Gagal Berangkat Haji, Pembelian Oleh-Oleh Dibatalkan

Ilustrasi Oleh-Oleh Haji

KBRN, Yogyakarta : Pemerintah tahun ini membatalkan pemberangkatan Jamaah Haji ke Tanah Suci, untuk mengantisipasi paparan Covid-19.

Kebijakan tersebut, memicu pembatalan transaksi pembelian oleh-oleh haji, yang dijual pada sejumlah toko di wilayah Yogyakarta.

Manajer Toko Luthfi Sajadah di Dongkelan Bantul, Anjar Darundriya Eka Sasmita, terpaksa harus rela melepas peluang meraih omset penjualan.

Padahal, tokonya mempunyai langganan tetap, baik dari wilayah Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, hingga Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

”Kalau yang sudah memberikan uang muka namun kita kembalikan, jumlahnya mencapai 10 juta rupiah, tapi hanya tiga sampai empat pembeli” kata Anjar, Rabu (3/6/2020).

Namun toko oleh-oleh yang dikelolanya, juga menerapkan sistem pembayaran pesanan mendekati hari pengambilan barang.

”Yang lain ada juga yang belum membayar, baru sebatas milih-milih barang dulu saja,” lanjut dia.

Kondisi serupa dialami Wildan Bin Muhammad Bin Umar, Bin Ahmad, Al Basyarahil, pemilik Toko Jazirah, pusat oleh-oleh Umroh dan Haji di Kauman Yogyakarta.

Tetapi ia memastikan, tidak ada transaksi yang dibatalkan setelah pesanan dibayar. Calon pembeli baru sebatas memilih.

Beragam jenis oleh-oleh baik berupa makanan seperti kurma, kismis, air zam-zam hingga perlengkapan ibadah seperti sajadah, harga jualnya bervariasi.

Kisarannya mulai 15 ribu rupiah, tergantung paket oleh-oleh yang akan diambil, oleh pembeli yang berminat.

”Kalau orang sudah lihat barang dan sudah mau ambil tapi tidak jadi sekitar 35 persen, karena kebanyakan orang belanja itu dadakan,” ucap dia.

Sedangkan Agus Nasarudin Ahmad, pemilik Toko Nabawi di Suryodiningratan Mantrijeron, betul-betul merasakan sepinya permintaan oleh-oleh haji.

”Yang pesan cuman satu dua orang saja saat ini, tetapi itupun dibatalkan juga, kalau dibilang 90 persen transaksi anjlok ya lebih,” ungkapnya.

Padahal musim haji tahun sebelumnya, Agus mengaku, satu orang pembeli bisa memesan oleh-oleh hingga 300 box, masing-masing seharga 25 ribu rupiah.

”Sebenarnya tidak rugi karena barang tidak habis (belum diambil, red), maksudnya barang dikasihkan tapi tidak dibayar kan tidak,” pungkasnya. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00