Meraup Pundi Rejeki dari Kopi Merapi

Warung Kopi Merapi Sleman

KBRN, Yogyakarta : Secangkir kopi susu hangat, menemani Sinta menghabiskan waktu bersama dua teman perempuannya, yaitu Rizki dan Kinta. Pada Jumat (16/10/2020) pagi, mereka singgah ke sebuah warung kopi, berjarak 36 kilometer sebelah utara pusat Kota Yogyakarta.

Saat itu, Gunung Merapi yang biasanya menjadi latar belakang pemandangan lingkungan warung, enggan menampakkan wajahnya. Ia bersembunyi di balik mendung kelabu, yang bergelayut di atas Pedukuhan Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Hembusan udara sejuk dari lereng gunung, menerobos masuk lewat bagian bangunan yang dibiarkan terbuka. Tiga mahasiswi berkerudung itu, menjadi betah duduk lama pada kursi kayu panjang berwarna coklat, dengan sandaran belakang yang ditata saling berhadapan.

Di antara kedua kursi, terlihat sebuah meja panjang dari susunan kayu warna gelap. Pada bagian atasnya, nampak beberapa cangkir berisi kopi susu dan wedang jahe. Ada juga beberapa piring berisi aneka makanan, untuk sajian pelengkap dari minuman yang dipesan.

Pengunjung di Warung Kopi Merapi Cangkringan Sleman

Sebelum masuk ke dalam warung, ketiganya mematuhi kewajiban menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, seperti mencuci tangan, menjaga jarak saat duduk, hingga memakai masker kecuali saat makan dan minum.

Butuh waktu satu jam lebih bagi Sinta, untuk merasakan sensasi paduan kopi merapi jenis robusta dengan susu, sambil sesekali diiringi canda tawa di sela obrolan ringan. Hingga kemudian, isi cangkirnya terlihat sudah berkurang separuh lebih, meninggalkan jejak rasa yang begitu kuat di lidahnya.

”Kopinya sendiri kan pahit, ditambah susu tuh jadi berasa manis, tapi tetap ada rasa kopinya,” kata Sinta.

Bagi Rizki yang duduk di sebelah Sinta, minum kopi menjadi ritual mengasyikkan, ketika penat saat mengerjakan tugas kuliah. Apalagi, cara menikmatinya dengan datang langsung ke Warung Kopi Merapi milik Pak Sumijo. Di tempat ini, bubuk kopi direbus kemudian disajikan tanpa ampas.

Cara seduh tersebut berbeda dari kedai kopi modern pada umumnya, yang biasa menyeduh bubuk kopi menggunakan mesin espresso, maupun alat seduh manual, salah satunya V60 berbentuk kerucut.

Seorang Barista sedang menyeduh kopi

”Mahasiswi seperti saya, pasti larinya ke kopi gitu lho kalau penat saat mengerjakan tugas, tapi nggak tiap hari, soalnya ada gangguan asam lambung, kalau pas penat aja nongkrong sambil minum kopi,” ucap Rizki.

Sedangkan Kinta yang lebih banyak diam menyimak obrolan, terlihat tidak menyukai kopi. Minuman dalam cangkir yang ia pesan, berisi wedang jahe hangat yang memang cocok diminum, saat cuaca mendung dan udara terasa agak dingin.

Selain ketiga mahasiswi itu, sejumlah pengunjung juga terlihat datang silih berganti ke Warung Kopi Merapi, yang dibuka mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 21.00 malam.

Rasa Yang Khas

Tempat budidaya kopi di wilayah Sleman, berada di sekitar lereng Gunung Merapi, jaraknya tujuh kilometer ke selatan dari kawasan puncak.

Sehingga tidak heran, abu vulkanik hasil erupsi salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu, memunculkan rasa spesiality yang khas seperti tanah, dan ini menjadikan sensasi tersendiri.

Biji Kopi Merapi hasil budidaya petani di Cangkringan Sleman

Sebanyak 53 petani anggota Koperasi Kebun Makmur, menanam bibit kopi merapi secara organik, termasuk petani yang bukan anggota koperasi. Meski tidak memakai pupuk kimia, namun hasilnya tetap bagus, saat memasuki usia panen antara tiga sampai empat tahun.

”Kami ajak petani merapi budidaya kopinya dengan organik, tidak usah dipupuk masih bagus, karena kena abu vulkanik,” kata Sumijo.

Sebagai petani kopi, ia juga bercerita jika warung kopinya selama masa pandemi, rata-rata dikunjungi 28 ribu orang dalam sebulan, jauh lebih tinggi dari sebelum pandemi yang hanya 25 ribu pengunjung.

Dari informasi yang berkembang di masyarakat, kebun kopi di sekitar lereng Gunung Merapi, sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Karena sering terjadi erupsi, sangat jarang dijumpai pohon dan batang tanamannya tumbuh besar.

