trafficnya masih rendah, kendaraan terlihat penuh hanya saat liburan saja, sehingga apa yang diharapkaan Presiden Jokowi terbukti gagal.

”Sehari-hari itu rendah, sehingga pengembalian investasinya itu akan lama, konsesinya untuk operator pasti lama, benevit yang didapat masyarakat tidak ada, kecuali polusi udara dan mungkin kecelakaan,” katanya.

Mengapa bisa rendah, karena sesuai informasi dari hasil wawancara dengan para pengemudi truk barang, tarif melewati Jalan Tol Trans Jawa sangat tinggi meski waktu tempuhnya bisa lebih cepat. Sehingga, biaya perjalanan yang dikeluarkan lebih banyak, dibandingkan jika lewat jalan biasa.

Menunggu Ganti Untung

Di tengah keraguan pengamat, soal efektivitas Jalan Tol bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta, sebagian masyarakat yang terdampak, memilih merelakan tanah mereka untuk kepentingan proyek nasional ini.

Meski hingga kini, belum ada kepastian mengenai nilai ganti untung yang akan diberikan pemerintah.

”Kami masih menunggu informasi, kapan dishare ganti untungnya, proses pembangunan tol sudah dilakukan seperti pengukuran dan pendataan,” kata Anindita, warga Temanggal, Purwomartani, Kalasan Sleman.

”Yang jelas uang ganti untung untuk membeli rumah di Maguwoharjo dekat rumah saudara, jika ada sisa uang nanti ditabung untuk hari tua, karena kami bukan PNS dan tidak dapat uang pensiun,” lanjutnya.

Dari total 130 meter persegi tanah miliknya, sekitar 90 meter harus tergusur Proyek Tol Jogja-Solo, termasuk bangunan rumah di atasnya. Karena sisanya tidak bisa dijadikan rumah, maka disertakan semuanya.

Ibu satu anak itu juga mendengar informasi, warga sekitar tol akan diberikan stand usaha pada kawasan rest area. Pengadaan makanan para tukang, juga dari warga sekitar sehingga bisa menambah pemasukan.

Sedangkan Bu Sunarni, warga Druju Krajan, Margodadi Seyegan Sleman, juga belum mengetahui nominal ganti untung, setelah sebagian sawahnya dibutuhkan untuk membangun Jalan Tol Jogja-Bawen.

”Kalau dapat uangnya, nanti untuk membeli sawah lagi, tapi berapa luas sawah yang kena tol saya belum tahu,” ungkapnya.

Sebagai petani, ia memiliki 1800 meter persegi sawah di selatan Selokan Mataram. Sekitar seribu meter merupakan warisan dari orang tua, sedangkan yang 800 meter ia beli sekitar tahun 1990-an, ketika per meternya dihargai senilai 2,5 gram emas. Saat itu, nilai satu gram emas setara Rp 25 ribu.

”Kalau nanti beli sawah, ini ada proyek tol banyak orang yang nawari tapi harganya mahal-mahal, tapi saya ndak tanya harganya biar nggak kepikiran, mikir tol sudah mumet e,” katanya sambil tertawa. (ws/yyw)  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00