Upaya penanaman kembali dilakukan para petani setempat, untuk kopi robusta mulai tahun 1983 dan kopi jenis arabika mulai tahun 1992. Dari kedua jenis kopi tersebut, mayoritas yang ditanam adalah robusta.

Tiga macam roasting biji kopi

Sebagai Ketua Koperasi Kebun Makmur yang menampung hasil panen petani, sekaligus memasok ke pelanggan, Sumijo mengaku, kopi hasil budidaya petani setempat belum bisa optimal.

Ini justru terjadi ketika peluang pasar sangat besar, dengan menjamurnya jumlah coffee shop di Yogyakarta, hingga mencapai hampir dua ribu. Kondisi itu terjadi, akibat terbatasnya kapasitas produksi, setiap bulan koperasi hanya mampu menjual 500 kilogram kopi, termasuk ke warung miliknya.

Jenis robusta mendominasi penjualan hingga 400 kilogram, biji yang diroasting seberat 250 gram harganya Rp 40 ribu, sedangkan bentuk bubuk berat 250 gram Rp 30 ribu, dan 75 gram harganya Rp 10 ribu.

Untuk jenis arabika yang produksinya maksimal 100 kilogram, biji sudah diroasting harga jualnya Rp 50 ribu ukuran 250 gram. Jika dijual dalam bentuk bubuk, harganya Rp 50 ribu ukuran 250 gram, dan Rp 16 ribu ukuran 75 gram.

Biji kopi yang sudah di roasting

Pasca erupsi tahun 2010, banyak kebun kopi di wilayah Cangkringan dan sekitarnya rusak, karena terjangan awan panas. Padahal saat itu, permintaan datang dari Jakarta, Bandung, Bali, bahkan ada yang akan mengekspor.

”Saat ini kami hanya bisa mensuplay 10 persen saja, karena setiap petani rata-rata hanya punya tiga ribu meter lahan, kan masih jauh dari standar minimal yang harusnya dua hektar ,” lanjut dia.

”Dengan luas lahan sedikit itu, kami akan coba naungan pohon kopi dari pohon buah-buahan yang nilai ekonomisnya tinggi, seperti pisang, nangka dan alpukat, agar mempengaruhi cita rasa kopinya,” imbuhnya.

Sesuai data pemerintah setempat, lahan kopi merapi jenis arabika luasnya mencapai 48,60 hektar, tersebar di tiga kecamatan seperti Turi, Pakem dan Cangkringan. Tingkat produktivitasnya, mencapai 199,48 kuintal sekali panen.

Kemudian untuk lahan kopi merapi jenis robusta total luasnya mencapai 228,30 hektar, dengan tingkat produktivitas di atas 1.085,07 kuintal sekali panen.

Bahkan, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono menyebut, sebelum terjadi erupsi merapi tahun 2010, luas areal lahan kopi mencapai 800 hektar.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono

”Karena erupsi ada yang mati dan tertimbun, kemudian diperbaiki pembibitannya, sekarang kembali 200-an hektar, terutama di Turi, Pakem dan Cangkringan yang penanamannya memang intensif,” kata dia.

Meski belum menyebut data pasti, pihaknya berencana menambah luasan lahan kopi di wilayah Pakem, membantu penyediaan bibit di daerah Turgo, juga merencanakan budidaya kopi arabika di Tunggularum Turi.

Butuh Kerja Bareng

Untuk mengoptimalkan produksi kopi merapi, perlu dibentuk jejaring dari berbagai pihak. Tidak hanya melibatkan petani yang ada di sektor hulu, tetapi juga pemerintah daerah, akademisi, hingga pelaku industri kopi di sektor hilir.

Agus Prasetio sebagai kurator kopi melihat, ada tujuh tahap sebelum kopi tersaji dalam cangkir di kedai. Yang utama petani sebagai prosesor, kemudian cara pembibitan, perawatan tanaman, proses panen, roaster, barista, dan pedagang sebagai penjual.

”Harusnya disengkuyung bareng bagaimanapun kopi merapi jadi icon, mosok sih kita hanya mendengar saja, tapi belum melihat taste dan wujudnya,” ucap pemilik Coday Coffee Lab and Roastery di Banguntapan Bantul itu.

Agus Prasetio kurator kopi

Baginya, pandemi covid mengajarkan pentingnya berkolaborasi, terutama dalam hal pengembangan tanaman kopi berikut industri yang mengikuti. Ia pun yakin, para pemilik coffee shop dan kedai kopi di Yogyakarta, sangat ingin mengolah produk yang sangat ikonik tersebut.

Hanya saja memang, kondisi ini kembali ke persoalan ketersediaan barang, ada pemilik kedai yang tahu dimana mencari kopi merapi, namun ada juga yang tidak tahu. Sehingga hal tersebut perlu dibicarakan bersama.

”Karena bagi saya kopi ini kitab kehidupan, jadi diskusi aja nggak perlu marasa eksklusif, siapa saja berhak mengeksplor kopi merapi wong niatnya baik,” terang dia. (ws/yyw)    

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00